Rumah kardus, begitulah sebutan yang layak untuk tempat tinggal kami. Terletak di pinggiran kota Surabaya dan berada di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Dinding rumah kami hanya terbuat dari susunan kardus-kardus dan dilapisi plastik. Tidak ada kursi, televisi, maupun perlengkapan rumah tangga yang layak. Rumah dengan ukuran 5x5 meter ini hanya mempunyai satu sekat ruang yang digunakan sebagai kamar untuk tidur aku, emak, dan adikku Adinda. Selama ini kami cukup merasa nyaman tidur bertiga di atas kasur kapuk yang sudah tidak empuk lagi yang kami tata di atas lantai tanah beralaskan plastik terpal.
Begitupun di ruang "serba guna" yang berada di depan kamar kami, hanya tanah yang ditutupi plastik terpal. Kami menyebutnya ruang serbaguna karena di situlah kami makan, bercerita, dan lain-lain.
Sebenarnya dulu hidup kami tidak seperti saat ini, kami mempunyai rumah yang cukup layak meski masih jauh dari kata mewah. Aku masih ingat betul pada peristiwa sekitar lima tahun yang lalu.
Malam itu sekitar jam 20:00 WIB aku mendengar Bapakku membentak Emak, sebagai anak yang sudah kelas 1 SMP, aku cukup bisa mengerti mengapa Bapak dan Emak bertengkar.
"Si Sum ini sudah menjadi istriku, jadi dia juga harus tinggal di sini!" Teriak Bapak.
"Sejak kapan, Pak? Bukannya aku tidak pernah sampean kasih tau? Lantas dimana Sum harus tidur, kita cuma punya 2 kamar? Tanya Emak sambil menahan tangis.
"Kamu tidur sama Aliya dan Adinda, Sum di kamar kita bersama denganku."
"Rupanya bapak jarang pulang belakangan ini karena di rumah Sum, ya? Terlalu sampean Pak. Bukannya mikir bagaimana mencari biaya sekolah anak-anak kita yang semakin besar, tapi Bapak malah bermain-main dengan perempuan lain."
"Jaga ucapanmu Fat! Dia bukan perempuan lain, tapi dia istriku!"
Braakkk!!! Adnan menggebrak meja di dekat Fatimah, istrinya.
"Pak ... Aku selama ini berusaha sabar dan menerima apa adanya Sampean, aku rela menjadi buruh cuci untuk membantu supaya dapur kita tidak berhenti mengepul, aku rela selalu memakai daster yang usang ini supaya dapat menabung untuk keperluan sekolah Alya dan Adinda, tapi Bapak tega melukai hatiku dengan tiba-tiba akan membawa Si Sum, istri barumu ke rumah ini." Hiks... Hiks ...tangis Emak akhirnya pecah.
"Sekarang terserah kamu, kalau kamu tidak bisa menerima Si Sum di rumah ini, silahkan kamu pergi dan akan kuceraikan kamu!" Adnan memberi pilihan yang sama-sama kejam pada Fatimah.
"Ap..ap..appa, Pak? Bapak mengusirku, Bapak akan menceraikanku jika aku bersikukuh tidak menerima Sum di sini? Bapak sadar dengan apa yang diucapkan?
"Ia, aku memang sangat mencintai Sum, dia lebih bisa melayaniku dengan baik dan penampilannya tidak kumal seperti kamu. Sekarang terserah kamu, keputusanku sudah bulat."
Dari balik pintu kamar aku melihat Emak masuk ke kamarnya sambil berkali-kali menghapus air mata dengan punggung tangannya. Beberapa saat kemudian Emak keluar dengan membawa satu tas besar dan berjalan menuju ke kamarku. Aku segera berpura-pura tidur di samping Adinda.
"Aliya ... Kamu sudah tidur Nduk?" Emak menepuk-nepuk halus punggungku.
"Ehmmmm, Emak... Ada apa?" Aku menggeliatkan tubuh sambil mengucek mataku.
"Ayo ikut Emak, ambil bajumu dan baju Adinda, masukkan ke tas ini, Emak akan membangunkan Adinda dulu."
"Memangnya kita mau ke mana Mak?"
"Nanti Emak ceritakan, yang penting kita harus segera keluar dari rumah ini, atau kamu tidak akan pernah bertemu Emakmu lagi."
Tidak ada lagi pilihan bagiku, aku harus ikut Emak, sebab Bapakku selama ini tidak memperhatikanku dan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri yang aku tidak tahu. Tanpa banyak bertanya lagi aku segera berkemas, menuruti perintah Emak.
Setelah semua siap, kami keluar dari kamarku, Adinda di gendong Emak dan Aku membawa tas besar. Sampai di ruang tamu, aku melihat Bapak yang diam mematung.
"Aku pamit, Pak... Jika Bapak lebih memilih Sum aku tidak bisa menerima, sebab aku yakin Bapak akan semakin mengacuhkanku dan anak-anak.
Bapak hanya diam dan tidak menatap kami sedikitpun. Lalu Emak segera menggandeng tanganku keluar dari rumah.
"Mak, kita mau pergi kemana?" Tanyaku.
"Emak sendiri belum tahu Nduk, kita berjalan saja ke Masjid di ujung desa sana, malam ini kita beristirahat di sana."
Adinda yang saat itu masih berumur 3 tahun hanya diam dalam gendongan Emak.
Begitulah kisah kelam yang tidak pernah aku lupakan. Sampai pada akhirnya kami memilih membangun gubug di dekat TPA untuk memudahkan aku dan Emak bekerja sebagai pemulung. Dan selama itu pula Bapakku tidak pernah mencari kami.
Ramadhan tahun ini, adalah pertama kali bagi Adinda berpuasa. Ia beberapa kali meminta pada Emak untuk dibuatkan es sirup sebagai minuman berbukanya. Tetapi Emak masih belum menuruti permintaannya.
"Din, kita bisa berbuka dan saur dengan telur dadar serta tumis kangkung saja sudah bersyukur, kalau untuk menyiapkan es sirup Emak belum punya uang. Sebab bahan-bahan untuk membuat es sirup itu mahal, harus beli es batu dan sirup yang harganya sama dengan jatah makan kita untuk dua hari, maafkan Emak ya Nduk, kita bersabar dulu." Bujuk Emak dengan menahan air matanya.
Mendengar itu aku tidak mampu menahan air mata. Tetapi kutahan sebisa mungkin agar tidak sampai menganak sungai di pipi.
"Aku sore ini harus ke Masjid besar di ujung gang itu, karena kabarnya di sana ada buka puasa bersama, siapa tahu ada es sirupnya, nanti akan kubawakan untuk Adinda," gumamku sendiri.
Bergegas aku bersiap dan pamit kepada Emak untuk ikut mendengarkan ceramah di masjid sebelum adzan maghrib. Aku tidak cerita kepada Emak tentang misi tersembunyiku.
Dari jauh kulirik menu buka puasa yang sudah disiapkan di beranda masjid. Yes, nasi kotak dan es sirup. Pikirku girang. Tak sabar rasanya menunggu beduk maghrib.
Akhirnya ceramah Ustadz Zakaria diakhiri karena lima menit lagi adzan maghrib, nasi kotak dan segelas es sirup dibagikan, hemmmmm... Segar sekali kelihatannya, aku akan minta dua gelas, satu akan kubawakan untuk adikku, Adinda.
Beruntung panitia yang membagikan menu berbuka mau memberiku dua nasi kotak dan dua gelas es sirup. Setelah kuucapkan terimakasih aku segera pamit pulang. Aku tidak ikut jamaah maghrib di Masjid karena aku sudah membayangkan Adinda pasti akan senang menerima es sirup dariku.
Setengah berlari aku menuju rumah, begitu sampai di depan pintu aku berteriak.
"Din... Cepat keluar, ini Mbak bawakan es sirup keiinginanmu." Teriakku di depan pintu.
Tidak lama berselang, Adinda keluar dan sangat girang. Dia langsung menyambar bungkusan es sirup dari tanganku.
Byaarrrr!...
Es sirup itu terjatuh dan ambyar di depan mata kami. Adinda terlalu bersemangat mengambilnya dari tanganku sehingga kresek yang membungkusnya robek dan jatuhlah gelas es sirup itu ke tanah.
Aku dan Adinda terkejut sampai tidak mampu berkata-kata. Gurat penyesalan dan kekecewaan nampak di wajah Adinda. Ku peluk adikku satu-satunya dengan penuh sayang.
"Sabar ya Dik, mungkin ini belum rizki kita, InsyaAlloh kita akan mendapat ganti yang lebih baik. Alloh saat ini masih menguji kesabaran kita, Alloh tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuannya."
Kueratkan pelukanku pada Adinda, dan kami berdua akhirnya menangis.
Komentar
Posting Komentar