Ujian Akhir Semester Genap akan dimulai satu hari lagi, di saat-saat ujian seperti ini aku biasanya lebih suka menyendiri. Loteng di atas Musholla tempat persembunyian favoritku. Di loteng itu ada satu ruangan yang agak lebar, cukup bersih, dan dari jendela kacanya aku bisa melihat pucuk-pucuk pohon bambu yang merimbun di sebelah barat sungai, dekat sekali dengan gedung Pesantren Al-Aziziyah.
Ruangan itu digunakan untuk menyimpan kasur dan bantal yang masih baru sebagai persiapan untuk menggantikan jika ada kasur di kamar santri yang rusak, kasur-kasur itu empuknya bisa kunikmati sendiri.
Entah bagaimana awalnya aku tiba-tiba mempunyai ide menjadikan ruangan itu sebagai tempat "uzlahku", di saat aku sedih, kangen orangtuaku, atau lagi bad mood, atau ketika serius mau ujian seperti ini, di sela-sela kegiatan sekolah dan pondok aku akan menyelinap diam-diam di ruangan sebelah loteng itu.
Sholat Isya' berjamaah baru saja usai. Karena malam ini tidak ada kegiatan, maka aku bersiap-siap membawa beberapa buku ke ruang di sebelah loteng itu, saking asyiknya belajar tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Nanggung ah aku turun sekarang, Biologi belum aku pelajari," Gumamku.
Mulailah kubaca hukum Mendel tentang persilangan, susunan genotip yang heterozigot dan homozigot, dan tidak ketinggalan tentang perhitungan kemungkinan-kemungkinan hasil persilangan.
"Seeng...."
Tiba-tiba aku mencium bau terasi yang sedang digoreng, menyengat sekali baunya.
"Ah... mengapa pula Bik Ijah menggoreng terasi malam-malam begini, bukannya besok pagi juga bisa," gerutuku.
"Buumm!"
Suara gedebuk benda jatuh mengagetkanku, tepat di depan pintu ruangan yang kutempati. Konsentrasiku langsung buyar. Angin dingin tiba-tiba menyapu mukaku, aku bergidik.
"Ah, itu tadi pasti suara kucing yang melompat," hiburku. Karena sudah semakin malam aku turun menuju kamarku. Teman-teman sekamarku yang jumlahnya ada lima belas sudah tidur semua, akupun segera menyusul merebahkan diri.
Ujian Akhir Semester hari kedua, mata pelajaran matematika. Seperti biasa aku bersiap menuju ruangan di loteng. Tempat itu betul-betul nyaman untuk belajar, kesunyian dan suara gemericik air sungai di bawahnya benar-banar cocok untuk menjaga konsentrasi, sehingga aku bisa dengan mudah mempelajari soal-soal matematika yang rumit maupun pelajaran yang lain.
Kali ini, aroma singkong bakar menguar bersama angin yang tiba-tiba semilir. Aku sempat berpikir yang tidak-tidak.
"Masih juga jam delapan, satu jam lagi ah aku turun, lagian... cuma bau singkong bakar saja, aku tidak takut. Paling juga ada warga yang lagi membakar singkong," Hiburku.
Perlahan bau singkong bakar menghilang, berganti bau terasi yang digoreng. Sangat menyengat dan sepertinya dekat sekali dengan ruangan ini. Ku ikuti arah bau terasi dengan menajamkan penciumanku.
"Sepertinya sumber bau terasi ini bukan dari dapur deh, tapi dari pohon mangga yang sangat besar tepat di selatang loteng, tapi masa iya sih, sumbernya dari pohon mangga itu." Pikirku.
Saat asyik-asyiknya aku mencoba membuat analisa tentang sumber bau terasi tadi, tiba-tiba ada bayangan hitam, besar, berkelebat secepat kilat menuju pohon mangga itu. Sontak aku lari turun menuju kamarku.
"Brak!"
Aku menabrak Bik Ijah di ujung tangga bawah, kotak nasi yang dipegangnya jatuh tepat di depanku.
"Maaf, Bik ... saya nggak sengaja, saya kebelet pipis jadi jalannya cepet-cepet tadi, sekali lagi maaf ya Bik, InsyaAlloh besok saya ganti. Saya akan pesankan satu kotak makanan di Bu Roudloh yang jualan bakso di depan pesantren ini."
Bik Ijah tidak menjawab permintaan maafku, ia hanya mengangguk dengan senyum yang misterius, lalu berjalan menuju loteng atas.
"Lo, Bik! kok ke loteng atas, mau ngapain?" teriakku.
Tapi Bik Ijah tidak menjawab, bahkan menolehpun tidak.
"Ah, sudahlah. Paling Ia akan mematikan lampu yang tadi lupa kumatikan karena bergegas turun akibat bau terasi goreng."
"Ada apa, Nis? kok kamu seperti bingung gitu?" tanya Nia teman sekamarku.
"Itu lo Nia, dari kemarin aku kan belajar di ruangan sebelah loteng atas, tapi aneh, setiap mendekati jam sembilan malam aku selalu mencium bau terasi goreng. Pikirku mungkin Bik Ijah yang sedang menggoreng terasi."
"Tidak kok, di dapur dari tadi tidak ada yang masak, aku barusan dari sana ambil air minum." Jelas Nia.
"Bisa jadi Bik Ijah sudah selesai menggoreng terasinya, jadi pas kamu ke dapur sudah tidak ada siapa-siapa." Sanggahku.
"Nisa sayaaaang, Bik Ijah itu dari kemarin pamit Bu Nyai pulang kampung, karena anaknya mau nikah."
"Appaaa! Bik Ijah pulang kampung? terus yang tadi kutabrak di tangga yang menuju loteng itu siapa?"
"Jangan ngacau kamu, Nis."
"Sumpah, aku melihat dan bahkan menabraknya tadi sehingga kotak nasinya jatuh dan berhamburan. Kalau kamu tidak percaya, ayo kita lihat di sekitar tangga, pasti banyak ceceran nasi karena tadi belum sempat kubersihkan, sedang Bik Ijah keburu ke loteng atas."
Nisa segera menarik tangan Nia berjalan menuju tangga yang menghubungkan ke loteng.
"Tuh kan, nggak ada apa-apa kan Nis? mana yang kamu bilang ceceran nasi tadi? kita sejak tadi di dekat tangga ini kan... jadi jika ada orang yang membersihkannya pasti kita dapat melihatnya."
"Kamu benar Nia. Berarti yang kutabarak tadi apa? dan siapa yang menggoreng terasi sehingga baunya menguar di loteng?"
"Ayo kita masuk kamar saja, aku takut," ajak Nia.
Keduanya lalu masuk ke kamar. Nia dan Nisa segera berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga kepalanya tidak kelihatan. Teman-temannya yang lain hanya melihatnya dengan heran.
Bersambung....
Komentar
Posting Komentar