#30harimenulis2019_hari_21
#No:15
#wordcount:1008
#tema:bebas
MAYA
"Bugh!"
Satu siswiku ambruk. Tertulis di ID cardnya bernama Ela. Tim kesehatan segera bertindak cepat. Minyak kayu putih dibalurkan di sekitar hidung Ela untuk merangsang kesadarannya. Tidak lama kemudian Ela tersadar, akan tetapi ia kesulitan bernapas, selang oksigen segera dipasangkan di hidungnya.
Napas Ela mulai teratur, akan tetapi ia terus menutup mukanya sambil berteriak ketakutan, ada sosok tinggi besar bermata merah menyala sedang menatapnya, katanya. Aku berusaha menenangkannya.
Di saat Ela mulai tenang, dari arah barisan lain beberapa siswaku ada yang ambruk lagi. Guru pendamping lainnya dan siswa senior sigap menolong mereka.
"Huahahahahahaha, hahahahaha!
Uuugghh...hiiissstt, hiiisstt." Tawa menyeramkan dan desis suara salah satu siswa mengagetkanku dan yang lainnya. kulihat jam tanganku, 00:00 WIB.
Aku dan pendamping lapang yang lainnya segera mendekat tapi masih menjaga jarak, ternyata ia adalah Diana, siswi yang cukup akrab denganku.
"Diana, ono opo nduk?" Tanyaku berusaha meredam suasana yang menegangkan.
"Hemmm, aku mau anak ini! hahahaha!" Suara parau perempuan keluar dari mulut Diana, matanya nanar menatap satu persatu orang yang ada di dekatnya.
Mendengar suara itu dan gerak gerik Diana yang menantang, salah satu TNI yang memang bertugas mengawal kegiatan kami, maju mendekat ke Diana. Do'a-do'a dirapalkan supaya sosok lain yang sedang memasuki Diana keluar.
Pertarungan tidak dapat dielakkan. Diana yang aku ketahui kalem dalam kesehariannya, malam itu ia sangat gesit bergerak, menyerang, dan terus melotot. Satu gerakan kilat TNI yang membantuku akhirnya dapat mengunci Diana. Aku dan beberapa rekan kerja lapangku membantu dengan do'a. Ayat kursy dan ayat-ayat ruqyah aku baca. Diana makin histeris berteriak sambil menutupi telinganya.
"Tolong kamu keluar, jangan ganggu anakku ini." Perintahku.
"Tidak! Aku akan tetap di sini, sampai anak ini mau menjadi sahabatku.
Ayat kursy dan surat Al Baqoroh ayat 1-5 kubaca ulang dengan keras sambil kutatap lurus netra Diana.
"Ouughh...Panas...hentikan, aku akan pergi." Suara kesakitan keluar dari Diana.
"Hueekk!" Diana memuntahkan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia nampak lemas. Perlahan mukanya menatap ke depan.
"Siapa namamu?" Tanyaku untuk memastikan Diana kembali pulih.
"Diana," Jawabnya.
"Kamu dari mana?"
"Saya murid Ibu, dari Kediri."
"Baiklah, kalau kamu benar muridku, sekarang kamu ucapkan hamdalah, karena kamu telah kembali."
Sepersekian detik aku melihat mata Diana menatap marah. Aku langsung bisa memastikan bahwa Diana belum sepenuhnya pulih, masih ada makhluk lain yang menguasainya.
"Bu, nanti dulu ya saya bacanya, sekarang saya masih lelah." Ucap Diana sambil tersenyum manis kepadaku.
"Tidak, kamu ucapkan hamdalah sekarang, kalimat itu tidak panjang kok."
"Hihihihihi, aku masih mau anak ini!" Kembali suara parau terdengar dari mulut Diana.
"Oh, dasar setan pandai berbohong, kamu mencoba mengelabuiku kan, tadi?" Ku baca lagi ayat-ayat ruqyah lebih panjang.
"Aaauuuu! panas, panas, cukup! Aku menyerah, tapi izinkan aku minta satu hal."
"Apa yang kamu pinta?"
"Jiwa anak ini, aku sungguh menyukainya." Aku tersentak kaget, permintaannya tidak mungkin aku turuti. Aku mencoba "bernegosiasi" dengannya, tidak mungkin aku menyelesaikan dengan kekerasan, sebab taruhannya adalah nyawa Diana.
"Mengapa kamu menyukai anakku ini?"
"Hiks, hiks." Diana menangis.
"Aku Maya, wajahku dulu sangat mirip dengan anak ini. Aku dulu mempunyai pacar, kami sudah hampir menikah. Suatu saat aku diajak pacarku jalan-jalan di sekitar hutan gunung Klotok ini. Tiba di sebuah gubuk kami berhenti dan beristirahat, saat itulah pacarku memperkosaku, aku menangis. Tetapi akhirnya pacarku dapat menenangkanku dengan janjinya akan segera menikahiku.
Satu bulan kemudian pacarku tidak pernah menghubungi dan tidak ada kabarnya. Aku kehilangan kontaknya, yang lebih membuat aku cemas adalah aku ternyata hamil.
Panik, takut, malu, dan lain-lain berkecamuk dalam hatiku. Lalu aku bertekad mengakhiri hidupku dengan menabrakkan diri pada kereta api yang lewat di rel dekat rumahku. Kepalaku terlepas, badanku hancur. Aku kesakitan dan kesepian, jadi biarkan aku mengajak anak ini bersamaku."
Aku tercekat mendengar ceritanya.
"Maya, permintaanmu tidak dapat aku turuti, kamu sudah berbeda alam dengan Diana. Aku prihatin dengan keadaanmu, tetapi jika kamu tidak mau keluar dengan baik-baik, maka terpaksa aku akan mengusirmu."
"Sudah, cukup, aku tidak tahan kalau kamu membaca ayat itu lagi. Baiklah aku akan pergi dengan baik-baik. Tapi sebelumnya tolong aku ya?" Pinta Maya lirih.
"Apakah kata-katamu bisa aku pegang? Lalu apa yang harus kutolong?" Tanyaku.
"Pertama, tolong sisiri rambutku, aku ingin terlihat cantik. Kedua, tolong ajak teman-temanmu mendoakan aku, supaya aku diampuniNya dan arwahku bisa tenang."
"Baiklah, aku turuti permintaanmu. Tapi sekali kamu ingkar lagi, aku tidak akan mengampunimu."
Maya mengangguk. Lalu kuambil sisir, kusisir pelan-pelan rambut Diana yang masih dikuasai Maya.
"Stop!" Tiba-tiba tangan Diana memegang tanganku.
"Berhenti dulu sebentar menyisirnya, aku mau membetulkan posisi kepalaku dulu, kan dulu kepalaku lepas ketika tertabrak kereta," Diana tersenyum menyeringai. Aku sempat berdesir ngeri melihat seringainya. Gerakan kedua tangan Diana kemudian memegang kepalanya, seolah-olah mengangkat kepala itu dan meletakkan kembali pada posisi yang tepat, lalu ia menekukkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dan memutarnya setengah lingkaran.
"Pas, sekarang sudah tepat posisi kepalaku, silahkan dilanjutkan lagi menyisirnya." Ucap Diana.
Tanpa berkata-kata lagi, aku segera menyisirnya sampai selesai. Setelah itu aku mengajak semua yang ada di situ berdo'a untuk Maya yang sedang menguasai tubuh Diana.
"Maya, kami semua akan memohonkan ampun kepada Alloh untukmu, semoga dosa-dosamu diampuniNya. Kami juga akan mendo'akanmu supaya arwahmu tenang."
Diana menganggukkan kepalanya.
"Al-faatihah." Aku memimpin berdo'a. Selesai kami berdo'a, Diana muntah dangan suara yang cukup keras. Sesaat kemudian Diana seperti orang yang bangun tidur dan bingung melihat sekelilingnya.
"Diana, kamu sudah kembali, Nak?" Tanyaku.
"Apa yang terjadi, Bu?" Diana balik bertanya.
"Nanti Ibu ceritakan. Sekarang kamu baca hamdalah dulu gih..."
"Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin." Dengan tegas Diana bisa mengucapkan hamdalah.
Aku dan semua yang melihat kejadian itu merasa lega. Sekarang sudah pukul 02:10 menit, berarti sudah dua jam lebih aku berkutat dengan Maya yang tadi menguasai Diana.
Begitulah akhir kegiatan "Caraka Malam" di hari terakhir aku mendampingi siswaku mengikuti kemah Bantara di kaki gunung Klotok yang memang terkenal wingit.
Esok paginya, kami semua kembali ke sekolah dengan pengalaman masing-masing yang berharga. Diana masih penasaran tentang apa yang terjadi malam itu, tapi aku hanya menjawab kalau ia hanya pingsan dan tidak bisa bernapas setelah selesai mengikuti kegiatan "Caraka malam".
#Gunung Klotok: adalah gunung yang terletak di kaki gunung Wilis, tepatnya di desa Mojoroto Kediri Jawa Timur, dengan ketinggian kurang lebih 536 MDPL. Gunung Klotok berasal dari kata Kolo artinya bahaya dan Tok artinya saja. Jadi gunung Klotok berarti gunung yang berbahaya.
#Sumber gambar:koleksi pribadi
Komentar
Posting Komentar