Langsung ke konten utama

FAJAR DI LERENG MERAPI

FAJAR DI LERENG MERAPI

"Apakah yang kamu rasakan, ketika tengah malam terbangun lalu melihat sosok perempuan tua memakai mukena, sedang duduk di atas kayu belandar rumah?"

-----

Akhir pekan ini aku ingin menghabiskan waktu di rumah Eyang putri di desa Pentingsari, sebuah desa di lereng gunung merapi, berjarak sekitar 22,5 km dari pusat kota Yogyakarta.

Desa Pentingsari masih sangat alami. Pertanian, perkebunan, adat istiadat, dan budayanya masih sangat kental, bahkan masih banyak hal-hal mistis yang dapat  dirasakan di desa tersebut.

Eyang Putriku tinggal sebatangkara di rumah joglo peninggalan Eyang Kakung. Kedua anak Eyang semuanya tinggal di luar kota Yogyakarta. Ibuku sebagai anak kedua tinggal di Malang, karena ayah bertugas di sana.

Aku satu-satunya cucu Eyang yang paling sering mengunjunginya, karena kebetulan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

Menjelang maghrib, aku tiba di rumah Eyang. Dari kejauhan rumah tersebut nampak sedikit menyeramkan, apalagi lampu masih belum dinyalakan seperti ini.

Rumah Eyang terletak agak terpisah dengan rumah penduduk yang lain, di bagian depan terdapat ruang terbuka dilengkapi kursi-kursi kuno dari kayu.

Di belakang ruang tamu terbuka, adalah ruang keluarga dan beberapa kamar. Bagian atas menampakkan kayu-kayu belandar dari jati, yang menopang kuat langit-langit rumah dan genting. Meski di era yang sudah modern ini,  Eyang tetap mempertahankan model rumah joglo tanpa plafon.

"Assalamualaikum."
Hening.
"Assalamualaikum."
Masih tidak ada jawaban. Mungkin Eyang masih sholat maghrib. Aku menekan saklar lampu.

Tiba-tiba Eyang sudah ada di sampingku. Segera kucium tangannya dengan takdzim. Dingin sekali tangannya. Mungkin pengaruh udara dingin yang menggigit di desa ini.

"Eyang lupa ya, tadi lampu depan belum dinyalakan?"

Eyang hanya mengangguk saja.

"Ran! kamu mesti capek dan lapar, sana segera cuci tangan dan kaki, njur ndang maem. Eyangmu mau wes nyepakne iwak asin, botok lamtoro, lan sayur asem senenganmu." Ucap Eyang putri sambil menuntun tanganku.

"Eyang kok pirso, kalau Rani mau datang?"

"Eyangmu iki wes tenger, wes kroso nang ati, kalau cucuku yang paling cantik arep teko." Eyang nampak lucu menjawab pertanyaanku.

Setelah membersihkan diri, aku segera membuka tudung saji di meja makan. Masakan Eyang sangat menggugah selera. Aku menikmati makan malam sederhana bersama Eyang sambil sesekali menceritakan kegiatan di kampus. Eyang lebih banyak diam, mungkin capek, pikirku.

Tidak terasa malam sudah semakin larut, kami menyudahi obrolan dan masuk ke kamar masing-masing.

Angin malam yang menerobos melalui celah dinding, membuat tubuhku menggigil, dingin sekali. Malam terasa mencekam, tidak seperti biasanya. Meski badanku capek, tapi entah ... mataku sulit terpejam.

Prang!
Suara serupa besi jatuh menimpa lantai kamar tempatku beristirahat, aku melihat ke arah sumber suara. Sebuah pedang panjang yang sudah agak berkarat  rupanya terjatuh dari tempatnya diletakkan.

Dalam remang, aku dapat mengenali kalau pedang panjang itu peninggalan Eyang Kakung, konon menurut Eyang Putri, pedang itu sudah banyak membunuh belanda sewaktu terjadi serangan 1 Maret di Yogyakarta.

"Hah!?"
Aku menjerit tertahan, samar aku melihat ada genangan darah di dekat pedang tersebut.  Kuucek mata berkali-kali untuk meyakinkan penglihatanku. Ternyata memang ada darah di dekat pedang itu.

Keringat dingin mulai membasahi tubuh, aku takut sekali. Nalarku sudah tidak bisa berfikir normal. Dengan berjinjit, pelan-pelan aku turun dari tempat tidur  ingin membangunkan Eyang Putri.

Di luar kamar yang aku tempati, suasana lebih mencekam. Udara gunung yang semakin menggigit dan suara burung gagak membuat tengkukku meremang. Saklar listrik kutekan, ternyata pemadaman. Hanya sedikit cahaya bulan yang menerobos celah rumah tua Eyang, menjadi satu-satunya sumber cahaya.

Ingin aku segera berteriak memanggil Eyang yang mungkin tertidur pulas di kamarnya. Tapi nuraniku melarang, kasihan pada renta tubuhnya yang semakin sepuh.

Sambil terus berjingkat, aku melangkah ke kamar Eyang dan akan mengetuk pintu kamarnya dengan pelan.

Wush....! Suara angin melewati atas kepalaku. Spontan wajahku menengadah. Betapa terkejutnya aku, ketika melihat seorang perempuan tua memakai mukena sedang duduk di atas kayu belandar.

"Eyaaang!" teriakku  dalam ketakutan.

Tiba-tiba Eyang sudah ada di dekatku.

"Cucuku, Rani! awakmu ora usah wedi, semua yang kamu lihat tadi adalah khodam yang sekarang menempati pedang Eyang Kakungmu. Khodam itu masuk karena pedang itu sudah tidak ada yang merawat dan menggunakan lagi.

Rani! Eyang njaluk tulung, omah iki ramuten. Ora usah diapak-apakne, ben asli ngene wae. Ben iso nggo warisan budaya kanggo cucu lan cicitku. Siji maneh, manungso iku urip sesandingan karo makhluk liyo, dadi ojo dumeh, selama mereka tidak mengganggu kita, kita juga tidak boleh mengganggu mereka."

Aku hanya bengong mendengar kata-kata Eyang. Aneh. Sementara malam mulai beranjak pergi dan subuh menjelang datang. Eyang pamit balik ke kamarnya.

Aku yang masih bingung memahami keadaan, dikejutkan dengan suara mobil dan ramai orang-orang dari luar.

Lampu kembali menyala. Aku segera menghambur ke luar.

"Kamu Rani, kan? Cucunya Eyang Fatimah?" tanya seorang bapak yang berusia sekitar 50 tahun.

"Betul. Maaf, Bapak siapa dan ada apa ini?" tanyaku semakin bingung.

"Saya ketua RT di sini. Kemarin siang, kami menemukan Eyang Fatimah pingsan di halaman rumahnya, karena tidak segera sadar, kami membawanya ke rumah sakit. Sayangnya kami tidak bisa menghubungi Nak Rani atau keluarga yang lain, karena kami tidak mempunyai nomor telpon kalian.

Nak Rani, yang tabah ya... Eyangmu sudah tidak tertolong lagi, jenazah beliau sekarang ada di mobil itu."

"Apa? Saya tidak salah dengar kan ini? Lalu, yang semalam menyiapkan makan malam  dan tadi memberi nasehat kepada saya siapa?"

"Apa yang Nak Rani bilang? jelas-jelas Eyang Fatimah sekarang sudah wafat."

Pak RT dan beberapa warga yang hadir saling pandang kebingungan.

Aku tidak peduli lagi pada mereka dan apa yang terjadi semalaman. Segera aku berlari menuju mobil pick up yang membawa jenazah Eyang Putri. Air mata tak lagi mampu kubendung mengalir di pipi. Selama ini, Eyang Putri selalu sabar mendengar cerita-ceritaku.

Ah, Eyang...aku belum siap kau tinggalkan. Mataku semakin gelap karena embun yang semakin menebal dan mencair. Selamat jalan Eyang, semoga Alloh menerima semua amal baikmu, dan mengampuni dosa-dosanya.

Kertosono, 10 September 2019

Komentar

  1. Bacaku kok yo pas malam to, haduh. Serem, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih...ga serem kq, msh lbh serem tantangan ODOP 2 bln ke depan. Yakan?

      Hapus
  2. Ini Merapi, saya Marapi, Ka🤭🤣

    BalasHapus
  3. Ini cerita asli atau fiksi mbak? 😭

    BalasHapus
  4. Suka deh kalo baca yg serem2 gni 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyeek, dpt teman sesama suka genre horor. Sy sngt suka genre horor, detektif, dan thriller

      Hapus
  5. agak curiga sih pas tangan eyang kok dingin dan juga sama pesan eyang, eh ternyata bener eyang sudah meninggal. bagus mba ceritanya :)

    BalasHapus
  6. udah cocok jadi cerpen media. Merinding aku bacanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...