SELAMAT TINGGAL KEGELAPAN
#30harimenulis2019_hari_11
#darkness
#532kata
#No:15
Dok, dok, dok, dok!
Hakim memukulkan palunya menutup sidang. Keputusan sudah disahkan hakim bahwa Aku dan Galih akhirnya harus bercerai. Lututku bergetar, sendi-sendi seolah lepas. Meski air mataku tidak keluar, tetapi tangis itu begitu dalam, jauh di dalam lubuk hati.
"Ya Alloh, inikah perwujudan dari kalamMu, bahwa langit akan berguncang ketika talak sudah dijatuhkan. Saat ini aku bisa merasakan guncangan itu, menyelusup dalam setiap sendi tubuhku, bergetar, gelap, dan hampa.
Tiga belas tahun menjalani pernikahan, suka duka menjadi asam garam yang mewarnai perjalanan rumah tanggaku, tapi hari ini aku tidak mampu lagi bertahan dan mempertahankannya.
Bukan aku tidak pernah berusaha mempertahankan mahligai pernikahan kami, tetapi semua ikhtiar yang kulakukan tidak mampu mencegah perceraian ini. Ketika selama 13 tahun aku menerima segala kekurangan dan kelebihan Galih suamiku, tetap bersyukur ketika terhimpit persoalan ekonomi yang mencekik, dan tetap bersabar menghadapi sikap egoisnya, namun seluruh pertahananku akhirnya runtuh ketika kepercayaanku dikhianati Galih, betapa menyakitkan ketika secara diam-diam Galih telah menikah lagi dibelakangku.
Saat aku mengetahui semua itu, gelapnya hidup mulai menyergapku. Aku tidak tahu arah mana yang harus kupilih. Bertahan dalam luka atau berpisah dengan membuang semua luka.
Saat aku tersungkur dalam sujudku, bayangan keempat anakku yang masih kecil-kecil melintas dalam pikiranku.
Ah... betapa egoisnya aku ketika aku harus menyerah dengan memilih perpisahan untuk membuang luka, aku mungkin bisa dengan mudah mengobati hatiku, tapi bagaimana dengan anak-anakku, haruskan aku korbankan mereka dalam jurang perpisahan? Secercah harapan hadir, meski cuma setitik. Kuputuskan aku tetap bertahan, demi anak-anakku.
"Bang Galih, aku sudah tahu apa yang harus kupilih dan lakukan. Aku memaafkan semua kesalahan Abang, karena semua manusia pernah berbuat khilaf, demikian juga aku. Demi keempat anak-anak kita, tolong Bang... lepaskan Dian. Aku bukan menolak poligami, karena itu hal yang dibolehkan oleh Alloh, tetapi aku tidak sanggup jika harus Abang lakukan ini kepadaku, ketidaksanggupanku sebenarnya adalah ketidaksanggupan Abang sendiri, karena selama ini abang belum bisa menfkahi aku dan anak-anak dengan baik, abang belum punya pekerjaan tetap, secara ekonomi abang belum mampu, lalu bagaimana abang akan menafkahi 2 istri dan empat anak?"
"Ayu, aku tetap pada keputusanku, tidak akan melepaskan Dian juga tidak akan melepaskanmu." Jawab Galih.
"Bang, Abang sadar kalau poligami yang abang lakukan ini nantinya tidak akan membawa banyak madlorot?"
"Aku akan tetap berusaha adil."
"Adil apanya? saat ini saja Abang sudah tidak bisa adil, terlebih lagi Abang belum punya pekerjaan tetap, bagaimana bisa Abang menafkahi kami?"
"Pokoknya aku tidak akan melepas Dian."
Itulah diskusi alotku dengan suamiku, yang pada akhirnya harus mengantarkan kami pada ruang sidang perceraian. Aku sadar bahwa perceraian itu sesuatu yang dibolehkan Alloh tetapi juga paling dibenciNya. Namun inilah perjuanganku, aku tidak lagi mampu bertahan.
Ketukan palu hakim pada keputusan perceraianku dengan Bang Galih, sempat menyeretku dalam gelap dan membuatku terombang ambing menjalani hidupku. Aku dengan segala kelemahanku masih harus menjaga keempat anakku seorang diri, karena setelah ketukan palu hakim itu, Galih benar-benar pergi melupakan anak-anaknya.
Saat anak-anakku tidur, kupandangi wajah mereka satu persatu. Secercah harapan dan kekuatan menyebar dalam hatiku. Demi kamu anakku, aku tidak akan menyerah lagi, aku akan menjaga dan mengantarmu menjemput semua mimpimu dengan segenap jiwa ragaku, esok gelap ini akan menjadi terang dengan sinar keberhasilanmu. Aku ada untukmu, Nak.
Komentar
Posting Komentar