ELENA
Pertama, telan 1 tablet mifepristone. 24 jam kemudian, letakkan 4 tablet misoprostol di bawah lidah, diamkan kurang lebih 30 menit sampai tablet luruh. Setelah itu akan terjadi pendarahan, jika belum terjadi pendarahan atau pendarahan masih sedikit, silahkan diulangi lagi sampai janin benar-benar gugur.
Deg!
Aku sungguh tak mampu berkata-kata untuk sesaat. Pesan whatsapp dari salah satu siswa yang HP nya kena razia siang ini, berisi panduan untuk aborsi.
"Alloh ... apa yang terjadi dengan generasi muda saat ini, beri aku petunjuk dan jalan keluar untuk membimbing anak didikku."
-----
"Nduk, tolong jujur sama Ibu, siapa yang menghamilimu? Kenapa kamu aborsi?" tanyaku pada Elena.
Elena hanya menangis. Bahunya sampai berguncang-guncang. Aku membiarkannya terlebih dahulu sampai ia tenang.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bisa menjaga diri saya, tolong hal ini jangan disampaikan kepada Mama saya."
"Uuft ...."
Aku menghembuskan nafas dengan kuat, dada ini begitu sesak menemukan kasus ini. Sebagai guru BK, aku harus membantu menemukan solusi yang terbaik untuk semuanya.
"Elena! Ibu tidak mungkin merahasiakan ini pada Mamamu. Apa yang telah kamu lakukan ini dosa besar, tidak saja perzinahan dan aborsi yang kamu lakukan, tapi kamu juga berdosa pada orang tuamu karena telah menyia-nyiakan kepercayaanya kepadamu.
Elena tidak mau kan, jika di kehidupan yang akan datang kamu tidak bahagia?"
Elena mengangguk lemah.
"Karena itu, Nduk ... kamu harus berterus terang tentang hal ini, dan meminta maaf juga kepada mereka. Dengan demikian, mudah-mudahan ada solusi terbaiknya."
"Bu! Boleh saya jujur untuk satu hal lagi?" tanya Elena dengan tatapan yang nanar kepadaku.
"Silahkan, El."
"Tolong HP saya yang disita Ibu kembalikan ke saya sebentar." Pinta Elena lirih. Dengan ragu HP itu kuberikan padanya.
Elena sibuk membuka galeri fotonya, setelah beberapa saat, ia berhenti pada sebuah gambar, dan menunjukkan padaku.
"Apa ini, El? Bayi merah siapa ini?" tanyaku bingung.
Pandangan Elena kosong, tampak bulir-bulir bening mulai jatuh di pipinya yang putih bersih.
"Bu, itu adalah bayi saya. Sebelumnya, saya juga pernah aborsi, waktu itu kehamilan saya sudah berusia hampir tujuh bulan, jadi ketika saya minum obat aborsi, bayi itu tidak bisa hancur, melainkan sempat lahir lalu meninggal di luar." Suara Elena bergetar, tangannya memilin-milin ujung bajunya.
"Apa?! Astaghfirulloh ...."
Aku benar-benar syok mendengar cerita Elena. Nafasku kembang kempis menahan segenap perasaan yang entah apa namanya. Aku ingin marah atas perbuatannya, tapi kurasa percuma. Di sisi lain, aku juga seorang ibu, yang tentunya bisa merasakan hancurnya hati dan impian seorang ibu yang mendapati keadaan anaknya seperti ini.
Aku meraih tubuh Elena. Ku dekap ia dalam pelukanku. Untuk sesaat kami saling menangis dengan perasaan masing-masing. Ruang BK ini menjadi saksi pengakuan Elena pagi ini.
"Bu! Saya memang sudah rusak, saya sungguh menyesal dan ingin menjadi anak yang baik lagi." Ucap Elena sambil melepaskan pelukanku.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa seperti ini?"
"Awalnya, saya mengenal Mas Angga ketika di warnet, ia mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya. Mas Angga ini sangat perhatian dan pintar. Tugas-tugas sekolah saya banyak dibantunya.
Sehari-hari, Mama selalu sibuk dengan pekerjaannya, begitupun dengan Papa. Bahkan Papa juga selingkuh. Mama dan Papa seringkali bertengkar ketika di rumah.
Karena itulah, saya tidak betah di rumah, saya haus kasih sayang orang tua. Ketika kondisi saya seperti itu, sosok Mas Angga seolah menjadi oase tersendiri bagi saya.
Begitulah yang terjadi, saking dekatnya, kami seperti pasangan suami isteri. Saat kehamilan yang pertama, kami panik. Melalui teman Mas Angga, akhirnya kami dikenalkan pada penjual obat aborsi.
Makanya, saya sering tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Tapi sebenarnya saya hamil dan melakukan aborsi. Begitupun dengan kehamilan yang kedua ini, saya aborsi lagi.
Saya sungguh putus asa dengan masa depan, toh Mama dan Papa juga tidak pernah peduli dengan saya, bahkan ketika sakitpun cuma diberi uang untuk ke dokter sendiri. Jadi, saya pasrah saja dan menikmati kasih sayang Mas Angga."
Aku melihat ada sorot marah pada Elena ketika menyebut orang tuanya. Hatiku benar-benar ikut terluka mendengar cerita Elena.
"Baiklah, El. Demi kebaikan semua, besok Ibu akan memanggil kedua orang tuamu ke sekolah, terimakasih atas kejujuranmu."
"Terserah, Ibu. Elena pasrah."
Kami berdua berpelukan kembali.
-----
"Begini, Pak dan Bu Warsito. Elena putri panjenengan kemarin HP nya kami sita, karena ia memainkan HP nya ketika sedang berlangsung pembelajaran.
Lebih dari itu, ada beberapa hal yang harus Bapak dan Ibu ketahui tentang Elena.
Selanjutnya aku menceritakan semua yang terjadi pada Elena.
Bu Warsito menangis tersedu-sedu. Sementara Pak Warsito hanya diam menunduk.
"Maaf, Pak ... Bu. Kejadian ini tidak sepenuhnya kesalahan Elena. Anak SMA seusia Elena memang masa remaja yang mestinya mendapat perhatian, kasih sayang, dan teladan yang baik dari orang tuanya. Ketika hal itu tidak didapat, maka rentan sekali mencari perhatian pada sosok orang lain, terlebih pada anak gadis."
"Iya, Bu. Ini kesalahan saya. Sebagai ayah, saya gagal melindunginya dan sibuk dengan kesenangan saya sendiri."
Tiba-tiba, Pak Warsito meraih tangan istrinya. Ia menangis dan meminta maaf pada Bu Warsito.
Melihat keduanya saling menyesali perbuatannya dan saling memaafkan, tak urung mataku ikut basah. Terharu atas jalan unik Alloh menyadarkan kekeliruan hamba-hambaNya.
"Syukurlah, Bapak dan Ibu akhirnya bisa memahami bagaimana seharusnya peran orang tua. Setelah ini, tolong maafkan dan rangkul Elena dengan perhatian dan kasih sayang panjenengan.
Akan tetapi, dengan berat hati saya harus katakan, bahwa Elena harus dipindahkan sekolahnya, sebab peraturan di sekolah ini melarang siswanya berbuat zina.
Saya akan membantu mencarikan untuk sekolah Elena yang tepat."
"Iya, Bu. Kami dapat memahami ini." Jawab orangtua Elena bersamaan.
Kemudian aku memanggil Elena di kelasnya untuk dipertemukan dengan orang tuanya.
Ruang BK yang sejuk, tiba-tiba pecah dengan tangis Elena dan kedua orang tuanya.
Aku berjalan ke sudut lain dari ruangan itu dan menghempaskan tubuhku pada sofa kecil berwarna coklat. Di sofa inilah, aku selalu merenungi setiap kejadian pada siswa yang kutangani.
Pelajaran yang bisa diambil dari kasusnya Elena adalah peran orang tua pada anaknya, tidak saja hanya mencukupi kebutuhan dzahirnya saja. Tetapi hendaknya juga memberi kasih sayang, mampu menjadi sahabat dan teladan yang baik.
Kututup buku diary kesayanganku, setelah menuliskan sebuah catatan. "Peluklah anak-anakmu dengan kasih sayang, wahai ayah-bunda. Agar kelak di masa senjamu kau juga dipeluk dengan hangat dan bahagia oleh anak-anakmu."
Kertosono, 11 September 2019
Sangat menyentuh jadi terharu. Ya banyak orang tua yang menganggap anak yang sudah besar tidak perlu perhatian lagi padahal kita yang sudah tua pun perlu perhatian dan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya.
BalasHapusIya bund. Aku suka ikut nangis dengerin curhatan teman dan lht kejadian² spt itu, byk di sekitar kt
HapusWatu masih SMP, ada tmn yg tb2 pindah. Ternyata kasusnya sama dg Elena π£... Peran ortu itu sgt penting ....
BalasHapusBegitulah....
HapusSampai tak mampu berkata. Kasus remaja saat ini banyak dan beragam, dan sedikit sekali yg ketahuan
BalasHapusKemajuan IT yg tdk berbanding dg peningkatan akhlak
HapusYa Allah sedih banget, bagaimanapun tanggungjawab orang tua memang bukan sebatas memenuhi kebutuhan semata, lebih dari itu 'kehadiran' mereka sangat penting untuk anak2.
BalasHapusSenantiasa bertema hororπππ
BalasHapusKalau yg ini mah, horor yg kebangetan. Naudzubillah
Hapus