Langsung ke konten utama

Natasha (Part 2)

NATASHA (Part 2)

#30harimenulis_2019_hari_7
#Temabebas
#No:15
#676kata

Part sebelumnya....
Entah terbawa suasana atau apa, perlahan wajah Adrian mendekat ke wajah Natasha. Adrian mencium kening Natasha, dan Natasha menerima ciuman itu dengan getaran-getaran hati yang selama ini belum pernah ia rasakan.
----
Tiba-tiba Natahsa menarik wajahnya, agak menjauh dari wajah Adrian.
"Maafkan aku, semestinya aku tidak boleh menerima perlakuanmu seperti ini, sebab aku tidak pantas menerimanya."

"Aku yang seharusnya minta maaf, bukan semata karena kamu mirip Chandini, tetapi jujur aku merasakan sesuatu yang aneh menghangat di hatiku."  Ucap Adrian dengan sedikit salah tingkah.

"Oh ya, Sha. Apa rencanamu setelah ini?" Tanya Adrian mengalihkan perhatian.

"Entahlah, aku juga bingung. Sejak peristiwa malam itu, aku melarikan diri dari rumah, padahal ibuku sedang sakit keras."

"Kalau kamu tidak keberatan, cerita sama saya, siapa tahu saya bisa membantu."

Natasha menceritakan kisah hidupnya yang tragis pada Adrian. Mulai dari Perlakuan ayah tirinya yang mengantarkannya bertemu dengan Carla dan tentang ibunya yang sakit keras.

"Aku turut prihatin, Sha. Semoga ibumu baik-baik saja."

"Itulah yang aku pikirkan, sudah hampir dua minggu aku meninggalkan ibu diam-diam."

"Kamu ingin menengok ibumu?" Tanya Adrian. Natasha mengangguk, sorot matanya penuh harap.

"Bagaimana kalau besok saya antar kamu pulang, dan malam ini kamu menginap di rumah tanteku, tidak jauh dari sini.

Natasha tidak menjawab, jelas sekali ada ragu terlihat di matanya.
"Sha, percayalah padaku, aku dan tanteku itu orang baik, tidak mungkin akan memperlakukanmu seperti Carla." Adrian meyakinkan seolah dapat membaca kekhawatiran Natasha.

" I... iya, aku percaya kok. terserah kamu saja. Natasha tersenyum malu.
-----
Rumah semi permanen itu terlihat seperti tidak berpenghuni. Halamannya kotor penuh dengan sampah daun mangga yang terletak di bagian kiri halamannya. Pintunya yang terbuat dari kayu triplek tertutup rapat.

Natasha mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dengan ditemani Adrian, Natasha memberanikan masuk ke rumahnya, Sepi. Di meja ada beberapa gelas bekas kopi yang sudah mengering, asbak yang penuh dengan puntung rokok serta debu di mana-mana.

Natasha segera menuju kamar ibunya, Savitri. Betapa terkejutnya Natasha melihat ibunya lemah terkulai tak berdaya. Ada air bening di sudut mata Savitri.

"Ibu, ini aku, Natasha."
Tangan Savitri berusaha memeluk Natasha. Ibu dan anak itu saling berpelukan. Adrian dengan sabar menunggu di sudut kamar.

"Sha, kamu kemana saja? Ibu bingung kamu tiba-tiba menghilang, dan bapakmu sejak kemarin lusa juga ikut pergi tanpa pamit, setelah ia marah-marah tidak karuan. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa Nak."

"Maafkan aku, Bu. Natasha pergi mencari kerja di kota." Jawab Natasha berbohong.

"Ehmmm." Adrian berdehem dari tempatnya berdiri. Menyadarkan Natasha kalau ada orang lain selain ia dan ibunya.

"Oh ya, Bu, kenalkan, ini Adrian teman saya."

Dengan takdzim Adrian mencium tangan Bu Savitri.

"Sha, kebetulan rumah almarhum nenekku kosong, aku sebagai cucu satu-satunya dipasrahi mengurusnya. Bagaimana kalau kamu dan ibumu sementara ini tinggal di sana, sambil aku carikan kamu pekerjaan."

"Kalau itu tidak merepotkanmu aku sih mau, sebab aku tidak tahu lagi harus ke mana, mungkin lebih baik kalau ibu saya  bawa pergi jauh dari laki-laki yang jahat itu."

"Oke, mari kita segera bersiap-siap."

Savitri yang memang sudah sangat lemah, hanya bisa menurut pada anaknya.
-----
"Syiiiit!  Bukannya dapat tambang emas tapi malah dapat masalah."
Carla mengumpat kesal sambil membanting secarik kertas di atas meja. Satu batang rokok ia nyalakan, lalu dihisapnya dalam-dalam. Asap mengepul dari bibirnya yang bergincu tebal. Kaki kanannya ia naikkan pada kaki kirinya hingga rok mininya tersingkap, menampakkan pahanya yang putih mulus.

Sejak Natasha berhasil melarikan diri, dan empat anak buahnya ditangkap polisi, Carla harus memutar otak untuk melindungi bisnis "esek-esek" yang selama ini digelutinya. Besok ia harus memenuhi panggilan polisi untuk memberikan klarifikasi tentang adanya dugaan bisnis prostitusinya.
----
Carla tersenyum sendiri sekeluarnya dari kantor polisi. Kakinya melenggang dengan gemulai menuju mobilnya.

"Bagaimana sayang, berhasil?" Tanya Dio, suami Carla.
"Ahay... ternyata mudah sekali aku mengecoh mereka, cukup aku serahkan dokumen-dokumen usaha cafe dan penyaluran tenaga kerja ke luar negeri, mereka percaya."

"Hahahaha, cerdas sekali kau cantikku. Mari kita nikmati keberhasilan ini dengan mengahabiskan malam di puncak, sepertinya sudah agak lama kita tidak berbulan madu lagi."

Carla menyambut manja ajakan suaminya itu, satu kecupan Carla mendarat di pipi Dio.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...