Langsung ke konten utama

SEBUAH BATAS DUNIA LAIN

#30harimenulis_2019_hari_25
#No_15
#wordcount_563
#Tema_Not Me

SEBUAH BATAS DUNIA LAIN

Jam 01:00, semua peserta LDKS sudah tidur di barak masing-masing. Aku juga bersiap istirahat di ruanganku. Langkahku terhenti ketika aku melihat satu siswaku peserta LDKS sedang mondar-mandir di depan ruang UKS. Saat aku lebih memperhatikan ke arah anak itu, tengkukku meremang, ada aura lain yang kurasakan hadir di dekat anak itu.

"Hei, Dit! Ibu perhatikan dari tadi kamu mondar mandir di sini kenapa?" tanyaku pada Aditya.

"Saya tidak bisa tidur, Bu. Saya terganggu dengan bau anyir darah dari makhluk itu." Jawab Aditya sambil menunjuk ke arah pintu UKS.
Kuarahkan pandanganku mengikuti telunjuk Aditya, sekali lagi, tengkukku meremang, bahkan ini lebih kuat.

"Jangan ngarang kamu, Dit."

"Benar, Bu. Makhluk itu tubuhnya penuh luka, darahnya menetes terus mengotori lantai ini, makanya sejak tadi saya mengelapnya, tapi dia lewat lagi, capek saya."

"Ah, sudahlah Dit, abaikan saja, mari Ibu antar kamu ke barak panitia saja, supaya kamu bisa beristirahat."

"Baik, Bu."

Sreet! sekelebat bayangan kurasakan berlalu tepat di belakangku. Aku menengok, tidak ada siapa-siapa, kecuali gelap malam dan jajaran gedung-gedung sekolah yang terlihat seperti  kota tua di malam hari.
------
Hari ini aku ingin istirahat saja di rumah, setelah dua hari dua malam kemarin bertugas mendampingi LDKS di sekolahanku.
Dalam perjalan pulang, aku sengaja melewati jalan pintas. Sebuah gang kecil yang bersebelahan dengan sungai.

Aku memacu motor dengan kecepatan sedang. Saat mulai memasuki mulut gang aku terkesiap ketika tepat berada di depan sebuah pos ronda. Seperti biasa tengkukku meremang, seolah ada seseorang yang sedang menatapku tajam dari dalam pos ronda itu, tapi sewaktu aku tengok, pos ronda itu kosong. Hanya sepi dan gemericik air sungai yang terdengar, semakin menambah suasana menjadi lengang.

Hal seperti itu tidak satu dua kali terjadi. Entah sudah seberapa sering tengkukku meremang ketika berada pada suatu tempat tertentu. Aku bisa merasakan hadirnya makhluk astral di sekelingku, tapi aku tak mampu melihatnya.
----
"Nduk, Awakmu ki sakjane wes duwe wadahe, auramu iku iso sensitif nangkap onone makhluk bongso lelembut." Kata Pakde Dulah kepadaku, beliau memang terkenal mempunyai indera keenam .

"Maksud Pakde nopo?"

"Begini lo, Nduk. Ibarat bangunan, kamu itu sudah mempunyai wadah yang siap diisi kemampuan untuk bisa melihat makhluk dari dunia lain. Pakdemu ini dapat dengan mudah membuka wadahmu itu, sehingga kamu juga akan dapat melihat mereka yang tidak kasat mata itu."

"Ah, tidak usahlah Pakde, aku tidak mau mempunyai kemampuan itu, sebab tidak akan sanggup. Saat ini dengan hanya dapat merasakan kehadirannya saja, aku sudah merasa tidak nyaman, apalagi kalau dapat melihatnya, ih...serem."

"Ya sudah kalau kamu memang tidak mau saya buka mata batinmu. Memang berat konsekuwensinya, Pakde bisa memahaminya."

"Maturnuwun Pakde atas penjelasan dan pengertiannya, aku pamit pulang dulu, sebelum terlalu malam."

"Yo wes,Nduk. Hati-hati ya!"
----
Kamarku yang rapi dengan sprei putih bersih, semakin menggodaku untuk segera tidur. Mataku juga sudah tidak dapat diajak kompromi lagi.

Baru saja kurebahkan tubuh dan akan kutarik selimut, aku merasakan ada yang menepuk pundakku dengan lembut.

Huwaaaaaaa!!!!
Aku menjerit dengan kencang sambil melompat dari tempat tidurku. Sesosok perempuan berambut panjang dan awut-awutan, wajahnya hancur penuh belatung, bibirnya hilang dan menampakkan giginya yang bertaring, sedang melotot di belakangku.

"Sial! Mengapa aku akhirnya dapat melihat mereka. Padahal aku sungguh tidak mau dan tidak akan sanggup jika harus mempunyai kemampuan itu." Aku berlari sambil ketakutan ke rumah Pakde Dulah.

#Tamat
#Pokok nulis sesuai tema
#Maafkeun, Min. Aku kehabisan amunisi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...