Langsung ke konten utama

MY HEART

#30harimenulis_2019_hari_26
#No:15
#Wordcount:1133
#Tema:Song
Tulislah sebuah fragmen kejadian yang terinspirasi dari sebuah lagu atau sebaliknya.

MY HEART

Gawaiku terlepas begitu saja, aku berharap semua ini hanya mimpi. Tidak terasa mataku mulai basah. Ada rasa sakit yang teramat sangat, berita dari Kak Ida benar-benar membuat sendi-sendi tulangku serasa merapuh. Tubuhku merosot begitu saja terjatuh ke lantai.

Dua minggu lagi mestinya aku akan sangat bahagia, hari dimana aku akan diwisuda sebagai sarjana sains dengan predikat cumlaude.

Tapi, kebahagiaan yang sudah di depan mata, sirna begitu saja. Sebentar lagi aku harus mengubur cintaku dalam-dalam dan terpaksa harus membuka hati untuk laki-laki yang tidak aku cintai. Laki-laki pilihan ayahku untuk menjadi suamiku. Waktu pernikahanpun telah ditetapkan, tepat satu minggu sebelum aku diwisuda, begitulah kabar yang kuterima dari Kak Ida barusan.
-----
"Ayah, tolong pertimbangkan lagi keputusannya. Bukankah waktu itu Ayah merestui hubunganku dengan Mas Zaki?"

"Farah, Ayah sudah mempertimbangkan masak-masak keputusan ini, Candra calon suamimu itu tidak kalah dengan Zaki. Bahkan ia sudah mapan, karirnya sebagai seorang pengusaha muda sangat baik.  Sedangkan Zaki, ia masih mahasiswa S-2 yang belum mempunyai pekerjaan."

"Tapi, Yah...aku belum mengenal Mas Candra, dan hatiku sudah terlanjur memilih Mas Zaki, ia yang selama ini dengan sabar membantu Farah menemukan semangat lagi kuliah di Fakultas MIPA setelah aku gagal masuk di Fakultas Kedokteran. Mas Zaki banyak mengajarkan padaku tentang makna hidup dan kehidupan, bahkan karena bimbingan Mas Zaki pula, IPK Farah selalu tinggi, Ayah tahu itu, Kan?"

"Keputusan Ayah sudah bulat, orang tua Candra juga sudah sepakat bahwa minggu depan kalian kami nikahkan, kamu tidak perlu khawatir, semua sudah kami persiapkan dengan baik.

Nak, bulan depan Ayahmu ini akan ditugaskan ke Dubai. Ayah dan Ibumu tentu akan menjadi tenang jika saat kamu kami tinggalkan sudah ada muhrim yang bertanggung jawab terhadapmu, itulah alasan mendasar mengapa Ayah Ibumu ini tiba-tiba menerima lamaran Candra. Insyaalloh itu yang terbaik buatmu."

Aku hanya bisa pasrah, percuma melawan keputusan Ayah yang memang sangat kuat ketika mempunyai pendirian.
------
"Ayo dong, angkat telponnya, kemana saja sih Mas Zaki ... sudah berkali-kali aku menelpon, namun tidak pernah di angkat." Aku merutuk kesal.

Foto Mas Zaki masih menghiasi meja belajarku. Wajah coolnya berhasil aku candied camera saat di perpustakaan beberapa bulan yang lalu.

Setiap sudut kampus, seolah ada ceritaku dan Mas Zaki. Di kantin, perpustakaan, laboratorium, ruang UKM dan lantai 3 tempat kuliah kami sehari-hari.

Aku tersenyum ketika ingat saat kami bernyanyi bersama sambil menunggu dosen masuk, My heart nya Irwansyah dan Acha menjadi lagu "kebangsaan" kami.

"Di sini, kau dan aku, terbiasa bersama
Menjalani kasih sayang, bahagia ku denganmu

Pernahkah, kau menguntai
Hari paling indah
Kuukir nama kita berdua, di sini surga kita

Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar
Sebisa mungkin, tak akan pernah
Sayangku akan hilang"

Kuputar lagi lagu itu, aku menangis sejadi-jadinya. Betapa cinta yang telah kami ukir bersama, dengan sejuta harap dan mimpi, akan musnah begitu saja karena perjodohan ini. Aku tidak bisa membayangkan hidupku nanti ketika harus bersama dengan orang yang tidak kucintai.

"Mas Zaki, dimana kamu, aku sungguh membutuhkanmu." rintihku.
-----
Suasana rumah sudah ramai, tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Satu jam lagi akad nikah dilaksanakan dengan sederhana, hanya mengundang keluarga dan sahabat-sahabat dekat saja.

Di dalam kamar aku sangat gelisah, sampai saat ini aku belum bisa menghubungi Mas Zaki, aku sangat ingin meminta maaf atas keputusan orang tuaku.

Tok, tok, tok!
Pintu kamarku ada yang mengetuk. Ternyata Bik Sum yang datang, mengabarkan kalau Mas Zaki datang mau menemuiku.

Aku terlonjak senang, atas izin orang tuaku, Mas Zaki dipersilahkan menemuiku di ruang tamu keluarga.

Tanpa memperdulikan  kebaya putih  dan riasan sanggulku, aku bergegas menemui Mas Zaki.

"Farah!...."
Mas Zaki terbengong menatapku.

"Mas Zaki!
Apa kabar Mas, kemana saja dari kemarin?" Ucapku sambil menahan tangis.

"Baik Far. Maafkan aku, kemarin handphonku tertinggal, aku pergi ke rumah nenekku."

Kami terdiam.

"Mas!"
"Far!"
Bersamaan kami saling meyebut nama.

"Kamu dulu, Mas." Pintaku.

"Hemmm, baiklah.
Begini, Farah. Cinta itu anugerah dariNya, pun jodoh, rizki, dan maut adalah mutlak kehendakNya. Manusia hanya menjalani saja, begitupun aku dan kamu.

Beberapa waktu yang lalu, aku diberitahu Abahku, bahwa teman karibnya, Kyai Salman namanya, sebelum beliau wafat telah berwasiat kepada Abahku untuk menjadikan putri tunggalnya sebagai menantunya alias menjadi istriku. Karena itu wasiat, maka Abahku harus melaksanakannya. Itulah sebabnya aku pergi ke rumah nenek. Aku butuh menenangkan diri, karena sejujurnya hatiku telah penuh oleh cintamu."

Aku tercekat dengan yang dikatakan Mas Zaki. Memoriku langsung teringat pada lirik lagu my heart.

" Mas Zaki masih hafal lirik lagu 'kebangsaan' kita?"

"Tentu, Farah.
Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar
Sebisa mungkin, tak akan pernah
Sayangku akan hilang"
Dengan lirih aku dan Mas Zaki menyanyikan bait lagu itu bersamaan.

Kami berdua terdiam sejenak, sibuk menata hati kami masing-masing.

"Farah, Sekuat apapun hati kita saling mencintai, tapi jika Alloh tidak menaqdirkan kita bersama, maka kita takkan pernah bisa bersatu, demikian juga sebaliknya. Maka tugas kita hanya bisa berserah memohon diberikan yang terbaik atas segala ketetapanNya.

Aku datang kesini, ingin meminta maaf kepadamu sekaligus juga minta izin bulan depan aku juga akan menikah dengan Dewi, Putri Kyai Salman." Dengan bergetar Mas Zaki mengucapkan itu.

"Aku juga sama, Mas. Minta maaf tidak bisa menolak perjodohan oleh orang tuaku."

"Iya, Far. Sama-sama. Kita memang saling mencintai, dan cinta itu tidak pernah salah. Ketulusan cinta kita akan teruji dengan saling melepasrelakan perpisahan ini. Sebab cinta yang sesungguhnya adalah hanya memberi  bukan menuntut untuk meminta kembali."

Dengan mata berkaca-kaca aku menatap punggung Mas Zaki yang telah pamit. Kami berpisah dengan hati yang legowo, tunduk pasrah atas taqdirNya. Karena begitulah sejatinya cinta jika semua terjalin karena Alloh semata.

Ketika aku dan Mas Zaki sudah sama-sama rela atas perpisahan ini, tiba-tiba dari depan rumah, aku mendengar ada keributan.

Ibuku pingsan setelah mendapat surat wasiat yang dibawa Bu Salma, istri almarhum Kyai Salman. Dalam surat wasiat itu tertulis, bahwa Kyai Salman mencabut wasiatnya kepada Abahnya Zaki untuk menjadikan putrinya yang bernama Dewi sebagai menantu, selanjutnya wasiat itu berganti bahwa yang nanti menjadi suami Dewi adalah Candra. Hal tersebut terjadi karena ternyata antara Dewi dan Zaki masih ada hubungan saudara yang hal itu baru diketahui sesaat sebelum Kyai Salman wafat.

Sebelum semua terlambat, Kyai Salman segera merubah isi surat wasiat tersebut. Adapun Ayahnya Candra ternyata juga temannya Kyai Salman dan sudah lebih dahulu diberitahu mengenai perubahan surat wasiat tersebut oleh Bu Salma.

Mas Zaki yang belum jauh melangkah pergi, diminta kembali oleh ayahku untuk kembali.

Karena acara akad nikah semua sudah siap dan sayang kalau dibatalkan, maka atas izin Alloh Mas Zaki mengucapkan ijab qobul untuk menikahiku.

Bait-bait lagu my heart sekarang tidak lagi hanya menjadi bait kenangan, tapi seperti itulah sekarang dan seterusnya aku akan menjalin dan membina cintaku bersama Mas Zaki. This is song is my inspiration for my life and  my love.

#Sumber gambar:koleksi pribadi
#Screenshoot smule:just for fun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...