#30harimenulis_2019_hari_15
#17 Juni 2019 - When I was a kid
“Telusuri kenangan ketika Anda masih kecil, tempat yang sering didatangi, atau permainan yang sering dimainkan, dan menulislah.”
#No peserta:15
#642kata
#Basic on true
PANTAI KILI-KILI, SURGA DESAKU
Menelusuri kenangan ketika masih kecil? wow...amazing sekali masa kecilku dulu, sebelas dua belas dengan tontonan acara "Si Bolang" di salah satu channel televisi swasta Indonesia.
Masa ketika aku masih SD dulu, penuh petualangan, desaku yang dekat dengan tambak udang dan laut yang memisahkan jawa timur dan pulau bali, menjadi tempat yang sangat cocok untuk menyalurkan petualanganku.
Siang hari sepulang sekolah, adalah saat yang tepat bagiku dan teman-teman untuk memulai petualanganku. Bersama Pakde Nair, begitu aku dan teman-teman memanggilnya, kami akan mendayung sampan kecil menyusuri sungai Stail yang bermuara di bibir pantai dan menghubungkan dengan tambak udang.
Kebiasaanku dan teman-teman, sebelum sampai ke tambak, kami akan berenang di sungai sampai puas, kami selalu mengadakan perlombaan mencari kermis¹. Untuk mendapatkan kermis itu kami harus menyelam ke dasar sungai, sehingga kami harus bisa berenang sekaligus mampu menahan napas lama untuk menyelam. Dan percaya atau tidak akulah yang sering jadi pemenang mendapatkan kermis paling banyak.
Setelah kami puas bermain air dan mencari kermis, sampan Pakde Nair akan kami dayung kuat-kuat menuju tambak. Hal yang paling menyenangkan di tambak udang adalah ikut mengasak² udang windu yang habis di panen.
Setelah udang windu selesai di panen, penjaga tambak akan memberi aba-aba kepada para pengasak yang sudah bersiap di tepi tambak. Pada hitungan ketiga, aku, teman-teman, dan pengasak yang lain akan berebut menceburkan diri ke tambak bergelut dengan lumpur. Tangan kami liar mengaduk-aduk lumpur berharap ada udang windu yang tersisa. Aku akan berteriak senang jika bisa mendapatkan udang windu meski satu ekor saja. Mengapa? karena satu ekor udang windu sebesar jempol kaki saat itu dihargai 10 ribu rupiah, banyak sekali bukan?.
Sebenarnya bukan hal mudah bagiku untuk dapat keluar pada siang hari usai sekolah. Sebab ibu selalu mewajibkanku tidur siang. Tapi aku selalu punya akal untuk "melarikan diri". Aku akan berpura-pura tidur, setelah ibuku ikut tertidur, aku akan mengendap-endap untuk secepatnya keluar rumah karena sudah di tunggu teman-temanku.
Hal lain yang sangat aku ingat di masa kecilku adalah aku dijuluki Anis si Sawo. Penasaran mengapa aku dijuluki demikian? Itu karena aku tidak gampang menangis ketika terjatuh, bertengakar dengan teman, dan lain-lain. Bahkan teman-temanku berusaha membuatku menangis dengan cara mencubiti tanganku. Meski sakit, aku menahan tangisku, pantang menangis bagiku. Nah, karena inilah aku mendapat julukan sawo, karena serupa buah sawo, meski dipencet-pencet sawo tidak bersuara. Ya iyalaah, sawo kan buah.
Seperti malam itu, di surau tempat aku dan teman-teman mengaji, Ifa temanku penasaran apakah aku masih tidak menangis ketika disakiti.
"An, kesini sebentar!" teriak Ifa.
"Kenapa, If?" Jawabku.
"Udah kesini saja, saya kasi jeruk.
Begitu aku mendekat, aku langsung di bekap teman-teman. Lalu Ifa membuka mataku dan meremas kulit jeruk dimataku.
Crut!
Satu tetes air perasan kulit jeruk mendarat dengan manis di mataku.
"Aaaaaaaaww!" Aku teriak sangat kencang. Coba bayangkan permisa, mata yang terbuka dikecruti kulit jeruk. Bagaimana rasanya? Wew...perih sekali kan? Aku hanya bisa menahan sakit, saat itulah aku baru pertama kali dapat menangis, gelar Anis Si Sawo tidak dapat kupertahankan. Sampai-sampai Ustadzahku turun tangan untuk menenangkan tangisku.
"Sini, An...wes ojo nangis, kene tak wedaki ben ayu." Kata Ustadzah.
Tak lama kemudian, aku dibedaki Ustadzah cukup tebal dan aku diam tidak menangis lagi.
Hari ini, aku berkesempatan berkeliling ke pantai dan tambak udang setelah bertahun-tahun kutinggalkan, karena aku tinggal di tempat tugasku yang jauh dari desa kelahiranku. Indah sekali, dahulu tambak dan pantai kelihatan tidak teratur, tapi sekarang sudah ditata dengan baik, hutan mangroove yang menutupi bibir pantai ditata dengan apik, dan menjadi destinasi wisata alam. Pantai Kili-Kili namanya. Aku bangga telah dilahirkan di desa yang cantik ini, desa yang telah menjadi tempat petualanganku di masa dulu. Aku cinta desaku.
#¹) Kermis:serupa kerang, sangat kecil sebesar kuku ibu jari, warna cangkang kuning kehijauan.
#²) Mengasak: mencari sisa-sisa hasil panen yang bisa dimanfaatkan.
Komentar
Posting Komentar