NATASHA
#30harimenulis_2019_hari_4
#No peserta:15
#1163kata
"Tiap hari. Banyak perempuan muda di seantero wilayah bekas Blok Timur dibujuk dengan tawaran pekerjaan yang mengarah kepada perjalanan menyedihkan berupa perbudakan seksual dan kekerasan."
(Natasha, Mengungkap perdagangan seks dunia, Victor Malarec. 2003. Hal 29)
Natasha, seorang gadis manis dengan wajah khas Indonesia, kulitnya sawo matang, rambut lurus dan hitam legam, nampak sangat eksotis. Bermuka oval, hidung bangir, dan tubuh yang sintal semakin menyempurnakan kecantikannya yang natural.
Malam itu hujan sangat lebat. Petir menyambar-nyambar membuat suasana malam semakin memcekam. Savitri, ibunya yang sakit-sakitan sudah tidur sejak tadi di kamarnya. Sementara bapak tirinya masih belum pulang, sudah menjadi kebiasaan Jarwo pulang larut malam sambil uring-uringan tidak jelas disertai aroma alkohol yang menyengat, membuat isi perut siapapun yang menciumnya ingin muntah.
"Brak!
Suara pintu di dorong dengan kasar. Natasha sudah hafal dengan suara itu, pasti Jarwo ayah tirinya yang datang. Natasha segera menutup tubuhnya dengan selimut dan berpura-pura tidur.
Tok, tok, tok....
"Apakah kamu sudah tidur, Sha?"
Suara Jarwo mengetuk pintu kamar Natasha. Natasha gemetaran di balik selimutnya. Masih sangat jelas ingatannya, beberapa malam yang lalu Jarwo nyaris menyetubuhinya. Untungnya ia bisa menyelamatkan diri setelah memukul kepala Jarwo dengan kayu pengganjal pintu rumahnya.
"Sha! Bapak tahu kamu belum tidur, Bapak akan masuk ya?"
Tanpa menunggu jawaban Natasha, Jarwo mendobrak pintu kamar Natasha yang hanya dikunci dengan selot kunci kecil. Sangat mudah bagi Jarwo merusak kunci kecil itu, dengan sekali dobrak tubuhnya yang tinggi besar dan hitam sudah berhasil membuka pintu kamar.
"Natasha sayang, ayolah layani Bapakmu ini, Ibumu sudah sakit-sakitan tidak bisa melayaniku lagi, dan kamu layak menggantikannya." Perlahan Jarwo mendekati Natasha, napasnya yang memburu sangat jelas terdengar oleh Natasha seolah napas raksasa yang hendak menelan tubuhnya. Keringat dingin mengucur deras, Mulutnya komat kamit memohon pertolongan sang Maha Kuasa.
Sret!
Selimut Natasha ditarik Jarwo dengan paksa.
"Ayo, cah ayu. Bapak sangat menginginkanmu." Tanpa menunggu jawaban Natasha, tubuhnya yang besar itu sudah menindih Natasha. Natasha memekik sebentar.
Jleb!
"Rasakan hai Bapak tiri yang jahat!"
Sebuah pisau dapur ditancapkan Natasha tepat mengenai punggung Jarwo. Darah muncrat mengenai tangan Natasha. Tubuh Jarwo jatuh di lantai. Tanpa pikir panjang Natasha berlari ke luar rumah, menembus pekatnya malam di bawah derasnya hujan.
Setelah beberapa jam berlari, Natasha berhenti di sebuah halte bis. Ia bingung hendak pergi kemana tanpa ia membawa apapun selain baju yang basah kuyup dikenakannya.
Sebuah mobil brio berwarna merah berhenti menghampirinya. Seorang perempuan paruh baya yang modis dan cantik keluar dari mobil tersebut.
"Hai cantik, sedang menunggu siapa?" Tanya perempuan itu.
Natasha terkejut dan mendongakkan wajahnya.
"Clara!" Perempuan itu mengulurkan tangannya pada Natasha.
"Na ... Nathasa," jawabnya ragu sambil menerima uluran tangan Clara.
"Kamu kenapa malam-malam sendiri di sini?" Tanya Clara.
"Aku sendiri bingung tidak tahu hendak ke mana, sesuatu yang buruk telah terjadi padaku." dengan terisak Nathasa menjawab.
"Jika kamu tidak keberatan, mari ikut ke apartemen saya, di sana kamu bisa menenangkan diri, kebetulan aku sedang butuh teman di sini, aku baru datang dari Jakarta."
Nathasa akhirnya memilih ikut dengan Carla.
Sudah satu minggu Nathasa tinggal di apartemen Carla, Ia diperlakukan dengan baik. Baju, perlengkapan mandi, kosmetik, semua diberikan.
"Carla, kamu sangat baik, semua kebutuhanku kamu penuhi di sini, tapi lama-lama aku merasa tidak enak, terlalu berhutang budi padamu, aku takut tidak bisa membalasnya."
"Tenang saja, Sha. Anggap aku seperti saudaramu. Eeemm, ngomong-ngomong kalau kamu ingin kerja aku punya relasi di Jakarta, temanku itu punya cafe yang cukup besar, jika kamu mau, kamu bisa saya antar ke sana dan bekerja sebagai pelayan cafe, bagaimana?"
"Benarkah? Tentu aku mau. Tidak mungkin kan aku terus-terusan merepotkanmu."
"Oke, kalau gitu minggu depan kita berangkat."
"Siap! Jawab Natasha bersemangat.
------
Cafe Alamanda. Tetapi lebih menyerupai nigth club. Ada DJ musik, bar tender, dan lampu-lampu disco. Di lantai dua terdapat beberapa kamar serupa dengan kamar-kamar hotel, beberapa perempuan berdandan menor dan baju super seksi duduk-duduk di sofa yang terdapat di ruang tengah lantai dua tersebut.
"Natasha! Di sini sekarang tempatmu bekerja. Kamu hanya perlu berdandan seperti mereka dan duduk-duduk di sofa itu, ketika ada pelanggan yang menghampirimu, kamu harus melayaninya dengan baik!" Carla menjelaskan dengan ketus.
"Apakah ini tempat prostitusi?" Tanya Natasha panik.
"Tidak penting namanya apa, tapi di sinilah kamu harus bekerja, supaya hutang-hutangmu padaku segera lunas, kamu pikir baju yang kau kenakan dan seluruh kebutuhanmu itu gratis? Ha ha ha ha....
"Tega kau, ternyata kamu menjualku." Natasha terisak.
Dari pintu samping, masuklah seorang laki-laki bertubuh tambun dan kepala botak. Carla menyambut laki-laki itu dengan manja.
"Barang baru, Om. Sepertinya masih orisinil," bisik Carla sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Oke, kalau memang masih "ori" nanti aku bayar mahal." Jawab laki-laki itu.
"Ha ha ha ha....
Carla tertawa terbahak-bahak.
-----
Di dalam kamar, Natasha hanya mampu berdiam diri. Perlahan-lahan lelaki botak itu mendekati Natasha. Matanya yang jalang memandangi tubuh Natasha seolah menelanjanginya. Sebuah ikat pinggang tiba-tiba diayunkan lelaki itu melecut paha Natasha.
"Agrh! Sakit, Om. Mengapa Om melecuti saya dengan ikat pinggang?"
"Ctarr! Kali ini lecutan ikat pinggang itu beralih ke punggung Natasha.
Lelaki itu semakin beringas ketika melihat Natasha menangis kesakitan dan ketakutan.
Saat lelaki itu hendak melepas celana kolornya, dengan gerakan yang sangat cepat Natasha menendang selangkangan lelaki itu dengan keras. Lelaki itu terjengkang. Kesempatan itu tidak disia-siakan Natasha untuk lari.
Natasha berhasil keluar dari cafe Alamanda. Tetapi empat body guard Carla terus mengejarnya. Natasha bersembunyi di balik pot besar yang terletak di samping cafe. Tiba-tiba seekor kucing datang mengagetkan Natasha. Sontak persembunyiannya diketahui oleh body guard yang tadi mengejarnya.
Natasha berlari sekencang-kencangnya. Dari arah depan seorang pemuda gagah berambut ikal dengan santai melenggang, Natasha yang tidak awas dengan pemuda yang ada di depannya tidak sengaja ia tabrak. Pemuda itu reflek memegang tangan Natasha.
"Tolong, lepaskan aku. Aku sedang dikejar orang-orang jahat." Pinta Natasha menghiba.
Pemuda itu diam saja, ia malah memegang erat tangan Natasha.
Sejurus kemudian empat bodyguard Carla datang. Pemuda tersebut memberi isyarat tenang kepada Natasha.
Tanpa ba bi bu, pemuda itu segera menghajar empat bodyguard tadi dengan tanpa ampun. ketika keempatnya sudah bisa ditaklukkan, Pemuda itu segera menelpon polisi.
------
"Aku memang sudah lama mengawasi cafe Alamanda. Dulu kekasihku Chandini juga menjadi korban dari mucikari yang bernama Carla itu, dengan iming-iming gaji yang tinggi sebagai pelayan cafe, Chandini mau bekerja di sana. Saat itu aku masih menyelesaikan kuliahku di Jepang.
Chandini yang tidak tahan dijadikan budak sex di cafe tersebut, akhirnya bunuh diri dengan cara melompat dari balkon lantai dua. Saat itu polisi tidak bisa menjerat Carla karena memang tidak ada bukti kuat pembunuhan dan Carla sangat pandai mengkamuflasekan bisnis prostitusinya dengan berselubung sebagai cafe."
Adrian bercerita pada Natasha dengan tatapan kosong ke depan.
" Aku turut prihatin dengan keadaan Chandini." ucap Natasha lirih.
Tiba-tiba tangan Adrian memegang tangan Natasha, ia menatap Natasha dengan hangat.
"Sha, wajah Chandini sangat mirip denganmu."
Entah terbawa suasana atau apa, perlahan wajah Adrian mendekat ke wajah Natasha. Adrian memcium kening Natasha, dan Natasha menerima ciuman itu dengan getar-getar hati yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Komentar
Posting Komentar