#30harimenulis2019_hari_13
#No :15
#1318kata
#Hidden Message-fiksi
#Opsi:C
LUKISAN MAWAR MERAH
Saat kubuka pintu ruangan itu, bau apek menguar di udara. Debu yang tebal menempel pada kain putih yang menutupi setiap perabot yang ada di ruangan itu. Aku terbatuk-batuk ketika dengan tidak sengaja menghirup udara yang berdebu ketika kusingkap salah satu kain penutup meja. Ruangan 4 x 5 meter itu semakin sesak dengan barang-barang bekas yang ditaruh begitu saja. Pada lantai di bagian sudut ruangan terdapat lingkaran sebesar dua kali orang dewasa, di tengahnya ada pegangan semacam handel pintu.
Prang!....
Tiba-tiba aku mendengar seperti suara ember yang terjatuh. Netraku nanar mencari sumber suara, tapi tidak kutemukan. Hening.
"Ah, mungkin aku salah dengar saja, atau suara itu tidak dari ruangan ini tetapi dari tempat yang lain." Gumamku.
Sudah lebih dari 15 tahun aku tinggal di rumah Om Bagas, tapi baru hari ini aku memasuki ruangan ini, atau lebih tepatnya aku menemukannya dengan tidak sengaja.
Sewaktu aku sedang membersihkan rak buku di ruang tengah beberapa hari yang lalu, aku menemukan buku cerita dari penulis favoritku, Anis Hidayati. Dulu ibuku suka membacakannya menjelang tidurku.
"Ibu, aku kangen. Mengapa ibu pergi meninggalkanku begitu saja setelah kematian ayah." Ucapku lirih.
Kuraih buku bersampul jingga itu. Kubuka lembar demi lembar sambil membayangkan ibuku yang dengan arif menjelaskan isinya tentang arti hidup kepadaku.
Sreet!
Selembar kertas putih yang terlipat rapi, terjatuh dari buku karya Anis Hidayati yang kubuka. Selembar kertas itu bertuliskan sebuah kalimat " Halaman 56, disitulah masa lalu dan masa depanmu." Di bawah kalimat itu terdapat gambar lingkaran kecil dengan garis bibir tersenyum di dalam lingkaran. Persis gambar yg sering dibuat ibuku dulu.
"Hmmm, halaman 56, disitulah masa lalu dan masa depanmu. Apa artinya."
Karena penasaran, langsung kubuka halaman 56. Pada paragraf pertama di halaman tersebut tertulis "sekuntum bunga merah merekah, kelopaknya mengundang kumbang datang, tapi hati-hati dengan keindahannya, ada duri yang senantiasa melindunginya dan dapat melukai. Di balik bunga itu disematkan, di situlah jalan menuju kebenaran."
Aku berpikir keras untuk dapat memahami pesan yang secara samar dititipkan pada paragraf tersebut.
"Sekuntum bunga merah, berduri, eemmmm... yes! Pasti bunga mawar yang dimaksud." Aku melonjak senang bisa menebak sedikit teka teki ini.
"Di balik bunga disematkan, di situlah jalan menuju kebenaran. Ah...susah sekali yang ini." Ujung pensil yang kupegang, terus aku gigit-gigit, begitulah kebiasaanku ketika sedang berpikir keras.
Sontak aku teringat, di bagian belakang rumah tepatnya di sebelah dapur terdapat lukisan bunga mawar merah yang cukup besar. Aku segera berlari ke sana. Kupandangi lukisan itu lama sekali. Saat tanganku mencoba mengangkat lukisan itu dinding di balik lukisan itu seperti terdorong, dinding itu terbuat dari triplek.
Aku sangat terkejut. Ternyata dinding triplek di balik lukisan itu adalah sebuah pintu.
Naluriku mendorongku untuk memasukinya. Kebetulan sore ini Om Bagas, Tante Diana, dan Suzan anaknya sedang pergi. Ternyata pintu rahasia itu menuju gudang yang saat ini kumasuki. Suara mobil Om bagas memasuki halaman rumah. Aku bergegas keluar dari ruangan itu, besok kalau ada kesempatan aku akan masuk ke sana lagi." Pikirku.
----
Namaku Almira, sejak kecil aku tinggal bersama Om Bagas, pamanku. Orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih TK. Tidak banyak kenanganku bersama Ayah dan Ibuku. Satu-satunya yang paling aku ingat adalah gambar lingkaran kecil yang di dalamnya ada dua mata dan garis lengkung di bawahnya membentuk senyuman. Gambar itu selalu dibubuhkan ibu pada bukuku jika aku mendapat nilai yang bagus pada pekerjaan sekolahku.
"Almira! Gaun hitamku kamu taruh di mana?" Teriak Suzan membuyarkan lamunanku tentang ibu.
"Sudah aku taruh di lemari bajumu, Zan."
"Kamu ambilin sana gih, aku buru-buru nih...jangan lupa, kamarku nanti harus kamu pel sampai bersih. Awas kalau semua belum rapi saat aku datang nanti." Perintah Suzan, anak Om Bagas yang usianya sepantaran denganku.
Begitulah, di rumah Om Bagas aku diperlakukan seperti pembantu. Tidak jarang aku juga dibentak dan dipukul jika dianggap salah oleh tante Dian, isteri Om Bagas. Tidak ada pilihan bagiku selain menerimanya, karena Om Bagaslah yang mengasuhku sejak kecil.
-----
Minggu ini cuaca begitu cerah. Om Bagas, Tante Dian, dan Suzan pergi ke luar kota. Seperti biasa, mereka meninggalkanku dengan setumpuk pekerjaan rumah, mulai dari mencuci, seterika, masak, dan membersihkan semua ruangan. Jika mereka datang dan semua belum beres, tendangan dan cacian akan mendarat manis pada tubuhku.
Tanpa membuang waktu, aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Aku ingin tahu lebih jauh ruang rahasia yang kemarin kutemukan. Ada puzzle yang harus kurangkai. Dengan jelas pesan tulisan itu akan menunjukkan masa lalu dan masa depanku, apalagi pada pesan tersebut ada jejak dari ibu. Lingkaran kecil dengan garis lengkung tersenyum.
Krompyang!
Kembali aku mendengar suara ember yang jatuh atau ditendang. Kutanjamkan pendengaranku. Kembali suara itu muncul, jauh sekali di bawah sana. Mataku menatap lagi lingkaran besar di sudut ruang. Aku mencoba memegang handel yang terdapat di tengahnya.
Kreeet... ternyata itu adalah tutup yang bisa kubuka. Aku terkesiap, ada tangga di bawahnya. Perlahan-lahan aku menuruni tangganya dengan berbekal lampu senter dari gawaiku.
Betapa terkejutnya aku. Begitu sampai di bawah, kulihat ada seorang perempuan paruh baya yang dipasung. Rambutnya awut-awutan, tubuh kotornya hanya terbungkus kulit. Aroma tak sedap menguar dari tubuh perempuan itu.
"Akhirnya kamu datang, Mira." Sapa perempuan itu.
"Kamu siapa? Dari mana tahu namaku?" Jawabku.
"Mendekatlah, Nak Almira."
Seperti ditarik oleh magnet, aku mendekati perempuan itu. Setelah aku dekat dengannya, kulihat bulir air menganak sungai di pipinya. Dengan seksama kupandangi wajah perempuan itu, aku merasa tidak asing lagi.
"Ibu! Benarkah kamu Bu Atikah, Ibuku?"
"Betul Almira, aku ibumu."
Aku segera menghambur memeluknya, aku tidak lagi peduli dengan bau tidak sedap dari tubuh ibuku. Rasa rindu setelah puluhan tahun tidak bertemu, membuat aku tidak peduli pada bau itu. Satu persatu rantai yang mengikat tangan Ibu kubuka, pasungan di kakinya aku lepaskan.
"Oh, Almira... akhirnya ibu bisa memelukmu lagi."
Kedua ibu dan anak itu berpelukan dengan erat, menumpahkan segenap rindu dan lara yang selama ini terpendam.
"Bagaimana ibu bisa berada di sini? Selama ini saya berpikir Ibu pergi begitu saja meninggalkanku, karena seperti itulah yang selalu dikatakan Om Bagas kepada Mira, Bu."
"Almira, sudah saatnya kamu tahu. Om Bagas itu sangat jahat. Sebenarnya Ayahmu tidak meninggal karena kecelakaan jatuh dari balkon lantai 3 di perusahaan kakekmu, tapi ayahmu di dorong oleh Om Bagas, ibu melihat sendiri kejadian itu, saat itu ibu akan mengantar makan siang di kantor ayahmu, dan saat itulah ibu melihat Om Bagas mendorong ayahmu setelah keduanya berdebat.
Om Bagas dari dulu hanya suka berfoya-foya, maka almarhum kekekmu mewariskan perusahaan pada ayahmu yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Om Bagas tidak terima dengan keputusan kakekmu, dan terjadilah peristiwa mengerikan itu.
Begitu Om Bagas menyadari ibu melihat kejadian itu, Om Bagas mengancam akan membunuh ibu, dan akhirnya ibu dipasung di sini, sebelum ibu dipasung, sengaja ibu menulis pesan di buku kesayanganmu setelah mengelabui Om Bagas dangan alasan akan mengambil satu fotomu untuk ibu bawa di tempat pemasungan. Saat itulah ibu menulis pesan itu, ibu yakin suatu saat kamu bisa menemukannya dan memahami pesan ibu."
Prok, prok, prok...
tiba-tiba suara tepuk tangan muncul di belakangku, Om Bagas sudah berdiri tidak jauh dariku.
"Wow... hebat sekali kalian. Ternyata kalian cerdas juga ya." Ucap Om Bagas dengan senyum sinis.
"Om Bagas ternyata sangat jahat! Om telah membunuh ayah, memasung ibu, dan memperlakukanku seperti pembantu."
"Hahahahaha, baguslah kamu sudah tahu sekarang, lantas maumu apa?"
"Aku akan melaporkan Om ke pihak berwajib."
"Jangan mimpi Almira, jangankan lapor ke pihak berwajib, kalian keluar dari sini saja belum tentu bisa." Gertak Om Bagas.
Dengan segenap keberanian, Aku menendang selangkangan Om Bagas. Tubuhnya terjengkang. Aku segera meraih tangan ibu, kesempatan itu tidak boleh kami sia-siakan untuk lari.
Dor, dor!
Baru satu tangga aku dan ibuku berhasil naik, Om Bagas menembak ibuku. Ibuku tersungkur bersimbah darah. Aku tertegun tak mampu berkata-kata.
Dor!
Satu tembakan lagi terdengar. Sebelah dadaku terasa nyeri. Darah mengalir dari sana. Ada rasa dingin yang teramat sangat, dengan merangkak kupeluk tubuh ibu. Aku merasakan kehangatan saat berhasil memeluk tubuhnya. Setelah itu aku hanya merasa gelap dan damai.
Komentar
Posting Komentar