TEROR NINJA DI TAPAL KUDA
(Part-1)
"Teman-teman, bagi peserta LKMP (Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Pertanian) putra, secara bergilir harus ikut berjaga bersama warga di pos ronda, dan batas desa pada malam hari. Sedangkan peserta putri tetap di rumah pos masing-masing dan harap selalu waspada. Jangan lupa ID card dan jas almamater jangan pernah lepas jika akan keluar dari rumah pos."
Dengan tegas, Budi si ketua Senat Mahasiswa memberi arahan kepada kami, di hari pertama aku dan beberapa mahasiswa pertanian dari kampusku memulai kegiatan LKMP di desa Kasembon Malang.
Suasana desa yang biasanya sejuk dan nyaman, sejak munculnya issue para ninja, menjadi sangat mencekam. Sore hari semua aktifitas warga harus berhenti, termasuk kegiatan kami. Jam malam diberlakukan, beberapa penduduk yang laki-laki nampak berjaga-jaga di setiap ujung jalan dan pos ronda.
Udara dingin khas pegunungan, tidak mampu mendinginkan ketegangan kami, aku dan teman-teman tidur secara bergerombol, bahkan kami tidak berani ke kamar mandi.
Hari pertama kami melalui kegiatan dengan baik, meski ada rasa takut pada diri masing-masing. Tetapi pada hari kedua, ketegangan semakin memuncak.
Salah satu rumah warga yang dikenal sebagai guru ngaji, pada pintunya terdapat tanda lingkaran merah yang bertuliskan angka 472. Entah apa maksud angka itu. Tetapi warga faham, bahwa tanda itu menunjukkan bahwa penghuni di rumah yang bertanda merah itu menjadi target sasaran para ninja.
Demi keamanan, Pak Lurah mengintruksikan kepada kami untuk menghentikan kegiatan LKMP sebelum jam 16:00.
Maghrib baru saja berlalu, semua warga meningkatkan kewaspadaan pada pos jaga masing-masing. Aku dan teman-teman putri hanya meringkuk di kamar, tidak berani menyalakan televisi dan aktifitas kecil lainnya. Suasana begitu tegang dan mencekam.
Allohu akbar! Allohu akbar! Allohu akbar!
Tiba-tiba terdengar suara takbir bersahut-sahutan dari warga yang berjaga di ujung jalan.
"Kejaaar!! ... bayangan itu lari ke arah hutan pinus, ayo cepat!" teriak warga yang lain.
Mendengar itu aku dan teman-teman saling bertatapan, jantungku berdegup kencang, keringat dingin bercucuran, dengan sedikit keberanian, aku mencoba mengintip dari balik gorden. Nampak beberapa obor yang kebat-kebit tertiup angin, dibawa berlari warga sambil mengacung-acungkan tongkat.
Sesaat kemudian suasana kembali hening. Suara warga yang berlarian seolah lenyap di balik hutan pinus di sebelah utara desa.
Esok harinya, kami dikumpulkan oleh Pak Lurah, karena situasi semakin tidak kondusif, kegiatan kami terpaksa harus diakhiri, dan diharuskan segera kembali ke kampus
-----
"An! liburan semester ini jangan pulang, jangan juga kemana-mana ya ...." suara ibuku di telpon dengan nada gelisah.
"Memangnya kenapa, Bu? Aku sudah kangen rumah, di sini aku juga ketakutan, teror ninja sudah sampai ke Malang," rengekku.
"Situasi di sini lebih tidak aman, Kyai-kyai dan guru ngaji menjadi incaran. Korban sudah mulai berjatuhan. Pokoknya kamu jangan pulang, Malang lebih aman untuk saat ini, kita saling mendo'akan ya, Nak."
Klik.
Telpon dari ibuku dimatikan. Aku merebahkan diri di kamar kosan. Gambaran mengerikan tentang situasi keamanan yang diwartakan beberapa koran, tak urung membuatku takut dan cemas.
------
Setiap hari ada saja berita di koran dan televisi tentang korban yang tewas dibunuh. Betul kata ibuku, di Banyuwangi benar-benar chaos. Hampir tiap hari ada dua orang yang ditemukan meninggal dengan kondisi tragis. Ada yang mayatnya digantung, ada yang kepalanya dipenggal, dan ada yang dipatahkan beberapa tulangnya.
Ironisnya lagi, para korban itu adalah para kyai, guru ngaji, dan tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Sudah tiga hari aku tidak bisa menghubungi ibu lewat telpon. Aku gelisah, takut, dan khawatir akan keselamatan keluargaku, khususnya bapak di Banyuwangi. Bapakku adalah seorang guru ngaji dan juga tokoh masyarakat di sana.
Aku tidak habis pikir, mengapa para ninja itu memburu dan membunuh orang yang diisukan sebagi dukun santet, tapi pada kenyataannya yang dibunuh adalah para kyai, guru ngaji, dan tokoh masyarakat.
"Ana! Tunggu ...."
Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Fajar teman sekampus sekaligus tetanggaku di Banyuwangi, berlari-lari mendekatiku.
"Huuh ... huuh ... huuuh .... aku mendengar kabar tentang bapakmu, An." Fajar berbicara dengan nafas ngos-ngosan begitu tiba di dekatku.
"Apa kamu bilang?!"
"Aku kemarin sempat pulang ke Banyuwangi, berita di koran itu benar, bahkan lebih ngeri dari kenyataannya, tepat tadi pagi sebelum aku kembali ke Malang, ada kabar kalau rumah bapakmu, pada pintunya ditemukan tanda lingkaran merah."
Deg!
Aku terhenyak, mulut serasa terkunci, hanya debar jantung yang ketakutan terdengar keras.
"Bapak ... bapakku, mengapa harus bapakku yang mereka incar?" aku menangis, tubuhku lunglai.
Fajar segera memapahku dan mencari tempat duduk di salah satu gazebo kampus.
"Aku bisa memahami kecemasanmu, tapi kamu harus tenang, sejak ditemukannya tanda itu tadi pagi, rumah orang tuamu dijaga ketat oleh para santri dan warga, insyaalloh semua akan selamat dan baik-baik saja. Kita berdoa pada Alloh, memohon keselamatannya," hibur Fajar.
Akalku bisa menerima saran Fajar, tetapi aku tidak bisa memungkiri bahwa tetap saja ada rasa takut dan khawatir terhadap keselamatan bapak dan keluargaku.
"Ya Alloh, lindungilah bapak dan keluargaku, mereka semua orang baik, aku mohon ya Alloh, selamatkanlah mereka." Bulir bening mengalir di pipi, seolah ikut mengamini doaku.
Bersambung....
Selalu buat penasaran ni mbaknya
BalasHapusHe he..maksih sdh ikut penasaran
BalasHapusJejak.
BalasHapusAlhamdulillah, dikunjungi sang master. Tengkyu kerso pinarak...
HapusWaktu rame2 isu ninja, meski masih kecil, aq ingat ketegangannya😶
BalasHapusNgeri kan?
HapusIkut tegang..
BalasHapusMinum dulu...hehe
HapusBaca sekilas kejadian nya seolah olah baru kemarin ...mirip dengan dijember
BalasHapusMemang satu rangkaian cerita yg akn sy up di sini. Insyaalloh. Btw, kq tau jember, panjengn dr jbr ta?
HapusDitunggu seri berikutnya dinda
BalasHapusPart 2 sdh up, monggo dipirsani,he he
HapusLanjut kak
BalasHapusPart 2 sdh Up nggih...
HapusJejak kasus...
BalasHapusMaturnuwun cikgu, pun kerso pinarak mriki
HapusWooow ninja. Hihi keren kak. tetap semangat
BalasHapusWow kerasa tegangnya, aku juga punya sekelumit cerita tentang ninja itu, saat itu aku masih duduk di bangku MTS, kapan2 aku tulis ah...hehe..keknya seru
BalasHapus