JIKA SANTRI SUDAH MENGABDI
Suara takbir bertalu-talu menyambut hari raya Idul Adha. Pesantren Hidayatulloh hari itu sepi, tidak seperti biasanya, karena sebagian santri lebih memilih berlebaran di rumah masing-masing.
Kang Adnan, begitu teman-temannya memanggil. Adalah santri senior yang mengabdikan dirinya pada Kyai Burhan, pengasuh Pesantren Hidayatulloh.
Sejak ia kelas 1 Tsanawiyah sampai lulus perguruan tinggi, Kang Burhan tidak sekalipun pindah, selama itu pula ia sekolah, nyantri, sekaligus menjadi abdi dalem Kyai Burhan.
Setiap lebaran Idul Adha ia tidak pernah pulang seperti teman-temannya yang lain. Begitupun dengan hari raya Idul Fitri, ia hanya izin satu dua hari saja, selanjutnya ia akan sangat sibuk membantu Kyai Burhan menerima tamu-tamunya.
Idul Adha kali ini, Kang Adnan masih ditemani 5 pengurus pondok. Arya, Jamal, Ubed, Sulaiman, dan Aufa.
Kelima anak tersebut sibuk memasak sate kambing, sementara Adnan masih sibuk menimbang daging kurban yang akan dibagikan pada warga sekitar.
"Nan! Wes age ndang leren ( sudah ayo segera istirahat), daging kurban nya biar dibagikan yang lainnya. Ayo makan siang, satenya sudah siap." Teriak Arya.
"Iyo, diluk maneh (iya, sebentar lagi). Tinggal sedikit saja." Jawab Adnan.
Usai menyelesaikan pekerjaannya, Adnan segera membersihkan diri, kemudian bergabung dengan Arya dan kawan-kawannya menyantap sate buatan mereka sendiri.
Menjelang Ashar, semua kegiatan penyembelihan dan pembagian daging kurban sudah selesai. Adnan dan teman-temannya bersiap untuk sholat Ashar.
Tiba-tiba tubuh Adnan terhuyung-huyung saat akan mengambil air wudlu.
"Kamu kenapa, Nan?" Tanya Aufa yang kebetulan ada di dekat Adnan.
"Tau nih, kepalaku tiba-tiba sakit sekali, bagian belakang kepala sampai tengkuk terasa berat dan sangat nyeri."
"Kamu pasti terlalu capek, Nan."
Braakkk!!
Adnan terjatuh menimpa ember plastik yang ada di dekat tempat wudlu.
"Tolong! Tolong! Tolong, Adnan pingsan nih...."
Teriak Aufa panik.
Sulaiman dan Ubed yang mendengar teriakan itu bergegas datang.
"Nan! Ayo bangun." Kata Ubed sambil mengoleskan minyak kayu putih ke sekitar hidung Adnan.
Adnan mengerjapkan mata, mulutnya komat-kamit hendak mengucapkan sesuatu.
"Nan! awakmu arep ngomong opo? (Nan, kamu mau bicara apa)." Tanya Sulaiman. Arya dan Jamal juga sudah ikut menunggui Adnan. Kelima anak itu tampak cemas.
"Konco-koncoku kabeh, sepurane sing akeh, aku wes ga kuat." Ucap Adnan lirih.
"Ngomong opo seh awakmu, Nan!" saut Arya.
"Sa, sa sakit sekallli, ttto, tolonng tuntun a aku syah hadd haddat." Adnan mulai terlihat makin parah dan kesakitan.
Meski bingung dengan permintaan Adnan, Arya tetap menuntun Adnan membaca syahadat.
Tepat selesai mengucapkan syahadat dengan terbata-bata, Adnan menghembuskan nafas dengan cukup kuat, dan setelah itu kepalanya terkulai. Adnan telah meninggal.
Tergopoh-gopoh Kyai Burhan mendatangi Adnan beserta seorang dokter. Setelah diperiksa dengan teliti, Adnan dinyatakan telah meninggal, diduga karena tekanan darah tingginya kambuh.
Pesantren Hidayatullah menjadi ramai, berita meninggalnya Adnan segera menyebar kemana-mana. Santri-santri yang semula menikmati liburan di rumah masing-masing, banyak berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir pada Adnan.
Bergantian pelayat yang datang dari berbagai kalangan, mensholatkan jenazah Adnan. Mereka begitu berduka, sebab Adnan dikenal mereka sebagai pemuda yang sopan, tawadlu', pintar, suka menolong, ramah, dan tampan.
Prosesi pemakaman segera dimulai. Kyai Burhan memimpin langsung prosesi tersebut.
"Assalamualaikum warahmatullohi wa barokaatuh. Hadirin yang saya hormati, ananda Adnan adalah anak yang sangat baik, saya sendiri menjadi saksi perilakunya sehari-hari.
Ia beberapa kali saya tanya, kenapa lebih memilih mengabdikan hidupnya di pesantren, kenapa ia tidak segera pulang dan mencari pekerjaan setelah lulus, jawabannya membuat saya semakin mengaguminya.
Menurutnya, setelah ridlo dari orang tuanya, maka ridlo kedua yang harus diraihnya di dunia ini adalah ridlo dari guru-gurunya.
Orang tua Adnan sudah lama wafat, maka ia dengan tulus mengabdikan diri di pesantren Hidayatullah, sebagai salah satu jalan untuk menggapai ridloNya.
Semua ilmu yang ia miliki, tidak akan bermanfaat jika tiada ridlo dari guru-gurunya. Sebaliknya, meskipun sedikit ilmu yang dimilikinya, tetapi jika guru-gurunya senang dan ridlo, ilmunya akan banyak memberi manfaat kepada diri dan keluarganya.
Sebab, memang begitulah Islam mengajarkan, bagaimana akhlak ketika menimba ilmu.
Perlu saudara-saudara ketahui, sebenarnya Adnan beberapa hari yang lalu sudah pamit ke saya untuk menyelesaikan pengabdiannya di pesantren ini. Setelah Idul Adha, ia pamit pulang dan siap memikul tanggung jawab sebagai laki-laki.
Tepatnya esok hari, Adnan sebenarnya akan melangsungkan akad nikah dengan salah satu keponakan saya."
Kyai Burhan tidak mampu melanjutkan kata-kata sambutannya. Matanya berkaca-kaca. Sementara di sudut ruang tamu Kyai Burhan, seorang gadis cantik berhijab ungu, terisak-isak sambil terus berdzikir menggunakan tasbih yang ada di tangannya.
"Hadirin sekalian, mari kita do'akan ananda Adnan supaya dosa-dosanya diampuni dan semua amal baiknya di terima Alloh SWT.
Al faatihah."
Kyai Burhan kemudian mengakhiri sambutannya.
Jombang, 13 September 2019
Ini kisah nyata ya? Ya Allah memang kalau maut tuh gak ada yang tau ya.
BalasHapusFiksi, btw sdkt diangkat dr peristiwa nyata
HapusAamiin, semoga mendapat tempat terbaik di surgaNya.
BalasHapusUntuk si eneng berjilbab ungu, sabar geh.
Hu um Mom😭
HapusWah keren ceritanya. Cocok buat dimuat di koran...
BalasHapusIyakah?
HapusNuhun....
Takdir Allah nggak ada yang tahu. Semoga dikuatkan dan kita selalu berprasangka baik terhadap Allah.
BalasHapusYups
Hapus