#Tantangan pekan I
#ODOPbacth7
#Basah
#Plastik
#Macet
GOLONGAN DARAH O
Komplek perumahan Cendana gempar. Di pagi buta, seorang pemulung berteriak histeris, karena melihat mayat seorang gadis tergeletak begitu saja di dekat tempat sampah.
Mayat itu begitu mengenaskan. Tubuhnya membiru karena kehabisan darah. Dua lubang seukuran ujung jari kelingking, tampak menganga di leher mayat tersebut.
Kasak kusuk tidak terhindarkan, bahwa sedang ada teror dari siluman haus darah di komplek tersebut, karena sudah dua bulan berturut-turut, ada dua mayat ditemukan dengan kondisi yang sama. Leher berlubang dua dan kehabisan darah.
Tidak berapa lama kemudian, kepolisian dan tim dokter forensik tiba di lokasi ditemukannya mayat tadi. Warga yang kebetulan lewat ikut menyaksikan proses evakuasi jenazah. Tak urung kondisi tersebut membuat jalan di lokasi tersebut menjadi macet.
"Bagaimana, Dok? Apakah ditemukan kesamaan lagi dengan jenazah satu bulan yang lalu?" tanya Komandan Anggara kepada dokter Bramantio.
"Iya, Ndan. Kesamaannya antara lain, jenis kelamin korban, perkiraan usia, dan yang lebih khas adalah dua lubang di leher korban hingga korban kehabisan darah. Satu lagi, Ndan ... jika korban yang kedua ini nanti mempunyai golongan darah O, berarti sama persis dengan korban sebelumnya. Kita dapat memastikan nanti setelah kita cek di rumah sakit."
-----
Vina segera mengeluarkan kotak-kotak makanan dari tas plastik besar untuk ditata di meja.
Hari itu, perusahaan tempat Vina bekerja sedang berulang tahun, dengan mengadakan acara santunan dan makan bersama di panti asuhan Kasih Bunda.
Setelah semua kotak nasi tertata rapi, Vina memilih duduk di deretan kursi paling belakang.
Tamu undangan sudah mulai berdatangan, tidak sedikit dari mereka yang mencuri-curi pandang ke arah Vina.
Rambutnya yang hitam lurus, berkulit putih, wajah oval, dan bibir yang sensual, nampak sempurna di tubuhnya yang tinggi semampai.
"Kamu di sini rupanya, Vin. Dari tadi aku mencarimu." Tegur Dewi mengagetkan Vina.
"Enakan juga di sini, Dew. Anginnya sejuk dan tidak berisik."
"Ye! Kamu aja lagi, yang emang dasarnya pendiam dan nggak suka keramaian. Ayolah, sesekali kamu gabung dengan teman-teman yang lain." Ajak Dewi dengan suara cemprengnya.
Acara sudah dimulai. Pak Candra selaku pimpinan perusahaan sedang memberikan sambutan. Anak-anak penghuni panti asuhan Kasih Bunda duduk rapi di deretan kursi bagian kanan. Sedangkan tamu undangan dan karyawan perusahaan duduk di deretan kursi sebelah kiri.
Dari salah satu kursi tamu undangan, Azril, keponakan Pak Candra diam-diam mengamati Vina dari tadi. Menjelang akhir acara, Azril memberanikan diri mendekati Vina dan mengajaknya berkenalan.
Sejak perkenalannya hari itu, hubungan Vina dan Azril semakin dekat.
Perihal hubungan Vina dan Azril sudah bukan menjadi rahasia lagi. Semua teman-temannya di perusahaan tersebut memberi dukungan, tidak terkecuali Pak Candra.
Genap tiga bulan Vina dan Azril saling kenal, akhirnya keduanya melangsungkan pernikahan secara sederhana. Vina yang selama ini hanya tinggal bersama neneknya, akhirnya di boyong ke rumah Azril yang besar dan mewah.
Layaknya pengantin baru, Azril malam itu sudah mempersiapkan dirinya untuk bersama-sama mereguk indahnya malam pertama.
Perlahan tangan Azril membelai rambut panjang Vina, lalu mengecup puncak kepalanya. Sesaat kemudian kecupan hangat Azril mendarat di telinganya. Vina melenguh pelan. Berikutnya dalam sekali gerakan, bibir Azril sudah menghujani ciuman ke bibir Vina dan menyesapnya dalam-dalam. Keduanya saling pagut dengan nafas yang memburu.
"Maaf, Mas Azril, tolong hentikan dulu, aku belum siap malam ini." Tiba-tiba Vina melepaskan ciuman Azril.
"Ada apa sayang?"
"Eee, tidak ada apa-apa, Mas. Maaf aku lupa memberitahumu, kalau saat ini aku masih haid."
"Oo, kirain ada apa. Ya sudah, nggak apa-apa kok, Mas mengerti, besok kalau sudah bersih, janji ya, kita akan bermain untuk beberapa ronde."
"Ih, Mas Azril. Kalau gitu Vina izin tidur bersama nenek dulu ya."
"Baiklah, tapi nanti begitu sudah selesai haidnya, Vina harus segera kasi tahu Mas, ya!"
"Siap, Tuan!" ucap Vina sambil mencium pipi suaminya yang harus bersabar dulu untuk malam itu.
Begitu keluar kamar, diam-diam Vina menerobos keluar rumah. saat itu bulan purnama sedang penuh menerangi jagad raya.
Dalam keremangan, nampak sosok hitam tinggi besar sedang mengendap-ngendap menuju suatu rumah, tubuh tinggi besar itu dipenuhi dengan bulu-bulu. Matanya merah dan seringai mulutnya menampakkan dua gigi taring yang besar dan kuat.
-----
"Vin, sayangku, bangun. Di dekat rumah kita warga ramai sekali."
"Ada apa sih, Mas ... pagi-pagi gini sudah bangunin aku." Vina menggeliat manja sambil mengucek matanya.
"Ada mayat lagi ditemukan di depan rumah Pak Jayus, rumah kedua dari sebelah kiri rumah kita"
"Apa?!"
Vina berteriak kaget. Tubuhnya tiba-tiba menggigil ketakutan, keringat dingin bercucuran membuat tubuhnya basah.
"Tenang sayang, polisi sudah bertindak, semoga segera dapat ditemukan pelakunya." Bujuk Azril menenangkan Vina. Setelah kejadian itu, Vina menjadi pemurung.
----
"Selamat siang, Pak Azril!" sapa seorang polisi di kantor Azril.
"Selamat siang juga, ada yang bisa saya bantu, Pak?" jawab Azril bingung.
"Begini, Pak. Ada yang perlu kami bicarakan mengenai istri bapak. Sebagaimana yang terjadi dan heboh akhir-akhir ini, yaitu tentang penemuan mayat di komplek perumahan Pak Azril."
"Apa hubungannya penemuan mayat dengan istri saya?" Suara Azril sedikit meninggi.
"Selain tempat ditemukannya mayat yang ketiga ini dekat dengan rumah bapak, kami juga menemukan satu sandal slop warna biru bergambar sailormoon, menurut para tetangga itu adalah sandalnya Bu Vina, isteri bapak."
Brakk!!
Azril menggebrak mejanya.
"Apakah hanya gara-gara sandal, polisi menuduh isteri saya pelakunya!" Teriak Azril marah.
"Bukan begitu, Pak. Tugas kami hanya menyelidiki segala macam kemungkinan. Begini saja, tolong tanyakan kepada isteri bapak tentang pasangan sandal yang kami temukan. Satu hal lagi, sewaktu malam kejadian, dimana posisi istri Pak Azril. Jika Bapak sudah menemukan informasinya, tolong segera beritahu kami."
Azril tidak menjawab permintaan polisi tersebut, dan membiarkannya pergi.
Dengan segenap gundah dan tanya, Azril melangkah gontai memasuki rumahnya. Pikirannya sangat kacau, sebab ia ingat ketika malam kejadian ditemukannya mayat pada pagi harinya, Vina tidak tidur bersamanya. Ia pamit tidur bersama neneknya, lalu mengapa Vina harus dicurigai.
Sesampainya di rumah, Azril melihat Vina sedang pulas tidur siang di kamarnya.
Kemudian Azril tergerak untuk mencari sandal Vina yang di duga hilang sebelah, karena tertinggal di dekat tempat penemuan mayat.
Pandangan Azril tertuju di sudut kamar tepat di bawah meja hias. Ada sandal Vina di sana, cuma satu sisi saja tanpa pasangannya.
Azril segera mengambil sandal itu. Tanpa diduga, di balik meja hias, menempel pada dinding, terdapat baju tidur Vina.
Dipungutnya baju tersebut pelan-pelan. Baju tidur itu rupanya sudah robek di sana-sini.
Yang lebih membuat Azril terkejut adalah, banyak bulu-bulu hitam menempel pada baju tersebut.
Tangan Azril gemetar, keringat sebesar biji jagung mulai menetes dari pelipisnya, wajahnya menjadi basah oleh keringat. Ia tidak sanggup membayangkan kemungkinan hal buruk yang akan terjadi. Selanjutnya Azril berjalan menuju kamar neneknya Vina.
----
"Nenek sudah menduga, cepat atau lambat, hal ini pasti akan Nak Azril ketahui." Ucap Nek Gayatri sedih.
"Vina adalah cucu nenek satu-satunya. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak Vina masih kelas 5 SD karena kecelakaan.
Petaka ini mulai terjadi ketika sekitar satu tahun yang lalu, Vina diajak camping di alas Purwo Banyuwangi.
Sepulang dari camping itu, Vina sering mimpi buruk didatangi gorila raksasa. Tidak itu saja, ternyata gorila raksasa itu juga merasuki tubuh Vina setiap malam purnama. Yang membuat nenek sedih, ketika gorila itu merasuki tubuh Vina, ia selalu minta minum darah yang bergolongan O, sama dengan jenis golongan darahnya Vina."
Nenek Gayatri menangis terisak.
"Jadi ... kasak-kusuk warga tentang siluman haus darah itu benar?" tanya Azril tidak percaya.
"Benar, Nak. Siluman yang haus darah itu tidak lain gorila raksasa yang merasuki tubuh Vina." Nenek Gayatri makin terisak.
"Jika demikian, kita harus mencari solusinya, Nek. Aku tidak akan membiarkan hal ini selamanya terjadi pada istriku, Vina."
"Iya, Nak. Semoga Alloh segera memberi kita jalan keluar."
Azril segera beranjak dari kamar Nek Gayatri. Tanpa kembali ke kamarnya, ia keluar dan memacu mobilnya menuju pesantren Al Falah, ia akan menemui Kyai Yusuf.
----
"Maafkan Vina, Mas. Ini bukan kehendakku. Akupun sangat tersiksa dengan keadaan ini." Vina menangis dalam pelukan Azril.
"Iya, Sayang. Mas mengerti. setelah Mas mengetahui apa yang terjadi denganmu dari Nek Gayatri, Mas menemui Kyai Yusuf.
Menurut beliau, siluman gorila itu bisa dibuang dari tubuhmu dengan cara kamu harus di ruqyah di alas Purwo, tempat kamu camping bersama teman-temanmu dulu."
"Aku pasrah, Mas. Lakukanlah apapun yang dapat membebaskanku dari cengkraman iblis jahat ini."
----
Sore hari menjelang malam purnama, Azril, Vina, Nenek Gayatri dan Kyai Yusuf sudah bersiap di salah satu gubuk alas Purwo.
Malam sudah mulai turun, lebatnya pepohonan di alas Purwo menjadikan suasana semakin mencekam. Sinar purnama yang menerobos pucuk-pucuk daun, membuat tudung-tudung pohon seolah rambut raksasa yang terurai.
Suara binatang malam turut melengkapi aura mistis yang terasa sejak tadi. Tiba-tiba angin panas berhembus, membuat bulu kuduk siapapun meremang.
"Kita mulai sekarang. Vina, segera pakai mukenamu! Azril dan Nek Gayatri berjaga-jaga sambil memegangi Vina, jangan lupa nanti terus baca Ayat Qursy." Perintah Kyai Yusuf.
Surat Al Fatihah mulai dibaca Kyai Yusuf, dilanjutkan dengan awal surat Al Baqoroh dan surat-surat ruqyah yang lain.
Tiba-tiba tubuh Vina bergetar hebat dan mengejang.
"Hahahahaha! Aku menyukai tubuh ini, mengapa kalian mengusirku?!" terdengar suara serak dan besar membahana dari mulut Vina.
"Hai, Iblis! Keluarlah, tempatmu tidak di sini. Jika kamu tidak mau keluar baik-baik, maka ayat-ayat Alloh akan membakarmu." Ucap Kyai Yusuf tegas.
"Aku tidak takut!"
Mendengar kesombongan makhluk tersebut, Kyai Yusuf membaca lagi ayat-ayat ruqyah dengan lebih keras.
Tubuh Vina menggelepar. Ia berusaha mencakar apapun yang di dekatnya. Dari mulutnya terdengar suara mengaum berkali-kali. Azril dan Nek Gayatri terus memegangi tangan Vina dengan erat sambil terus membaca ayat Qursy.
"Hoek! Hoek! Hoek...."
Vina memuntahkan sesuatu dari mulutnya, tidak lama kemudian tubuh Vina lemas terkulai. Lalu Kyai Yusuf menyiram tubuh Vina dengan air yang sudah ia bacakan do'a hingga basah kuyup, terakhir Vina diwudlukan.
Menjelang subuh, Kyai Yusuf menyelesaikan do'a-do'anya. Vina nampak sudah sehat kembali. Sebelum waktu subuh habis, rombongan kecil itu harus sudah sampai ke masjid yang terdekat untuk menunaikan sholat subuh.
"Vin, besok malam, kita harus menuntaskan malam pertama kita yang tertunda, Mas mau 10 ronde." Bisik Azril pada Vina.
Vina hanya membalas permintaan Azril dengan cubitan sayang di pinggangnya.
Pinter buat cerpen y bu .. πππ
BalasHapusAh, ngga juga. Masih belajar kqπ
HapusSelalu suka dengan karya Kakak satu ini. Keren
BalasHapusMakasih, akupun menyukai tulisan² mb
HapusKarya Kak Anis selalu cetarr ππ
BalasHapusWaduh, serupa petir dunk...πππ
Hapusserem, tapi seru....
BalasHapusGado² ya?π
HapusBagus ceritanya..
BalasHapusTengkyuuuuππ
HapusTdk rekomended untuk jomblowan ππ rawan menyebabkan oleng Bu π π
BalasHapusAnggap saja itu bagian utk motivasi spy segera bermetamorfosis mjd 'DNA'. ππ
HapusBagus banget cerpennya Bu, serem tapi bikin penasaran. Alhamdulillah Vina nya sembuh dari kerasukan gorila raksaasa yaa..
BalasHapusSaya ngayalnyab cerita itu pake jurus mabuk.ππ
Hapus