Langsung ke konten utama

DAHSYATNYA LIKUIFAKSI-1

      DAHSYATNYA LIKUIFAKSI
                      (Part 1)

Sore itu Bian sedang asik menonton acara Upin Ipin kesukaannya di televisi ditemani oleh neneknya. Angga, si adik yang baru berusia 2 bulan sedang di gendong sang  kakek. Sementara Ibunya masih mandi, dan ayah Bian baru datang dari sawah.

Tidak ada yang aneh hari itu, seperti sore-sore sebelumnya. Tiba-tiba ketika Bu Elok baru keluar dari kamar mandi, gempa dengan kekuatan besar mengguncang desa Jono Oge Palu Sulawesi Tengah, beberapa menit sebelum waktu maghrib tiba.

Kakek Bian panik, lalu menyerahkan Angga yang masih bayi pada ibunya. Bumi tidak saja berguncang hebat, tetapi juga bergulung- gulung seperti tikar besar yang dikebaskan.

Tidak berapa lama kemudian listrik juga padam, gelap mulai merayap karena malam mulai menurunkan jubah kegelapannya.

Bian dan Angga menangis ketakutan, begitupun Pak Rahmat, Bu Elok, dan kakek nenek Bian berteriak histeris sambil melafalkan asma Alloh.

Dalam gelap, keluarga kecil itu segera berusaha keluar rumah. Karena benda- benda di dalam rumah sudah mulai berjatuhan,

Kipas angin terlempar sejauh beberapa meter. Almari, televisi, piring-piring di rak dapur dan benda-benda lainnya juga berjatuhan menghadirkan suara yang gemerontang.

Meski jarak antara ruang tengah dan pintu keluar tidak begitu jauh, tetapi sulit sekali untuk mencapainya. Gerakan tanah yang bergulung dengan hebat, membuat siapapun yang berada di atasnya akan jatuh bangun.

Jerit ketakutan dan kepanikan terdengar saut menyaut baik di keluarga Bu Elok maupun tetangga-tetangganya. Suasana begitu mencekam dan mengerikan. Semua orang yang mengalami dahsyatnya gempa itu, merasa kalau inilah awal kiamat.

Setelah jatuh bangun berusaha keluar rumah, semua keluarga Bu Elok berhasil keluar dan selamat dari reruntuhan benda-benda, dinding dan atap rumah.

Akan tetapi, di luar dugaan, Bian yang baru berumur 2 tahun dan sangat ketakutan, lari sekencang-kencangnya meninggalkan keluarganya. Ia tidak menyadari kalau upayanya menyelamatkan diri malah dengan menjauh dari ayah, ibu dan kakek neneknya.

Bu Elok panik dan mencoba berteriak memanggil Bian. Akan tetapi Bian berlari dan terus berlari dalam gelap.

Selain gempa, tanah di daerah Jono Oge sebagian besar mendadak menjadi lumpur dan bergerak, membawa rumah, sawah, bangunan-bangunan, dan apapun yang ada diatasnya.

Kakek Bian yang berusaha mengejar, tiba-tiba terjatuh dan separuh badannya tenggelam pada tanah yang dipijaknya. Bu Elok berteriak histeris, ia yang masih kebingungan karena Bian hilang, sekarang harus melihat ayahnya tenggelam di dalam lumpur, tepat di depan matanya.

"Sudah, Bu. Saat ini kita tidak punya banyak waktu untuk memahami dan meratapi apa yang terjadi. Sebab apapun yang terjadi pasti adalah kehendak Alloh. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan diri,  memohon pertolongan dan keselamatan kepada Alloh." Pak Rahmat mencoba menenangkan Bu Elok.

Bu Elok pasrah, dengan berat hati dan bercucuran air mata, ia menurut pada ucapan suaminya.

Dengan hati-hati, Pak Rahmat yang tadi hanya sempat mengenakan sarung, menggandeng Bu Elok dan ibunya, Angga nampak ketakutan dalam dekapan Bu Elok.

Gempa sudah berhenti, tetapi tanah sudah berubah menjadi lautan lumpur yang dapat menghisap tubuh manusia.

Pak Rahmat dan keluarganya, dengan sekuat tenaga berusaha untuk terus mempertahankan kepalanya supaya tidak tenggelam pada lumpur.

Beruntung di dekat mereka, ada  pohon mangga yang tumbang. Pak Rahmat segera menarik Bu Elok yang memanggul Angga,  naik di atas pohon mangga dan diikuti oleh ibunya.

Pada jarak sekitar 5 meter dari mereka, samar-samar terlihat ada tangan yang menggapai-gapai penuh lumpur, dan berteriak-teriak meminta pertolongan.

Ternyata orang tersebut adalah ayahnya Bu Elok yang tadi sudah tenggelam di dalam lumpur, entah mendapat bonggol pisang dari mana, Ayahnya Bu Elok berhasil menyelamatkan diri dan pelan-pelan menuju ke arah  keluarganya yang berkumpul di atas pohon mangga.

Bagaimana dengan Bian yang hilang?
Apakah keluarga Bu Elok akhirnya bisa selamat?

Bersambung....

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...