#30harimenulis2019_hari_28
#No:15
#Wordcount:696
#Tema bebas
TUMBAL DI RUMAH TUA
Sudah hampir satu tahun aku tidak pulang ke rumah sejak masuk ke pesantren, hanya Emak dan Kang Faisal yang menempati rumah peninggalan bapak. Sebuah rumah tua di pinggir sungai Stail Banyuwangi.
Jarak rumahku dengan rumah yang lain cukup jauh, di batasi dengan rerumpunan pohon bambu. Sumber penerangan di desaku hanya dari mesin diesel yang dikelola warga secara swadaya. Untuk menghemat solar, listrik hanya akan dinyalakan jam 6 sore sampai jam 12 malam.
Malam ini mataku belum juga terpejam, padahal badanku sangat letih setelah menempuh perjalanan panjang dari Yogyakarta ke Banyuwangi, setelah hampir satu tahun aku tidak pulang. Malam semakin larut. Suara binatang malam menambah suasana semakin mencekam.
Karena tidak bisa tidur, aku duduk dan menyandarkan kepalaku pada dinding di tepi ranjang.
Saat wajahku melihat ke atas, tiba-tiba terlihat olehku sosok hitam dan tinggi besar sedang duduk di kayu penyangga atap rumah.
Sesaat tubuhku seolah mati, tidak bisa bergerak dan berteriak.
Bum!
Suara berdebum keras sekali ketika sosok tersebut tiba-tiba melompat turun.
Sampai di bawah, sosok hitam itu semakin lama semakin tinggi dan besar, bahkan tingginya hampir menyentuh atap rumah.
Perlahan-lahan sosok tinggi besar tersebut mendekat kearahku. Dalam hati aku terus berdzikir semampuku, bulir-bulir keringat mulai berjatuhan, aku belum mampu bergerak dan berteriak.
Tidak lama kemudian, sosok itu sangat dekat denganku.
"Bismillaahirrohmaanirrohiim, Allohu akbar!"
Bhuugk!
Sekuat tenaga aku berteriak mengucap basmallah dan berusaha menendangkan kakiku ke arah sosok tersebut.
Pyaarr....
Sosok itu hancur berkeping-keping menurut penglihatanku. Dengan sisa rasa takut aku menyusul ke kamar Kang Faisal.
----
"Fahri!" Teriak Emak esok paginya.
"Iya, Mak, ada apa?"
"Coba lihat, kenapa kayu di tepi ranjangmu itu hancur dan berantakan?" Tanya Emak kebingungan. Aku kaget dan juga bingung melihatnya, tapi kemudian teringat kejadian semalam.
"Mak, semalam Fahri tidur di kamar Kang Faisal. Fahri tidak bisa tidur di kamar ini." Kemudian aku menceritakan pada Emak apa yang kualami semalam.
"Oh...begitu."
"Lha, kok cuma oh, Mak. Itu kan serem."
"Ngene lo, Le. Omah warisan bapakmu iki biyen olehe tuku, ora mbangun dewe, terus kabare pancen ono tumbale, cuma Emak gak weruh tumbale iku nang ngendi ndelehe." (Gini lo, Le. Rumah warisan bapakmu dulu dari membeli, tidak membangun sendiri, katanya memang ada tumbalnya, hanya saja Emak tidak tahu dimana tumbal itu diletakkan).
Aku manggut-manggut mendengarkan penjelasan Emak.
----
"Fahri, di rumah Kyai Taslim ada tamu dari Lirboyo Kediri. Tamunya itu katanya ahli kalau urusan membersihkan tumbal dan sejenisnya." Kata Kang Faisal.
"Kalau gitu ngga ada salahnya kita minta tolong pada beliau.
Esok malamnya, tamu Kyai Taslim yang bernama Kyai Wafdan ke rumahku dengan membawa pisau kecil.
Pisau tersebut ia letakkan di atas punggung tangannya. Sambil berjalan menyisiri rumah, pisau tersebut bergerak-gerak ke suatu arah. Berarti di situlah tumbal tersebut kemungkinan ditanam.
Sampai di depan kamar Bapak dulu, pisau tersebut berhenti bergerak kemudian terjatuh. Menurut Kyai Wafdan di tempat jatuhnya pisau itulah tumbal yang puluhan tahun ada di rumah ini dan tidak terawat, ditanam.
Kyai Wafdan memerintahkan kepadaku dan Kang Faisal untuk menggali tanah di tempat jatuhnya pisau.
Sudah sekitar satu meter aku dan Kang Faisal menggali, tetapi Kyai Wafdan masih memerintahkan menggali terus.
Sekarang lubang galian sudah mencapai kedalaman sekitar dua meter, dengan diameter sekitar 30 cm. Kyai Wafdan menyuruh kami berhenti menggali. Kemudian memerintahkan untuk segera membuang tanah galian ke sungai Stail, secepatnya. Sebelum subuh tiba.
Dengan segera aku dan Kang Faisal segera mengangkut tanah galian dan membuang ke sungai. Pukul 2 dini hari kami selesai melakukan pekerjaan ini.
Besok paginya, tetanggaku yang rumahnya di sekitar sungai heboh. Semalaman mereka katanya tidak bisa tidur, sebab mendengar suara ramai orang menangis dan menjerit-jerit dari sungai Stail. Suara-suara itu baru berhenti menjelang subuh.
Sejak saat itu, tidak ada lagi cerita-cerita aneh di rumahku, dan saatnya aku kembali ke pesantren.
Sepanjang perjalanan kembali ke Yogyakarta, aku jadi ingat cerita Emak. Beberapa tetanggaku melihat rumah kami seperti lautan, kadang seperti hutan, dan pernah juga terlihat ada harimau besar di depan rumah.
Penampakan-penampakan itu akan muncul jika ada orang yang berniat tidak baik ke rumah kami, begitulah cerita Emak tentang rumah tua warisan ayahku.
Mataku terasa berat, akupun segera tertidur di atas kereta api Banyuwangi-Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar