Langsung ke konten utama

REVIEW SUHITA (Day_8)

JUDUL BUKU  : HATI SUHITA
PENULIS          : KHILMA ANIS
PENERBIT        : TELAGA AKSARA
CETAKAN/HAL : 2019/ 405 halaman
ISBN                : 978-602-51017-4-8

Buku yang ditulis oleh seorang guru, pengasuh dan pimpinan Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Annur di desa Kesilir kecamatan wuluhan, Jember selatan ini pada dasarnya mengisahkan tentang ketegaran dan kekuatan seorang wanita di balik kelemahlembutannya. Dengan bahasa yang sangat lugas dan “njawani” pembaca seolah dibius dengan isi cerita yang hidup, bahkan seolah-olah seperti ada dalam dunia yang nyata tentang bagaimana seorang wanita jawa menghadapi persoalan batin yang sangat berat pada rumah tangganya, hal inilah yang membuat buku ini mudah dipahami dan diterima oleh semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan.

Ajaran  perihal kelembutan seorang perempuan Jawa dan pentingnya sikap “mikul duwur mendem jeru” begitu nyata digambarkan dan dimainkan oleh tokoh Alina Suhita, seorang istri dari putra tunggal Kyai besar pemilik pesantren ternama. Alina  Suhita, perempuan dari trah darah biru pesantren yang melestarikan ajaran Jawa, sejak remaja terikat perjodohan. Ketika saat pernikahan tiba, di malam pertamanya harus menerima penolakan yang menyakitkan dari Gus Birru suaminya. Sejak saat itu pula Alina Suhita harus tidur terpisah dengan suaminya meski berada dalam satu kamar. Hingga tujuh purnama sejak pernikahannya Suhita tidak disentuh sekalipun oleh suaminya, bahkan saat itu Gus Birru suaminya masih berhubungan dengan perempuan lain yang bernama Rengganis.

Pada bagian awal diceritakan bagaimana Ibu mertua yang sangat mengasihi Suhita sangat berharap hadirnya cucu dari putra tunggalnya. Sang ibu mertua tidak pernah tahu bahwa selama ini Suhita belum disentuh oleh putranya, jangankan mereguk kebahagiaan seperti pasangan-pasangan pengantin pada umumnya saat malam pertama, seorang Suhita bahkan di anggap tidak ada oleh Gus Birru suaminya. Bahkan di depan mata Suhita, Gus Birru dengan terang-terangan masih menunjukkan hubungan dengan gadis yang dicintainya. Kepada Rengganis kekasih yang gagal dinikahinyanya, Gus Birru bisa tertawa bahagia dan berbicara lepas ketika saling telp. Sementara kepada Suhita melihatpun Gus Birru seolah enggan. Mereka hanya akan terlihat mesra ketika berada dihadapan Kyai dan Bu Nyai Hannan, orang tua Gus Birru.

Pertarungan batin Suhita semakin memuncak ketika Rengganis beserta teman-teman Gus birru berkunjung kerumahnya, Suhita diminta Gus Birru menyiapkan masakan favorit keluarganya. Jelas sekali saat itu di mata Suhita Gus Birru sangat terlihat bahagia sampai Suhita diabaikannya. Suhita hanya bisa menangis dan menenggelamkan kepedihannya dalam murojaah hafalan Qur’annya.

Di saat Suhita sangat merasa sakit karena diabaikan suaminya, hadir Kang Dharma yang sangat bijaksana dan menenangkan. Kang Dharma adalah salah satu ustadz ketika Suhita masih mondok dulu, diam-diam Kang Dharma sebetulny juga menyukai Suhita, begitupun Suhita, di hatinya sempat terukir nama Kang Dharma. Akan tetapi Suhita membuang jauh-jauh perasaan itu karena ia sadar telah menjadi istri Gus Birru, putra tunggal kyai Hannan yang sangat dihormatinya.

Pada bagian selanjutnya hadir sahabat baik Suhita yang bernama Arruna. Ia merasakan ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu, akan tetapi sengaja Arruna tidak menanyakan perihal tersebut, sebab Aruna faham jika sudah saatnya pasti Suhita akan bercerita dengan sendirinya. Arruna hanya mengajak Suhita berjalan-jalan dan memanjakan diri ke salon, tak lupa Arruna mengajarkan pada Suhita bagaimana cara menarik hati suami, tidak lupa Arruna menghadiahkan sprei cantik dan baju tidur yang seksi lingerie.

Sesampainya di rumah, suhita mengganti sprei kamarnya dengan sprei baru dari Arruna, baju lingeriepun ia kenakan saat menjelang malam. Rambut yang biasanya ditutup oleh jilbab, kini dibuka sehingga nampak terurai indah dan panjang. Ketika Gus Birru masuk ke kamarnya dan melihat Suhita tidak seperti biasanya karena mengenakan lingerie, bukan pujian dan sentuhan yang diterima Suhita, akan tetapi malah penolakan dan kata-kata menyakitkan yang ia terima. Suhita menjerit dalam hati, lukanya teramat dalam. Air mata terus menerus menganak sungai di pipinya. Selanjutnya ia akan tenggelam dalam sujud dan murojaah hafalan Al Qur’an. Begitulah cara Suhita bertahan.

Suatu hari Rengganis datang lagi ke rumah Kyai Hannan. Semua menyambut dengan senang dan hangat. Gus Birru, Kyai dan Bu Nyai Hanan nampak akrab berbicara dengan Rengganis yang memang terlihat cantik dan supel. Merasa diabaikan, Suhita yang selama ini mencoba bertahan dalam dukanya akhirnya membuat keputusan untuk pergi meninggalkan Gus Birru. Sebagai perempuan biasa ia berada pada titik terlemahnya, menyerah pada keadaan. Suhita pergi ke rumah Mbah Kakungnya.

Di rumah Mbahnya inilah, Suhita mendapat wejangan-wejangan dari Mbah Kakung tentang bagaimana seharusnya menjadi istri. Lembut dan tulus seperti Sawitri yang tabah, mau topo, poso, dan tenang pada saat suami di ambang keterpurukan, Sawitri yang tidak pernah meninggalkan suaminya ketika di masa-masa sulit dan seolah sudah tidak ada jalan, serta sikap mikul duwur mendem jeru.

Cerita ini ditutup dengan apik di akhir bagiannya dengan menggambarkan suasana pegunungan di rumah Mbah Kakungnya Suhita, serta tidak kalah menariknya wejangan-wejangan Mbah Putri Suhita tentang manfaat dan filosofi tumbuh-tumbuhan.

Beberapa unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Hati Suhita adalah:
1.Tema
Tema yang tersirat dalam novel ini adalah tentang bagaimana seorang perempuan harus bersikap ketika menjadi istri dan mengalami polemik dalam rumah tangganya, sikap yang lemah lembut dan kemampuan mikul duwur mendem jeru, akan mampu menyelamatkan dari berbagai masalah.

2.Penokohan
a. Suhita
Suhita adalah seorang santri Kyai Hannan yang hafal Al Qur’an. Lemah lembut, cantik dan lahir dari trah darah biru pesantren yang moyangnya pelestari ajaran Jawa. Sejak remaja diikat perjodohan  karena diambil mantu oleh Kyainya sendiri.
b. Gus Birru
Adalah putra tunggal Kyai Hannan, aktifis, berkulit putih, rambut panjang, dagu yang lancip dan alis yang tebal, sangat khas sebagai seorang putera Kyai.
c. Rengganis
Seorang gadis yang lincah, supel, aktifis, cerdas, modern, mandiri, dan supel, serta mempunyai pemikiran-pemikiran yang maju.
d. Kang Dharma
Seorang ustadz yang dalam ilmu agamanya, sabar, bijak, dan menenangkan.
e. Arruna
Arruna mempunyai sifat yang ceria, cantik, menyukai batu rubi, dan sangat peduli dengan teman.
f. Bu Nyai Hannan
Adalah seorang Ibu Nyai yang sabar, suka batik, sangat sayang kepada menantunya
g. Mbah kakung
Seorang kakek yang sangat sabar dan bijak, filosofi ajaran jawanya sangat dalam, sederhana, dan menenangkan

3. Alur
Dalam novel Hati Suhita ini menggunakan alur campuran

4.Amanat
Amanat yang terkandung dalam novel ini adalah sebagai isteri harus mempunyai sikap mikul duwur mendem jeru, sabar, tidak mudah menyerah, dan tabah dalam menghadapi persoalan-persoalan rumah tangganya.

5. Kelebihan dan kekurangan novel Hati Suhita
Kelebihan : gaya bahasa yang digunakan sangat bagus sehingga seolah-olah cerita ini benar-benar nyata, karakter tokoh-tokohnya sangat menginspirasi serta ajaran-ajaran jawa yang terkandung di dalamnya sangat baik untuk dijadikan pelajaran.
Kekurangan : sangat banyak menggunakan istilah jawa sehingga bagi pembaca yang tidak mengerti bahasa jawa akan kesulitan.

6. Kesimpulan
Novel Hati Suhita adalah Novel yang sangat bagus untuk semua kalangan baik laki-laki maupun perempuan. Pelajaran-pelajaran hidup yang terdapat di dalamnya sangat menginspirasi, serta mengenalkan pada dunia pesantren.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...