Langsung ke konten utama

BERSYUKUR

#30harimenulis2019_hari_30
#No:15
#Wordcount:754
#Tema:Grateful

SYUKUR

"Bukan bahagia terlebih dahulu baru bersyukur, tetapi bersyukurlah maka akan bahagia."

Masih segar dalam ingatan, seorang pejabat tinggi negara yang bernama Seta Novianto pernah viral karena kasus korupsi yang menjeratnya.

Pada kasus lain, pasangan selebritis yang cantik, tampan, terkenal, dan kaya raya tentunya, sebut saja Krisnawati-Ananung Herdiansyah, Tamaria Blezzantia-Tuanku Rafki Pasya, Galang Martin-Gea Anaswati, Angelina Lelgia-Vicko Prastowo, dan lain-lain, rumah tangga mereka harus kandas berakhir dengan perceraian.

Sementara pasangan fenomenal Nenek Rohmiya yang sudah berusia 71 tahun dan Salman Riyadi yang berusia 17 tahun justru harmonis dan baik-baik saja hingga saat ini.

Pertanyaannya, mengapa pejabat yang terhormat itu masih mau korupsi?
Padahal secara ekonomi mereka tentu lebih mapan dibandingkan dengan pemulung, rumahnya lebih mewah, mobilnya ratusan juta bahkan mungkin milyaran.

Sementara seorang pemulung yang rumahnya mungkin berdinding triplek, makan sehari cukup sekali dengan ikan asin dan sambal, kemana-mana jalan kaki karena tidak memiliki kendaraan. Meski kemiskinan menjadi teman akrab mereka, tapi justru mereka lebih bahagia jika dibandingkan dengan pejabat yang korupsi dan berakhir di hotel prodeo.

Para pejabat yang terhormat dengan kekayaan yang melimpah masih terjerat korupsi, hal itu karena mereka tidak pandai bersyukur terhadap apa yang sudah diraih dan dimilikinya.

Gaya hidup yang hedonis seolah menjadi sebuah keniscayaan, sehingga seberapapun banyak harta yang dimiliki selalu kurang, sebab semata  hanya memburu kesenangan dan kebahagian.

Mereka lupa bahwa segala kemewahan dunia hanya sementara, matipun tidak dibawa. sehingga rasa syukur hanya dalam kamus semata.

Adapun si Papa dengan segala kekurangannya, justru dapat hidup dengan bahagia, karena mereka memahami, sumber kebahagian adalah bukan karena seberapa banyak harta, melainkan seberapa pandai mensyukuri segala yang dikaruniakanNya.

Begitupun dengan fenomena pasangan selebritis yang rumah tangganya harus berakhir dengan perceraian, mengapa? kurang cantik dan tampankah? kurang terkenalkah? atau kurang kaya raya? Jawabannya tidak. Sebab mereka telah memiliki semua.

Sangat berbeda dengan pasangan Nenek Rohmiya dan Salman Riyadi, atau pasangan-pasangan lain yang tidak se ideal para selebritis tersebut. Pasangan-pasangan ini justru awet dan selalu harmonis. Tidak lain karena masing-masing dapat menerima segala kekurangannya.

Terlepas dari apapun yang menjadi latar belakang permasalahannya, baik itu di kalangan pejabat, artis, dan siapapun, jika rasa syukur selalu dipatrikan dalam hati, setidaknya hidup akan lebih tenang, kebahagiaan kan pasti datang.

Bersyukur adalah menerima dengan ikhlas terhadap apapun yang Alloh berikan, karena yakin bahwa setiap yang Alloh berikan pasti itu yang terbaik bagi diri kita.

Hidup itu bukan selalu tentang apa yang dimakan, apa yang dikenakan, dan apa yang disimpan. Tetapi tentang bagaimana cara mendapatkan dan apa tujuannya. Sebab semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Kelak di akhirat akan ditanyakan tentang tiga hal. Pertama, untuk apa hartamu. Setiap koleksi tas, sepatu, kacamata, dan lain-lain akan ditanyakan bagaimana cara memperoleh semua itu, dan untuk apa memilikinya.

Kedua, Untuk apa umurmu dihabiskan. Apakah untuk berbuat kebaikan atau sebaliknya untuk melakukan kebatilan.

Ketiga, untuk apa ilmu yang dimiliki, apakah untuk menebar kebajikan, ataukah hanya untuk menciptakan permusuhan dan kerusakan.

Maka, jika manusia menyadari untuk apa Alloh memberi kehidupan dan apa tujuan hidup ini,  mestinya selama hidup akan berlomba-lomba dalam kebaikan dan mensyukuri setiap pemberianNya.

Sekarang sejenak mari kita renungkan. Apa yang akan terjadi jika 5 detik saja oksigen hilang dari permukaan bumi? Langit akan gelap, permukaan bumi akan retak, kulit manusia akan terbakar, gendang telinga manusia akan pecah, semua air laut akan menguap, dan bangunan akan runtuh karena tidak keras lagi.

Begitupun nikmat sehat jasmani dan rohani yang kita miliki. Bolehkah satu mata anda dibeli 1 milyar? Dalam kondisi normal tentu akan menjawab tidak. Lalu seberapa besar harga seluruh anggota tubuh kita?

Sampai di sini, nikmat mana lagi yang akan didustakan? Masih sulitkah hati kita untuk senantiasa bersyukur? Bukankah Alloh juga telah berjanji bahwasannya jika manusia bersyukur nikmatNya akan ditambah, sebaliknya jika manusia ingkar maka sesungguhnya adzabNya sangat pedih.

Terakhir, tiada hentinya penulis berucap syukur,  karena selama 30 hari penuh berturut-turut, Alloh telah mengaruniakan kesehatan, kesempatan, dan kemampuan berfikir untuk menuangkan ide-ide menjadi rangkaian kata yang semoga membawa manfaat.

Meski terseok, tertatih, dan tidak jarang "jalan di tempat" karena belum menemukan ide, namun atas pertolonganNya, masa-masa sulit itu telah mampu terlampaui.

Selanjutnya, terimakasih tak terhingga kepada para admin challenge 30 hari menulis yang telah memberi kesempatan kepada diri saya khususnya, dan peserta lain pada umumnya, untuk mengeluarkan ide-ide terbaik dalam bentuk tulisan dengan tema-tema yang menantang.

Teriring rasa syukur yang tak terhingga kepada Alloh yang maha kuasa, semoga  tulisan-tulisan yang telah berhasil kami tuangkan dan suguhkan dapat memberi kebermanfaatan bagi semesta.
Salam literasi!

Kertosono, 02 Juli 2019

Komentar

  1. Salam Literasi Mbak dari saya azwar yg punya Blog ninjapenulis.blogspot.com asal Sukabumi. Kita bertemu di ODOP Batch 7 .
    Salam kenal ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...