#30harimenulis2019_hari_29
#No:15
#wordcount:1386
#Tema: The missing things
"Tuliskan mengenai sesuatu yang pernah hilang dan tak tergantikan dari hidup anda."
THE FIRST LOVE
"Sekarang catat untuk tugas besok!
Caping yang dihias kertas merah putih, kalung dari untaian kacang panjang yang dipotong 2 cm dan di bagian tengah diberi bandul satu buah terong, serta rompi dari kresek berwarna hitam putih!"
Teriak kakak mahasiswa senior memberi tugas OSPEK hari kedua besok.
Aku malas mencatat tugas-tugas itu, sudah terbayang betapa ribet mencari bahan-bahan dan membuatnya. "Ah, mengapa harus ada OSPEK sih." Gerutuku.
"Hai! Kamu yang duduk paling belakang dan yang paling kecil itu, kenapa malah melamun?"
Aku menengok kanan kiri.
"Iya kamu yang lagi tengak tengok itu." Suara kakak senior semakin lantang.
"Sini! Kamu maju, dikasi tugas bukannya malah dicatat tapi malah melamun."
Aku diam saja, ingin sekali kutabok itu mulutnya supaya ga asal ngomong kepadaku.
Teeeeeet... bel panjang menyelamatkanku dari hukuman kakak senior.
-----
Hari-hari pertama kuliah di fakultas pertanian aku jalani dengan hati yang masih galau. Sebab bukan di fakultas ini yang kuidam-idamkan, aku sangat bermimpi dapat diterima di Fakultas Kedokteran.
Karena gagal dalam seleksi PMDK (semacam SNMPTN saat ini), maka aku akhirnya pasrah terhadap pilihan ibuku, Fakultas Pertanian.
"Ning, kenapa sih sukanya menyendiri?" Tanya Kak Farhan yang tiba-tiba muncul di sampingku.
"Ah, Kak Farhan mengagetkan saja. Aku sedang berfikir apakah mampu menyelesaikan di fakultas ini, sementara ini bukan pilihanku."
"Pasti bisa, boleh saja manusia itu punya rencana, tapi ingat, Alloh yang maha menentukan.
Percayalah, adanya kamu di fakultas pertanian ini pasti karena campur tanganNya, dan itu bisa melalui apa saja, seperti kamu tidak lolos seleksi PMDK, pilihan ibumu, dan lain-lain. Mengapa itu terjadi? Karena Alloh sudah menyiapkan yang terbaik untukmu melalui fakultas ini.
Sekarang jalani saja takdirmu, kamu menangis darahpun tidak akan mengubah keadaan, yang penting sekarang dimana kamu ditanam, di situ kamu harus tumbuh dan berkembang."
Kata-kata Kak Farhan sangat menyentuh hati dan pikiranku, diam-diam aku mulai merasa kagum dan nyaman bersamanya.
----
"Nisa! Besok ikut yuk acara hunting anggrek liar di coban Rais." Mei dengan semangat mengajakku kegiatan ekstra jurusan budidaya yang dipimpin Pak Agus.
"Iya, ngga usah heboh gitu kenapa sih, aku sudah tau Mei yang cerewet." Kulemparkan pulpen ke arah badannya.
"Masa sih, emang siapa yang ngasi tahu kamu?"
"Kak Farhan, dia yang mengajakku."
"Cie...so sweet." Mei tersenyum menggodaku.
----
Perjalanan menuju coban Rais sungguh menantang, naik turun bukit, menyusuri sungai yang mengering, dan akhirnya sampailah di sebuah hutan pinus.
Selama perjalanan aku selalu bersama Kak Farhan, setiap aku terlihat lelah, ia mengajakku istirahat sebentar. Jika sedang melewati tanjakan, Kak Farhan mengulurkan tangannya menggandengku, meski capek ekspedisi ini, tapi aku menjalani dengan suka cita bersama Kak Farhan.
Malam sudah mulai menunjukkan pekatnya, sebelum terlalu gelap, tim ekspedisi yang terdiri dari 10 orang segera mendirikan tenda. Satu tenda untuk peserta putri dan satu tenda untuk peserta putra.
Suasana malam di hutan pinus sekitar coban Rais sangat dingin. Karena masih belum terlalu malam, kami keluar tenda, Kak Farhan dibantu Kak Jo menyalakan perapian untuk menghangatkan badan.
Kak Jo yang mahir memainkan gitar, mulai memetik senar-senar gitarnya. Lagu the radio's-Teardrops ia mainkan.
Something in the word you neversaid
Makes me feel i ain't seen nothing yet
Catch me now i'm falling
Hear the angels calling
Calling somewhere deep inside my head
Close encounters of a different kind
Open up the past that's sealed and signed
Many hearts get broken
When words are left unspoken
Leaving nothing but a worried mind
We could float like teardrops on the ocean
We could flow like water to the sea
It may sound unclever, we'd last forever
If you want to stay with me
If you want to stay with me
Lagu itu aku nyanyikan bersama Kak Farhan dengan saling memandang penuh makna. Malam mulai larut, akhirnya kami harus tidur di tenda masing-masing, besok kami harus melanjutkan ekspedisi mencari sampel anggrek liar.
----
Delapan semester tidak terasa aku lalui dengan penuh semangat, Kak Farhan banyak mengambil peran dalam mendampingi perkuliahanku. Karena perhatian dan saran-sarannya aku tidak hanya bisa lulus tepat waktu, tapi aku juga dapat meraih nilai cumlaude.
Selama 4 tahun, banyak sekali kenangan manis antara aku dan Kak Farhan. Di ruang praktikum, di laboratorium, di kegiatan-kegiatan fakultas, dan lain-lain, kami selalu bersama-sama.
-----
Sore itu, tiada hujan tiada angin. Petir menyambar hatiku. Tanpa meminta persetujuanku, Ayahku menerima lamaran laki-laki bernama Raka. Anak dari teman karibnya.
"Ayah, tolong. Jangan paksa aku untuk menjadi istri Raka. Aku tidak mengenalnya sebelum ini, bahkan aku tidak mencintainya. Aku sudah mempunyai pilihan hatiku sendiri." Tangisku pecah menghiba.
"Tidak, Nisa. Ayah sudah menerima lamarannya, tidak mungkin dikembalikan lagi. Raka itu anak yang baik, dari keluarga terhormat, Ayah sudah lama berteman dengan ayahnya Raka."
"Nisa tetap tidak mau Ayah. Hati Nisa tetap untuk Kak Farhan."
"Dengar, Nis! Jika kamu tidak menerima lamaran Raka, itu sama saja dengan kamu mencoreng muka ayah kandungmu." Suara ayah meninggi.
"Tapi, Yah...Aku tidak mencintainya!" Tangisku semakin menjadi.
"Sekarang silahkan memilih, Farhan atau ayahmu. Jika kamu tetap memilih Farhan, berarti kamu juga memilih bukan lagi menjadi anaknya ayah."
Deg!
Pilihan yang diberikan ayah terlalu kejam. Aku berlari ke kamar. Semua air mata ini kutumpahkan. Jika tidak ingat dosa, aku sungguh ingin mengakhiri hidupku saat itu.
----
Satu bulan pasca pernikahanku dengan Raka, sifat aslinya mulai kelihatan. Raka yang manja dan anak mama, sering tidak bisa mengambil peran sebagai imam yang baik. Bahkan uang yang diberikan kepadaku berasal dari ayahnya.
Raka juga sering keluar malam, menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Jika aku tegur maka tamparan dan bentakan harus aku terima.
Sejauh ini, aku masih berusaha bersabar dan selalu berdo'a agar Raka berubah menjadi baik. Aku masih berusaha tersenyum dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa pada keluarga kami.
Suatu hari, Handphone Raka ketinggalan, saat ia terburu-buru pergi.
Tut, tut, tut....
Gawai Raka berbunyi. Nampak di layarnya seorang perempuan cantik yang cukup tebal riasan wajahnya.
Hatiku bergetar, aku ragu-ragu antara mau mengangkat telpon atau mengabaikannya.
Telpon itu berhenti.
Ping...
Tidak lama kemudian ada pesan masuk.
Dari Naila.
[Sayangku kemana saja, sudah dua hari kok tidak ke rumah, kangen tau]
Aku gemetar membaca pesan itu.
Dari luar terdengar suara mobil Raka memasuki halaman, menyadarkan aku dari keterkejutanku membaca pesan di HP nya.
"Kamu melihat HP ku Nis?" Tanya nya panik.
"Itu di meja, siapa Naila?"
Mendengar pertanyaanku, air muka Raka langsung memerah.
"Dia sahabat kuliahku dulu."
"Hanya sebatas sahabat?"
"Jangan turut campur urusanku, dia sahabatku, titik!"
"Kalau cuma sahabat, mengapa dia memanggilmu sayang, dan rupanya kalian selama ini sering bersama bukan?"
Plak!
"Lancang kamu! Mengapa berani-beraninya membuka HP ku?"
Aku mengaduh, sebisa mungkin air mata ini kutahan. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan Raka.
"Oke, Nisa. Karena kamu sudah tahu, sekarang aku katakan sejujurnya. Naila itu kekasihku. Aku nyaman bersama dia dari pada bersamamu."
Setelah mengatakan itu, Raka pergi begitu saja tanpa memperdulikan aku yang diam tak mampu berkata-kata.
-----
" Ning, Nisa! Ini ada undangan pernikahan, tadi pak pos yang ngantar." Bik Inah menyerahkan undangan pernikahan berwarna ungu lavender.
"Oh, iya Bik. Maturnuwun."
Kubuka Undangan itu
Mengharap kehadiran bapak/ibu/sahabat atas pernikahan kami:
Muhammad Farhan bin Ubaidillah dan Zahra binti Sohwan
Undangan itu jatuh dari peganganku. Sendi-sendi tubuhku lemas. Air mata serta merta menganak sungai di pipiku.
"Farhan, akhirnya kamu menemukan penggantiku. Asal kamu tahu Farhan, hatiku tak pernah berubah untukmu, aku masih selalu mencintaimu. Aku tidak bahagia dengan Raka, dia tidak memperlakukanku dengan semestinya, bahkan Raka telah terang-terangan mencintai perempuan lain.
Farhan, andai kau tahu aku sangat menderita saat ini. Apakah kamu masih bisa mencintai aku lagi?"
Aku tidak sanggup lagi menopang tubuhku. Dengan lemas kurebahkan badanku di tempat tidur.
Kuraih gawaiku. Aku pasang head set dan kuputar lagu andai bisa memilih milik Padi.
Dari lubuk hatiku
Jiwaku resah mencari tahu
Ada yang sedang kurasakan kini
Terguncang aku mengingat engkau
Seandainya aku masih bisa memilih
Akan kupilih engkau sebagai kekasih sejatiku
Betapa semua harapan hanya untukmu
Akan kupahat namamu dalam pusara hatiku
Kaulah rahasia terbesar hidupku
Yang takkan mungkin aku ungkapkan
Kusimpan erat perasaanku
Meski ajal menanti
Tangisku semakin menjadi, antara sakit dikecewakan dan sakit kehilangan orang yang paling dicintai, sungguh membuat hatiku sangat lara.
Kak Farhan, walau kau tak pernah bisa kumiliki lagi, tapi kenangan kita bersama takkan pernah hilang. Kau takkan pernah tergantikan. I'm always love you Kak....
Tamat.
Komentar
Posting Komentar