Langsung ke konten utama

Rindu Mendulang Hikmah Puasa Di Bulan Ramadhan

Aku terlahir di sebuah desa ujung selatan timur laut dari Kabupaten Banyuwangi. Desaku adalah desa yang sangat asri dan bisa disebut desa santri, sebab banyak pesantren dan surau-surau kecil di sana.
Terletak tidak jauh dari pantai dan tambak-tambak udang warga, serta sawah-sawah yang hijau menghampar menambah keasrian desaku.

Setiap sore terlihat lalu lalang santri kalong sebutan untuk santri yang tidak menetap di pondok, datang sore dan pulang pada pagi harinya. Apalagi ketika musim Ramadhan, desaku semakin kelihatan hidup kegiatan-kegiatan keislaman. Suara-suara tadarusan dari toa surau, masjid, dan pondok-pondok terdengar bersahutan.

Yang paling aku sukai lagi ketika bulan ramadhan adalah "adat istiadat" anak-anak sebayaku, yaitu membuat rumah-rumahan dari kayu dan ditutup dengan kain jarik punya emak. Kami berupaya menghias sebagus mungkin menghias rumah-rumahan kami bak istana pribadi.

Jika menjelang sahur tiba, kami anak-anak desa ini berkumpul kemudian menyalakan oncor dari bambu. Kami berkeliling desa dengan menabuh peralatan sederhana. Ada kentongan bambu, galon air yang sudah rusak, tutup botol yang dijadikan kencringan. Kami mainkan musik sambil berjalan.
"Saur... Saur ... Saur...!"
Begitu kami terus berteriak membangunkan warga yang terlelap dalam buai mimpi serta hangatnya selimut yang membungkus tubuh mereka dari dinginnya malam desa kami.

Ah..., Aku sangat merindukan suasana puasa ramadhan di desaku. Sangat kontras dengan suasana di kotaku saat ini di mana aku tinggal.

Di kota metropolitan ini, ketika bulan ramadhan yang ramai adalah mall-mall besar yang menawarkan banyak diskon untuk berbagai jenis baju, pasar-pasar tradisional juga tak kalah ramai. Aneka jajanan dan jenis makanan diserbu ibu-ibu untuk menu berbuka puasa nanti, begitu katanya.

Pada hari-hari pertama masjid memang ramai oleh jamaah, tapi tak lebih dari ajang pamer baju koko yang mahal, mukena-mukena cantik yang harganya ratusan ribu, hal itu terlihat dari percakapan beberapa ibu-ibu ketika menunggu imam sholat.

"Wah, bagus sekali mukena ibu, pasti mahal ya?"
"Tidak juga kok bu, paling cuma 500 ribu rupiah, masih lebih mahal baju koko si ayah yang merek B*S itu, satu baju yang termurah 700 ribu." Jawab ibu yang ditanya.
Obrolan seperti itu sering sekali aku dengar di antara ibu-ibu jamaah di masjid dekat rumahku.

Aku miris sendiri ketika mendengar obrolan yang tidak penting itu. Mereka sudah kehilangan essensi puasa.

Puasa, yang seharusnya menjadi ladang muhasabah dan memperbaiki diri menjadi bergeser pada kehidupan hedonis yang konsumtif.

Sepanjang yang aku ingat dari nasehat guru ngajiku di desa dulu, puasa mempunyai beberapa hikmah antara lain:
1. Meningkatkan kualitas iman. Puasa hanya diwajibkan pada orang-orang muslim dan merupakan jenis ibadah yang khusus karena langsung berhubungan dengan Alloh SWT. Sebab seseorang itu puasa atau tidak hanya Alloh yang tahu, berbeda dengan ibadah lain seperti sholat, manusia masih dapat melihatnya. Mengenai pahala berpuasa di bulan ramadhan hanya Alloh yang mengetahui, sehingga hanya orang-orang yang beriman yang mau bersusah payah menahan haus,lapar, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa.
2. Menghapus dosa. Dalam sebuah hadits shohih disebutkan: (barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka dosa-dosanya diampuni. HR. Bukhori).
3. Mengendalikan syahwat dan maksiat. Ketika seseorang sedang kosong perutnya, maka yang terpikir biasanya adalah makanan dan minuman, sehingga ketika akan melakukan kejahatan menjadi terhalang atas kelemahannya, minimal seperti itu. Apalagi jika puasa benar-benar dilakukan dengan ikhlas karena Alloh, maka segala nafsu yang sering mendominasi alam pikir manusia menjadi lebih terkendali.
4. Meningkatkan rasa syukur. Saat perut kelaparan dan kehausan, kita menjadi tahu betapa berat rasa haus dan lapar, seperti itu pula yang dirasakan orang-orang yang papa, untuk bisa makan sehari sekali saja sangat susah. Dengan sedikit merasakan kesusahan orang-orang yang kurang mampu, semestinya rasa syukur menjadi meningkat. Jadi puasa bukan hanya sekedar mengubah jam makan saja dan malah membuat menu-menu mewah untuk memanjakan lidah ketika berbuka dan saur saja. Ironisnya seperti itulah fenomena yang makin marak di sekitar kita saat ini.
5. Memperbanyak sedekah. Segala bentuk perbuatan baik yang dilakukan pada bulan ramadhan akan ditingkatkan pahalanya tidak terkecuali sedekah. Dengan "iming-iming" pahala yang dilipatgandakan menjadi motivasi tersendiri bagi beberapa orang untuk lebih banyak bersedekah. Setidaknya kebiasaan baik itu mulai terbentuk yang kemudian diharapkan akan terus dilakukan bahkan di luar bulan ramadhan. Karena sesungguhnya harta yang akan dimiliki di akhirat nanti adalah harta yang disedekahkan karena Alloh, bukan harta yang diinvestasikan menjadi hotel, rumah mewah, mobil, dan lain-lain.

Ah, anganku melamun jauh. Mencoba mengingat dan mencerna kembali ceramah guru ngajiku di desa dulu.

"Uuuffft ...."
Kuhela nafas panjang, dadaku terasa sesak. Betapa nilai-nilai positif puasa, sekarang makin tergeser oleh arus zaman. Tidak lagi menjadi ajang muhasabah untuk memperbaiki diri, tetapi lebih kepada ajang memanjakan nafsu untuk dituruti. Aku semakin rindu kampung halamanku.

"Emak, Bapak, maafkan aku yang sudah beberapa ramadhan ini tidak bisa pulang karena tugas negara. Percayalah, aku sangat merindukan kalian dan tentunya desa tempat kelahiranku."
Gumamku lirih sambil menyeka air mata yang menganak kecil di pipiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYARAT Hadi terlihat panik, sebentar berdiri lalu duduk, ia juga berjalan mondar- mandir di ruang kerjanya. Di atas meja, sebuah buku besar terbuka, di dalamnya penuh catatan, kwitansi pembayaran, dan slip bukti transfer dari Bank. Satu demi satu halaman dari buku itu diperiksa Hadi dengan teliti, ia berhenti sejenak, diraihnya remot AC dan ia menurunkan suhu ruangan hingga 18° C, udara dingin segera menyebar ke ruangan. Akan tetapi keringat sebesar biji jagung tetap menetes dari kening Hadi. Krah leher yang sudah terbuka sejak tadi dirasa kurang longgar, lalu ia melepas kemeja dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Sial! Bodoh! Kenapa aku sampai lengah?!" Brak!! Hadi memukul meja dengan genggaman tangannya. Lalu ia mengacak-ngacak rambutnya dengan jari-jari tangan yang menegang. Seminggu yang lalu, Hadi sudah mentransfer uang sebanyak 1M untuk bahan- bahan  di pabrik kertas  tempatnya bekerja. Tetapi ternyata uang tersebut tidak terkirim pada pemilik pabrik mela...

Liburan Anak

SERUNYA RIVER TUBBING Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kota Malang yang terkenal sebagai kota apel juga memiliki banyak destinasi wisata yang asyik untuk dikunjungi. Mulai dari wahana permainan, tempat kuliner, wisata alam, dan lain-lain. Bagi penyuka wisata yang dapat menguji adrenalin tetapi aman dan nyaman untuk anak-anak, tempat wisata Taman Dolan yang terletak di Ngujung Batu ini layak dicoba. Tempat wisata yang menyatu dengan alam, menyuguhkan permainan edukasi, ketangkasan, keberanian, dan kerjasama, dikemas  sangat menarik dalam river tubbing, flying fox, renang, dan berbagai macam outbond. Salah satu permainan yang wajib dicoba adalah River Tubbing, yaitu sebuah wahana permainan yang memanfaatkan aliran sungai dan terdapat jeram-jeram kecil sebagai tantangan. Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak di desa   dengan cara "ngenter kali" atau menghanyutkan diri di sungai sambil menaiki gedebog pisang.  Dengan mengubah nama dan pe...
SANTRI SEBAGAI BENTENG NKRI Pada edisi kali ini, sengaja saya menyuguhkan tulisan yang terkait dengan santri dan adab, dalam rangka menyambut hari santri nasional yang ke-4 -------- Sudah tidak diragukan lagi, kiprah perjuangan santri dan ulama dalam  mempertahankan Republik Indonesia dari penjajahan. Untuk mencegah kembalinya penjajahan Belanda yang membonceng pada NICA di Surabaya, KH. Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk melawan, saat itu bertepatan dengan resolusi jihad  tanggal 22 Oktober 1945. Di era millenial saat ini degradasi moral merebak dimana-mana, tidak saja di kota tetapi juga ke pelosok-pelosok desa. Kecanggihan  teknologi dan informasi, semakin mempercepat persebaran merosotnya akhlak di semua kalangan, sebab kecanggihan teknologi tersebut disertai dengan kemudahan mengakses apa pun secara cepat. Pesantren, adalah sebuah lembaga yang dapat dijadikan benteng terakhir untuk mencegah semakin parahnya degradasi moral, karena pesantre...