#30harimenulis2019_hari_20
#Fun fiction
#No:15
#wordcount:522
LIMA SEKAWAN
Tantangan hari ini benar-benar membuat aku tepuk jidat, berasa masuk ke labirin dan tidak dapat menemukan jalan keluar.
"Pilihlah satu kisah fiksi yang anda sukai, tulis ulang dengan gaya dan ide anda sendiri." Begitulah bunyi challenge di hari ke-20 ini.
Dari puluhan novel dan buku yang pernah kubaca, kutimang-timang (Yee...bayi kalleee kok ditimang), akhirnya aku memilih novel laskar pelangi karya Andrea Hirata. Novel tersebut sangat mengesankan menurutku.
Ikal, Lintang, Mahar, Harun, dan satu lagi diriku, adalah murid-murid yang bertahan di sekolah pinggiran Banyuwangi. Kami berlima sangat kompak, meskipun aku satu-satunya perempuan dalam kelompok tersebut yang oleh teman-teman disebut "Lima Sekawan".
Kami berlima tidak saja kompak ketika bermain, tapi kami juga dikenal sebagai anak-anak yang nakal dan pemberani. Sudah beberapa kali kami dipanggil Kepala Sekolah dan diancam akan dikeluarkan dari sekolah.
Kalau ditanya berapa kali kami membolos? Hemmm... Aku dan empat kawanku tidak lagi dapat menghitungnya, mulai dengan cara melompat pagar sekolah, pura-pura sakit, pura-pura izin ke kamar mandi, dan lain-lain.
Merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagi kami jika bisa "meloloskan" diri dari sekolah, kami merasa seperti menghirup udar kebebasan dan kemerdekaan. Dengan bertelanjang kaki, kami akan segera berlari ke sungai, mencari ikan dan berenang sepuasnya.
Usai puas bermain air, kami akan mencari bahan makanan yang bisa kami masak, seperti ketela pohon, ketela rambat, dan pisang yang banyak ditanam di kebun bapak. Jika haus aku tinggal nyuruh Si Lintang manjat pohon kelapa memetik kelapa muda yang airnya sungguh menyegarkan.
Suatu hari, di saat kami sedang mengendap-endap di belakang sekolah hendak membolos, tiba-tiba Ikal menemukan beberapa telur ayam di dekat kandang kayu Pak Tamrin yang rumahnya berdekatan dengan bagian belakang sekolahku. Ada 5 butir telur di bawah kolong kandang kayu bakarnya. Tanpa pikir panjang, telur-telur itu kami bawa, lumayan buat dimasak setelah berenang nanti.
Di saat aku dan teman-teman sedang asik berlompatan di sungai, dari arah tepi terdengar suara bapakku berteriak-teriak memanggilku sambil mengacung-acungkan cambuk. Aku sangat kaget karena di samping bapakku ada Pak Tamrin yang berkacak pinggang sambil memelintir kumisnya.
Tidak ada pilihan bagi kami berlima selain harus menurut keluar dari sungai. Kami digiring Bapak pulang. Sampai di rumah, tanganku dicambuk Bapak karena aku telah mengambil telur ayam Pak Tamrin tanpa izin. Bapak tidak mau mendengarkan alasanku bahwa kami mengira telur itu berserakan begitu saja tanpa ada yang punya.
Selanjutnya, Bapak menghukumku bersama teman-temanku diikat dalam satu pohon jambu yang banyak sekali semut merahnya. Tak ayal, tubuh kami bentol-bentol merah digigitin semut. Biar kapok, kata Bapak.
Esok harinya, di sekolah aku dan keempat temanku digiring wali kelas kami menghadap kepala sekolah. Kami berlima diberi tugas membersihkan dan mengisi kamar mandi siswa selama satu bulan penuh, sebagai hukuman membolosnya kami, apabila sekali saja kami tidak melakukan hukuman tersebut dan berani membolos lagi, kami akan dikeluarkan dari sekolah.
Begitulah akhirnya. Aku, Ikal, Lintang, Mahar, dan Harun, harus bertahan menjalankan hukuman dengan baik dan tidak membolos lagi supaya tidak dikeluarkan dari sekolah. Bukan seperti sekawan laskar pelangi yang bertahan dengan prestasi-prestasi gemilangnya supaya sekolahnya tidak ditutup.
Komentar
Posting Komentar