DAHSYATNYA LIKUIFAKSI -3
Part-3
Dengan masih menggunakan pakaian seadanya, Bu Elok dan keluarganya berjalan melewati puing-puing yang berserakan. Sesekali mereka melihat mayat-mayat yang bergelimpangan penuh lumpur.
Ketika berpapasan dengan orang lain, Bu Elok berusaha bertanya tentang kemungkinan mereka melihat Bian. Tapi tak satupun ada yang melihatnya.
Air mata Bu Elok, Pak Rahmat, dan Kakek-nenek Bian sudah kering, tidak mampu mengalir lagi, mereka tidak sanggup membayangkan bagaimana Bian sendirian menghadapi kedahsyatan alam yang murka, mereka juga tidak tahu, setelah ini akan melanjutkan hidup di mana dan bagaimana. Rumah, kebun, dan desanya telah hancur akibat gempa dan likuifaksi.
Pak Rahmat terus menyemangati keluarganya, karena Alloh pasti tidak akan membiarkan hamba-hamba yang masih percaya kepadaNya.
Setelah beberapa kilo meter mereka berjalan tanpa tujuan yang jelas, tiba-tiba Pak Rahmat melihat sebuah lemari baju tergeletak di area persawahan yang hancur.
Lemari tersebut dalam keadaan terkunci, dengan sebongkah batu, pintu lemari itu dibuka dengan paksa oleh Pak Rahmat, demi mencari baju yang layak untuk menutup aurat diri dan keluarganya.
Pintu lemari berhasil dibuka, rupanya pemilik lemari itu adalah seorang laki-laki, sebab baju-baju yang ada di dalamnya hanya kaos, kemeja, dan tiga celana panjang.
Pak Rahmat, Bu Elok dan ayahnya segera memakai celana dan kaos dari almari tersebut.
"Ibuku bagaimana ini, Pak? celananya sudah habis, harus memakai yang mana agar auratnya tidak terlihat?" tanya Bu Elok.
"Terpaksa Ibu harus menggunakan kaos yang besar itu untuk dijadikan rok, nanti atasannya bisa hem batik itu." Pak Rahmat menjelaskan.
"Nggak salah, Pak? Masa Ibu harus memakai kaos untuk rok, kan lucu?" protes Bu Elok.
"Terus mau bagaimana lagi, adanya cuma itu. Untuk sementara nggak apa-apa, yang penting Ibu sudah tidak hanya memakai celana dalam saja. Nggak usah memikirkan penilaian orang lain, semua akan maklum dan pasti akan sibuk dengan nasibnya masing-masing."
"Semoga begitu ya, Pak."
-----
Perjalanan keluarga Pak Rahmat sampai di sebuah kecamatan yang tidak terlalu mengalami dampak gempa dan likuifaksi, beberapa tenda darurat sudah didirikan warga secara swadaya.
Saat itu bantuan dari pemerintah belum tiba. Korban gempa dan likuifaksi yang selamat, saling bahu membahu untuk bertahan hidup.
Di salah satu tenda, Pak Rahmat dan keluarganya berhenti, ia butuh air minum, terlebih untuk Angga yang mulai lemas karena kelaparan dan dehidrasi.
"Rahmat! Elok! Syukurlah kalian selamat ...."
Teriak Pak Masykur, tetangga mereka.
Melihat Pak Masykur, Pak Rahmat menghambur dan memeluknya. Tangis haru pecah di antara mereka.
"Anak dan istrimu bagaimana, selamat juga kan?" tanya Pak Rahmat.
Pak Masykur dengan lunglai melepas pelukan Pak Rahmat, wajahnya menunduk dalam-dalam seolah sedang menghitung dengan cermat jumlah butiran tanah yang dipijaknya. Bulir bening kembali terjatuh dari pipinya.
"Anak dan istriku tidak ada yang selamat, mereka semua hanyut beserta rumahku, aku bisa selamat karena saat terjadi gempa, aku sedang di musholla."
"Kamu harus kuat, semoga anak dan istrimu juga selamat, jikapun mereka tidak tertolong, semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya."
"Aamiin, terimakasih ya, Mat."
"Iya, sama-sama. Sebenarnya aku juga sedih, anakku Bian juga hilang." Kali ini ganti Pak Rahmat dan Bu Elok yang menunduk sedih.
"Oh, ya! Bian ... aku ingat. Tadi sebelum aku ke sini, diperjalanan aku bertemu Mbok Nah. Dia bercerita kalau anaknya selamat dan sekarang di rawat di rumah sakit karena kakinya patah. Di rumah sakit Mbok Nah katanya melihat Bian beserta anak-anak lain yang terpisah dari orang tuanya."
"Benarkah?" teriak Pak Rahmat dan Bu Elok hampir bersamaan.
----
Rumah sakit Budi Asih sangat ramai, lalu lalang orang dengan berbagai kondisi. Lorong-lorong rumah sakit penuh dengan pasien, begitupu dengan halaman rumah sakit.
Sebagian besar pasien yang datang dengan kondisi luka-luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Di halaman rumah sakit sebelah kanan, nampak berjejer mayat yang ditutupi kain seadanya.
Pak Rahmat dan Bu Elok yang menggendong Angga, sibuk melihat ke sana kemari mencari Bian. Pada salah satu bangsal berukuran cukup besar, puluhan anak-anak sedang beristirahat di sana.
Dengan bergegas Pak Rahmat dan Bu Elok menuju bangsal tersebut.
"Biaaann!!"
Teriak Bu Elok sambil berlari.
Mendengar teriakan memanggil namanya, Bian yang sedang duduk dengan memeluk lututnya di salah satu sudut bangsal, sontak mengangkat wajahnya.
"Ibuuuu! Bapaaak!
Bian menghambur ke pelukan orang tuanya.
Bu Elok dan Pak Rahmat menciumi Bian dengan bercucuran air mata. Air mata penuh syukur karena semua anggota keluarganya masih diberi keselamatan oleh Alloh.
End....
Inspired by: Gempa dan likuifaksi Palu Sulawesi Tengah, 24 September 2018.
Keren ceritanya .. Semangat
BalasHapusTengkyuuu
HapusAlhamdulillah, happy ending 😊
BalasHapusSenyum dunk....haha
HapusCeritanya keren kak
BalasHapusTengkyuuuu
HapusPerjuangan yg hebat
BalasHapusSehebat perkuangan kita di ODOP. Eaaaaa!!!
Hapusperistiwa itu :(
BalasHapusEndinf vahagia
BalasHapusBahagia akhirnya keluarha bisa bersatu kembali akibat likuifaksi
BalasHapusSemangat terus ya mba, kerenn mba
BalasHapus