Petasan adalah peledak yang terbuat dari bubuk mesiu dan dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu dan digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa seperti pernikahan, perayaan tahun baru, saat menyambut lebaran, dan lain lain.
Petasan adalah peledak yang terbuat dari bubuk mesiu dan dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu dan digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa seperti pernikahan, perayaan tahun baru, saat menyambut lebaran, dan lain lain.
Bahan dasar untuk membuat petasan dan kembang api adalah bubuk mesiu. Bubuk tersebut pertama kali ditemukan secara tidak sebgaja pada sekitar 2000 tahun yang lalu oleh seorang juru masak asal China dan Tiongkok. Pada saat itu, juru masak tersebut memasukkan batu bara, sulfur, pottasium, dan nitrat yang dimasukkan pada bambu yang dipotong. Kemudian bambu tersebut dibakar dan terjadi ledakan.
Pada abad ke-9 masehi, seorang pendeta bernama Lia Tion dari Lin Yang Provinsi Yunan dan dari dinasti Song mulai menggunakan petasan untuk mengusir roh jahat dalam upacara keagamaan. Pada abad ini juga mulai banyak didirikan pabrik petasan dan kembang api.
Petasan masuk ke Eropa dibawa oleh Marco Polo, penjelajah asal Italia tersebut masuk ke Eropa membawa petasan pada abad ke-13.
Adapun di Inggris petasan dan kembang api mulai dikenal pada masa kepemimpinan Ratu Elizabeth I, saat itu Ratu Elizabeth sangat menyukai kembang api pada acara perayaan-perayaan di Kerajaan.
Sedangkan di Indonesia, petasan dan kembang api pertama kali masuk dibawa oleh pedagang dari Tiongkok. Akan tetapi penggunaan petasan di Indonesia sempat dilarang pada masa VOC karena khawatir menyebabkan kebakaran.
Petasan dan kembang api termasuk ledakan yang low explosive atau berdaya ledak rendah, kurang lebih 400-800 meter/sekond. Warna warni yang ditimbulkan pada percikan kembang api disebabkan oleh macam-macam bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Strontium dan litium menimbulkan warna merah, natrium menimbulkan warna kuning, barium warna hijau dan biru dihasilkan oleh tembaga.
Saat ini, pemakaian petasan dan kembang api seolah menjadi tradisi untuk menandai pergantian tahun baru, perayaan-perayaan acara tertentu, lebaran, dan lain-lain. Meskipun petasan dan kembang api termasuk low explosive ledakannya, akan tetapi saat menggunakannya harus tetap berhati-hati sebab percikannya tetap dapat menimbulkan kebakaran.
Bahan dasar untuk membuat petasan dan kembang api adalah bubuk mesiu. Bubuk tersebut pertama kali ditemukan secara tidak sebgaja pada sekitar 2000 tahun yang lalu oleh seorang juru masak asal China dan Tiongkok. Pada saat itu, juru masak tersebut memasukkan batu bara, sulfur, pottasium, dan nitrat yang dimasukkan pada bambu yang dipotong. Kemudian bambu tersebut dibakar dan terjadi ledakan.
Pada abad ke-9 masehi, seorang pendeta bernama Lia Tion dari Lin Yang Provinsi Yunan dan dari dinasti Song mulai menggunakan petasan untuk mengusir roh jahat dalam upacara keagamaan. Pada abad ini juga mulai banyak didirikan pabrik petasan dan kembang api.
Petasan masuk ke Eropa dibawa oleh Marco Polo, penjelajah asal Italia tersebut masuk ke Eropa membawa petasan pada abad ke-13.
Adapun di Inggris petasan dan kembang api mulai dikenal pada masa kepemimpinan Ratu Elizabeth I, saat itu Ratu Elizabeth sangat menyukai kembang api pada acara perayaan-perayaan di Kerajaan.
Sedangkan di Indonesia, petasan dan kembang api pertama kali masuk dibawa oleh pedagang dari Tiongkok. Akan tetapi penggunaan petasan di Indonesia sempat dilarang pada masa VOC karena khawatir menyebabkan kebakaran.
Petasan dan kembang api termasuk ledakan yang low explosive atau berdaya ledak rendah, kurang lebih 400-800 meter/sekond. Warna warni yang ditimbulkan pada percikan kembang api disebabkan oleh macam-macam bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Strontium dan litium menimbulkan warna merah, natrium menimbulkan warna kuning, barium warna hijau dan biru dihasilkan oleh tembaga.
Saat ini, pemakaian petasan dan kembang api seolah menjadi tradisi untuk menandai pergantian tahun baru, perayaan-perayaan acara tertentu, lebaran, dan lain-lain. Meskipun petasan dan kembang api termasuk low explosive ledakannya, akan tetapi saat menggunakannya harus tetap berhati-hati sebab percikannya tetap dapat menimbulkan kebakaran.
Komentar
Posting Komentar