Langsung ke konten utama

MALAIKAT PENOLONGKU

#30harimenulis2019_hari_27
#No :15
#Wordcount:1401
#Tema:Super Hero (tulislah sebuah kisah dimana karakter utamanya memiliki kemampuan super)
#Ide tulisan terinspirasi film korea Blood
#True story:

MALAIKAT PENOLONGKU

Seorang laki-laki bercadar menemukan kuburan tua di sebuah wilayah konflik, pada salah satu nisannya terdapat pesan misterius " janganlah kamu memburu kematian, karena kematian yang akan memburumu".

Kemudian datang satu orang tentara dan dokter relawan di daerah konflik tersebut mengingatkan lelaki bercadar yang ternyata juga seorang dokter relawan untuk segera meninggalkan lokasi tersebut, karena para pemberontak akan segera datang.

Dokter muda tersebut yang bernama dr. Park Ji Sang menolak pergi, ia lebih memilih memasuki gedung tua dimana ada seorang gadis kecil yang tertembus peluru.

Dr. Park Ji Sang melakukan operasi seorang diri setelah meminum sebuah kapsul. Mestinya dalam sebuah operasi minimal ada dokter anastesi dan dokter yang terkait dengan pasien.

Kehebatan dr. Park mulai terlihat ketika ia melakukan operasi pengambilan peluru di tubuh seorang gadis, tiap inci tubuh pasien beserta pembuluh darah dapat dilihat dengan jelas oleh sang dokter.

Setelah peluru berhasil diangkat, tidak lama kemudian datanglah kawanan pemberontak memasuki gedung tersebut.

Melihat ada seorang dokter, para pemberontak langsung memberondong dr. Park dengan tembakan.

Sebagaimana manusia biasa, dr. Park tersungkur menerima puluhan peluru ditembakkan ke tubuhnya.

Tetapi, sesaat kemudian, Park terbangun, ia berubah menjadi vampir. Dengan kekuatan magisnya, Park bisa mengalahkan para pemberontak dengan mudah.

Kekuatan dan kehebatan dr. Park sebagai vampire itu akibat tertular virus VBT-01. Hal itu ia ketahui dari ibu sekaligus guru pribadinya.

Hari-hari berikutnya, dihabiskan dr. Park untuk bekerja sebagai dokter bedah di rumah sakit.

Keahliannya membedah pasien sangat langka dimiliki oleh dokter bedah pada umumnya. Dengan kemampuan supernya banyak pasien yang selamat ditangannya.
------
" Ibu harus segera dioperasi karena ketuban sudah pecah, di samping itu panggul ibu terlalu sempit untuk persalinan normal." Kata dokter kandungan kepadaku.

"Operasi dok? Apakah tidak ada cara lain?" Tanyaku.

Aku sangat takut membayangkan bius epidural, tubuhku akan dimiringkan dan setengah ditekuk, kemudian dengan jarum yang cukup besar punggungku akan disuntik. Belum lagi sayatan pada kulit perutku yang beberapa lapis, serta pasca operasinya nanti. Ih...ngilu sendiri aku membayangkannya.

"Tidak ada cara lain, tindakan operasi ini harus secepatnya, bayi ibu dalam bahaya jika tidak segera dikeluarkan, karena air ketuban yang sudah pecah akan menjadi racun bagi bayi."

"Baiklah, Dok. Bismillah, tolong lakukan yang terbaik."
-----
Setelah lima hari di ruang pemulihan, aku dan bayiku diperbolehkan pulang. Tetapi masih harus ekstra hati-hati dalam bergerak.

Aku tidak boleh melakukan gerakan seperti orang ruku', tidak boleh mengangkat bayi sendiri dan luka di perutku bekas sayatan tidak boleh terkena air.

Sakit sekali perut bagian bawahku. Bahkan untuk bersin saja sangat sakit.

Baru beberapa jam di rumah,  aku merasa basah pada perutku bagian bawah, dingin sekali rasanya. Tubuhku juga terasa lemas.

Aku mengambil kaca, sambil berbaring terlentang kubuka kain yang menutupi perutku. Darah! Ada darah segar membasahi tubuhku bagian bawah. Dengan hati-hati dan perasaan takut, kubuka kasa penutup bekas operasiku. Jahitan bekas operasiku membuka, ada luka menganga sekitar 2 cm. Darah segar mengalir kecil dari situ.

Aku menjerit. Suami dan ibuku segera ke kamarku. Sesaat kemudian aku pingsan dan tersadar ketika sudah berada di rumah sakit lagi.

Satu minggu aku dirawat, setiap pagi bekas jahitan yang terbuka di perutku dibuka kasa penutupnya oleh perawat, lalu dibersihkan, diobati, dan ditutup lagi dengan kasa yang baru. Jangan ditanya sakitnya. Perih dan nyeri sekali.

Selama perawatan di rumah sakit, aku sering menangis, teringat bayi pertamaku yang belum sempat lama aku sentuh, bayiku di rumah dirawat orang tuaku.

Akhirnya aku meminta untuk rawat jalan saja, agar tetap bisa melihat bayiku.

Selama hampir dua bulan bekas jahitan yang membuka itu belum terlihat benar-benar pulih, masih saja ada darah yang merembes keluar. Meskipun sudah terlihat agak menutup tetapi kulit di permukaan berwarna kecoklatan, persis seperti warna kertas yang kena panas api.

"Aw!"
Jerit perawat waktu membersihkan lukaku dengan pinset steril yang diujungnya diberi kapas.

"Kenapa?" Tanyaku.

" Luka di perut ibu membuka lagi."

"Apa! Kenapa bisa begitu, bukannya semula sudah agak menutup?"

"Betul, Bu. Tetapi ternyata jaringan yang terbentuk tidak kuat dan rapuh, sehingga mudah robek waktu tadi saya bersihkan."

"Terus bagaimana ini?"

"Nanti akan saya sampaikan ke dokter Firman, saya belum berani melanjutkan tindakan sebelum mendapat petunjuk dari beliau."
-----
Sudah tiga hari tidak ada perawat yang datang mengobati lukaku. Jadi aku hanya membersihkan dan mengobati sendiri dengan sisa obat yang ada. Ketika dokter Firman aku telpon ia sedang ada seminar di Jakarta selama satu minggu.

Aku sangat cemas dengan luka yang menganga pada perutku. Sakit, takut, sedih menjadi satu.

Sampai suatu ketika, ada sahabat yang bercerita, bahwa ada seorang dokter bedah di kotaku yang sangat genius dan sabar, dokter Narman namanya. Sudah banyak pasien dengan berbagai kondisi dan komplikasi berhasil ia sembuhkan. Akupun tertarik untuk berobat kepadanya.

"Jadi sudah hampir tiga bulan jahitan bekas SC ibu seperti ini?" Tanya dokter Narman.

"Ia, Dok. Selain masih sakit, aktifitasku jadi terbatas."

"Hemmm, pasti sudah banyak biaya yang dikeluarkan ya?"

"Hehe, begitulah, Dok."

Dokter Narman kemudian mengambil sebuah jarum suntik, ia menjentikkan telunjuknya pada ujung jarum tersebut.

"Dok, maaf, kalau boleh saya tahu untuk apa jarum itu, apakah untuk menyuntik luka saya?" Tanyaku ketakutan. Sudah terbayang sakitnya.

"Ibu tenang saja, jarum ini tidak untuk menyuntik kok, hanya alat untuk meneteskan obat pada luka ibu supaya tidak kemana-mana, sebab lukanya ada di dalam."

"Ouh...tapi kenapa saya tidak dibius lokal saja terus dijahit lagi bekas SC saya?"

"Hemmm, tidak bisa kalau harus dijahit lagi, sebab jaringan epidermisnya sudah rusak, jadi harus sabar menunggu tumbuhnya jaringan di bawahnya sampai nanti pelan-pelan bisa menutup sendiri. Makanya ini mau saya teteskan obatnya, tenang ya, Bu."

Sambil terus membaca do'a, mataku terpejam. Tiba-tiba dokter Narman menyuntik luka di perutku sebanyak 2x suntikan.

"Allohu akbar, Allohu akbar." Spontan aku berteriak kesakitan. tanganku dipegangi oleh Ibuku.

Beberapa detik setelah disuntik, luka di perutku dibersihkan. Ajaib! Rasa nyeri yang selama ini menyiksaku berangsur hilang. Dokter Narman mengambil kapas bersih, ia mengusapkan pada bekas luka yang tadi disuntiknya. Bersih, tidak ada darah lagi yang keluar.

" Coba sekarang Ibu ruku', sujud, dan miring ke kanan lalu kiri."  Perintahnya.

Aku segera melaksanakan perintah dokter. Perutku diperiksanya lagi dengan kapas, bersih, tidak ada darah yang keluar.

"Alhamdulillah, insyaalloh Ibu akan segera sembuh. Jaringan kulitnya akan segera pulih dan menutup kembali." Kata dokter.

"Syukurlah, Dok. Kapan saya harus kontrol lagi?"

"Wah, Ibu ini, sukanya kok berlama-lama sakit. Tiga bulan masih kurang ya?" Dokter Narman tersenyum menggoda.

"Sudahlah, setelah ini Ibu tidak usah kontrol lagi. Ibu sudah sehat. Bebas bergerak dan makan apa saja ngga perlu ada pantangan lagi."

"Yang benar, Dok. Alhamdulillah. Terimakasih banyak."

Aku sangat senang bisa segera sembuh dan pulih, setelah 3 bulan harus  bergerak seperti robot, tidak semua boleh dimakan, mandi juga tidak bisa leluasa, dan mulai hari ini aku sudah dapat beraktifitas normal. Pasti nanti ongkos obat dan dokternya mahal karena manjur, pikirku.

"Eemmm, maaf Dok, berapa biayanya?"  Tanyaku dengan hati-hati.

"Sudah, terserah Ibu." Jawab dokter Narman ramah.

"Terserah bagaimana,Dok?" Aku balik bertanya bingung.

"Ya terserah Ibu, monggo."

Aku bingung sendiri, karena tidak tahu harus memberi biaya berapa. 1 juta, 2 juta atau berapa.

Dokter Narman melihat kebingunganku.

"Bu Nisa, sudah ngga usah bingung, beri saja biaya ganti obat Rp. 13.000."

"13 juta maksud dokter?"

"Hahahaha, tiga belas ribu rupiah, Bu. Cukup segitu saja. Insyaalloh Alloh akan memberi ganti saya lebih banyak. Ibu kan sudah habis puluhan juta sebelum kesini."

"Ya Alloh, baik sekali dokter Narman, Terimakasih, semoga Alloh membalas semua kebaikan dokter dengan sebaik-baik balasan."

Di dalam hati aku sangat kagum pada dokter Narman. Bagiku beliau adalah malaikat penolongku. Aku sudah sembuh lantaran diobati beliau, tapi tidak ditarik biaya mahal.

Tidak hanya itu, setelah aku keluar dari ruang praktik dokter, ada seorang kakek sendirian terpincang-pincang karena jempol kakinya robek.

Tidak lama kemudian, kakek tersebut sudah keluar dengan kaki sudah dibalut rapi dengan perban dan dipapah dokter Narman. Kemudian dokter memanggil tukang becak, memberi ongkos becaknya dan menaikkan si Kakek ke atas becak.

Subhaanalloh, aku semakin kagum pada beliau. Ia tidak saja menjadi malaikat penolongku, tetapi malaikat bagi siapa saja yang butuh pertolongan.

Jika dalam drama korea Blood, dr. Park Ji Sang sangat tampan dan berkemampuan super dalam melakukan operasi, maka di kotaku ada juga dokter Narman yang berkemampuan super, super akhlaknya, kepeduliaan pada kemanusiaan, dan super dalam mengangani pasien.

Catatan Penulis:
1. Ini adalah pengalaman nyata penulis sendiri ketika melahirkan anak pertama melalui SC
2. Sampai saat ini dokter Narman masih bertugas sebagai dokter bedah di RSUD Kertosono Nganjuk Jawa Timur, meski beliau sebenarnya sudah pensiun, tetapi karena ilmu dan keterampilannya sebagai dokter spesialis bedah masih sangat dibutuhkan, maka beliau masih diberi jam praktik dua kali dalam seminggu di RS tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...