DAHSYATNYA LIKUIFAKSI
Part-2
Di malam yang gelap dan dingin, Bu Elok dan keluarganya berjuang mati-matian bertahan di atas pohon mangga dan bonggol pisang yang roboh agar tidak terbenam pada lumpur.
Akan tetapi, pohon mangga itu mulai ikut terbenam karena tidak mampu menahan beban berat badan 4 orang dewasa dan 1 bayi.
"Sekarang tolong semuanya melepaskan baju luar yang kalian pakai, sebab baju tersebut akan menambah berat karena terkena lumpur!" perintah Pak Rahmat.
"Mana mungkin, Pak. Aurat kami bagaimana?" Bu Elok bingung menanggapi saran suaminya.
"Ini darurat, Bu. Alloh maha tahu tentang keadaan kita, ini satu-satunya ikhtiar yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan diri."
Akhirnya, Bu Elok melepas gamisnya, tinggal kaos dan rok dalam yang tersisa. Begitupun dengan kedua orang tuanya. Adapun Pak Rahmat sengaja masih menyisakan sarungnya untuk membalut tubuh Angga.
Setelah berjuang berjam-jam di atas pohon mangga, atas izinNya pohon tersebut berhenti bergerak pada tanah yang masih belum menjadi lumpur. Bu Elok dan keluarganya perlahan-lahan turun dari atas pohon dan beristirahat di sebuah tanah lapang.
Angga yang diam saja selama dipanggul ayahnya saat berjibaku di dalam lumpur, sekarang ia mulai rewel. Baju yang basah oleh lumpur membuatnya kedinginan. Bu Elok hanya mampu mendekap sambil memberi ASI yang tidak begitu banyak keluar, sebab mereka semua belum sempat ada yang makan sebelum peristiwa itu terjadi.
Semua hanya diam, rasa takut, bingung, dingin, dan kelaparan, menyergap mereka. Dalam gelap dan kondisi seperti itu, yang mampu dilakukan hanya berdoa.
Tiba-tiba Bu Elok menangis.
"Pak, Bian dimana ya? Apakah ia selamat? Bian pasti ketakutan sendirian, kelaparan, dan kedinginan. Huu ... uuu ... uuu."
Tangis Bu Elok pecah, bahunya sampai berguncang-guncang. Tangis seorang ibu yang sangat cemas, karena anaknya terpisah dalam situasi yang sangat mengerikan.
"Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Bian. Berdoa, hanya itu satu-satunya yang bisa kita lakukan, pasrah ya, Bu. Semoga anak kita diberi keselamatan oleh Alloh."
Malam itu, tidak ada yang bisa tidur kecuali si kecil Angga, tubuhnya sedikit hangat setelah diselimuti sarung bapaknya, jadilah Pak Rahmat hanya mengenakan celana kolor saja.
----
Matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur. Pemandangan yang mengerikan terpampang sejauh mata memandang. Jalan-jalan beraspal remuk seperti kerupuk raksasa yang diremas. Sebagian menggelembung, sebagian pecah, dan sebagian yang lain berlubang besar.
Rumah-rumah dan bangunan hampir seluruhnya rata menjadi tanah berlumpur kering. Bahkan beberapa lahan berpindah jauh dari tempat asalnya. Retakan-retakan bumi nampak di sana-sini. Mayat-mayat bergelimpangan terbalut lumpur, banyak juga mayat yang hanya kelihatan sebagian saja tubuhnya, karena sebagian tubuh yang lain terjepit bumi.
Melihat semua itu, Bu Elok dan keluarganya saling pandang, antara bersyukur karena masih selamat, dan bingung karena mereka tidak tahu sedang berada di mana saat ini. Satu patok batas desa yang masih tertanam di tempatnya memberi petunjuk, bahwa mereka telah jauh dari rumahnya, sebuah kecamatan yang terletak beberapa puluh kilometer dari kecamatan Jono Oge.
Mereka tidak habis pikir, gempa yang berlangsung hanya sekitar 10 menit dengan kekuatan 7,4 SR dan diikuti likuifaksi, mampu meluluhlantakkan beberapa kabupaten di Palu Sulawesi tengah.
Tangis Angga yang terbangun dari tidurnya, menyadarkan kebingungan dan kondisi mereka saat ini, ternyata wajah dan seluruh tubuh masing-masing penuh lumpur yang sudah mengering, dan menyisakan bagian mata saja.
Demikian juga Si kecil Angga, hanya bagian matanya yang tidak tertutup lumpur. Melihat itu, yang teringat oleh Bu Elok adalah bagaimana seekor kucing ketika membersihkan tubuh anak-anaknya. Sebab tidak ada air bersih sama sekali di sekitar tempat tersebut.
Dengan pelan, Bu Elok dan Pak Rahmat, mulai menjilati bagian demi bagian tubuh Angga dengan lidahnya. Berangsur tubuh Angga mulai kelihatan bersih, tetapi Bu Elok dan Pak Rahmat merasakan mulutnya mulai kering dan rasa haus yang sangat.
Setelah tubuh Angga bersih, Bu Elok dan keluarganya beranjak dari tempat itu untuk mencari bantuan. Mereka sudah tidak peduli jika tubuhnya sudah tidak tertutup sempurna, beberapa orang yang ditemui di jalan, juga sibuk memikirkan dirinya sendiri, sehingga lupa memikirkan orang lain.
"Ya Alloh, beginikah gambaran di padang mahsyar nanti? Semua orang sibuk memikirkan nasibnya sendiri-sendiri, sehingga tidak sempat memikirkan malu, meskipun dalam keadaan telanjang." ratap Nek Ijah, Ibunya Bu Elok.
Bersambung....
😔
BalasHapusButuh pelukan?😀
HapusBiannya belum ketemu hiks
BalasHapusBelum
HapusBian msh berjuang hdp sendiri atau entah....
BalasHapusEpisode sebelumnya belom baca, maaf keun...
BalasHapusHehe, gpp
HapusSaliiim
Ya Allah tidak bisa membayangkan,
BalasHapusTdk bs dibayangkan, aq sj nangis mendengar cerita dr saksi peristiwa itu
Hapus