Langsung ke konten utama

Pengagum Rahasia

Elza mengibaskan rambut panjangnya yang basah, sambil berjalan menemui Romi yang dari tadi menunggunya. Aroma shampo menguar segar, mengundang gairah Romi yang diam-diam menyukainya. Gadis berkulit putih itu masih menggunakan kimono handuk berwarna kuning gading,  menampakkan kaki jenjangnya yang mulus. Dengan tinggi 165 cm dan berat badan yang ideal, semakin membuatnya terlihat seksi.

Usianya memang sudah memasuki kepala tiga, akan tetapi kecantikannya akan membuat orang lain berdecak kagum melihatnya. Romi tidak habis pikir, mengapa Elza masih betah dalam kesendiriannya. 

Dari sudut ekor matanya, Romi melihat  bibir sensual Elza yang nampak penuh kemerahan, serasi sekali dengan hidung mancung diatasnya. "Ah ... Kau benar-benar sempurna untukku," pikir Romi.

"Hai, Rom! ada apa sore-sore begini ingin menemuiku?."
Sapa Elza tanpa basa basi sambil duduk tepat di depan Romi.

"Eemmmm, begini ... Aku hanya ingin memberikan sesuatu untukmu," Romi kemudian merogoh saku celananya, secepat kilat ia mengeluarkan sapu tangan dengan aroma aneh dan langsung membekapkan ke mulut Elza. Beberapa detik kemudian, Elza terkulai lemas tidak sadarkan diri.

Romi segera membopong tubuh Elza menuju kamarnya.

" Sekarang aku bisa memilikimu seutuhnya. Kau tau Elza, diam-diam aku sangat menyintaimu, tapi kamu terlalu dingin terhadapku. Aku akan menikmati tubuhmu sepuasku," Romi menyeringai dengan penuh nafsu.

Beberapa saat kemudian, Romi sibuk menyeret tubuh Elza dan memasukkan ke bagasi mobilnya, setelah itu ia segera memacu mobilnya menuju tepi hutan Baluran tidak jauh dari rumah Elza. Sesampainya di tepi hutan, Romi menghentikan mobilnya dan mengeluarkan mayat Elza, lalu ia melemparkan mayat itu begitu saja.

Tanpa melepas jaket kulitnya, Romi langsung merebahkan tubuh setibanya di kamar apartemen. Ada semyum puas terpancar dari raut muka tirusnya. Beberapa saat kemudian ia tertidur.

"Romi, apa salahku padamu, mengapa kau tega melakukan itu pada diriku?" Samar-samar Romi melihat Elza berdiri di sebelah ranjangnya. Wajahnya pucat, rambut panjangnya terurai dan berantakan, gaun putih yang dikenakan penuh dengan darah.

Setengah melompat Romi terbangun dari tidur, ia mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa apa yang dilihat hanya dalam mimpi.

Akan tetapi, sosok yang ia lihat sebagai Elza semakin nyata. Perlahan dengan tangan terjulur dan berlumuran darah Elza mendekati Romi.

"Jjaa ... jjaangan mendekat! Kamu sudah mati, kamu bukan Elza." Suara Romi bergetar menahan takut.

"Mengapa kamu takut, Romi? Bukannya kamu sangat menyukaiku, ayolah kita mulai lagi permainan seperti sore tadi."

"Tidak! Tolong ... jangan mendekatiku." Romi semakin ketakutan dan beringsut ke arah pintu.

"Hi hi hi hi hi ... apakah sekarang kamu takut Romi? Mengapa kamu tidak takut ketika tadi sore kau dengan biadab memperkosa dan menghabisiku!"

"Maafkan aku, Elza. Aku menyesal."

"Terlambat! Telan saja kata maafmu. Aku akan menuntut balas atas semua yang telah kamu lakukan padaku."

Elza terus berjalan menghampiri Romi yang ketakutan. Setelah berhasil membuka pintu, Romi berlari sekencang mungkin ke luar rumah. Sekali ia menengok ke belakang, Elza dengan melayang mengejar dirinya.

Romi menambah kecepatan larinya menembus gelapnya malam. Sampai di sebuah tikungan Romi tidak melihat ada truk dengan muatan penuh melaju kencang dari arah selatan menuju ke arah dirinya.

"Brak!

Tabrakan itu tidak dapat dielakkan lagi. Tubuh Romi terlindas roda truk. Kepala dan tubuhnya nyaris hancur, bau anyir darah menyeruak menembus pekatnya malam. Dari jauh Elza tersenyum dengan seringai yang mengerikan.


   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...