Suara Emak mencairkan kesedihan Alya dan Adinda. Kakak beradik itu melepaskan pelukannya.
"Ada apa ini, kok kalian pada nangis?" tanya Emak.
"Ah, ga ada apa-apa kok Mak. Ini lo, cuma es siropnya Adinda jatuh." Jawab Alya.
"Oo, begitu ... ya sudah, insyaAlloh nanti Alloh memberi gantinya, ayo sekarang masuk, kalian belum pada berbuka, kan?"
"Belum," jawab Alya dan Adinda berbarengan.
Mereka bertiga segera duduk di ruang "serbaguna" rumah mereka. Emak sudah menyiapkan tempe goreng dan sambel sebagai lauk. Kemudian Alya membuka dua bungkus nasi kotak yang ia bawa dari masjid tadi. Dua potong ayam goreng dan beberapa lauk dari nasi kotak itu mereka bagi bertiga. Itu adalah menu istimewa dan sesuatu yang langka bagi Bu Fatimah dan anak-anaknya.
"Mak, kemarin sewaktu Alya mencuci mukena, kuhitung sudah ada sembilan tambalan, kalau punya Dik Dinda masih bagus karena baru beberapa bulan lalu dikasi Pak Rohman. Alya pingin sekali sholat Idul Fitri nanti sudah memakai mukena baru." Ucap Alya di sela-sela mereka makan.
"Iya, Nduk. Mudah-mudahan Emak bisa membelikan ya. Oh iya Nduk, kemarin Mak lihat kebunnya Pak Rahman buah pisangnya sudah banyak yang matang, juga ada beberapa pohon singkong di sana. Emak ada ide, bagaimana jika selama bulan puasa ini kita jualan kolak di tepi jalan raya dekat kampus, insyaAlloh nanti laku, sebab pasti banyak anak-anak kos yang membeli takjil ... nanti uangnya kita kumpulin dan bisa untuk beli mukenamu." Jawab Bu Fatimah berbinar-binar penuh semangat.
"Lalu modalnya dari mana, Mak?"
"Emmmmm, besok pagi Emak coba ke rumah Pak Rahman, Emak akan minta tolong pisang dan singkong di kebunnya akan Mak buat kolak, nanti hasil jualannya kita bagi dua."
"Wah, ide bagus tuh Mak. Mudah-mudahan boleh ya sama Pak Rahman, nanti Alya dan Dik Dinda bantu jualannya."
------------
"Assalamualaikum" tok, tok, tok!
"Waalaikum salam, siapa?"
"Saya, Bu Fatimah."
Beberapa saat kemudian pintu rumah dibuka.
"Oh, Bu Fatimah, monggo-monggo silahkan masuk." Sapa Bu Rahman ramah.
"Terimakasih,"
Bu Rahman menggandeng Bu Fatimah untuk duduk di ruang tamu yang cukup mewah dan nyaman.
"Ada apa ini Bu, tumben ke sini."
"Eemmmm ... anu, eemmm ... Begini Bu, itu Si Alya minta mukena baru tetapi saya belum punya uang. Kemarin ketika saya lewat kebun Ibu, saya lihat pisang Ibu di kebun sudah banyak yang masak. Pohon singkongnya sepertinya juga sudah waktunya dipanen. Nah, bagaimana kalau pisang dan singkongnya saya panen untuk saya jadikan kolak, terus tiap sore akan saya jual di dekat kampus itu, insyaAlloh laku Bu. Nanti hasilnya bisa dibagi dua setelah saya bayar seharga pisang dan singkong Ibu."
"Owalaaah ... begitu, bagus sekali Bu Fatimah, saya dari kemarin juga bingung bagaimana mau memanennya, Si Ujang pulang kampung sih. Silahkan Bu Fatimah panen, dan mengenai pembayaran pisang dan singkongnya gampang itu, Bu Fatimah cukup memberi kolak yang Ibu buat dua bungkus saja tiap sore, jadi tidak usah dibayar lagi. Bagaimana, setuju?"
"MasyaAlloh, terimakasih Bu Rahman, kalau begitu saya mohon pamit dan akan langsung ke kebun, supaya nanti sore bisa segera jualan kolak.
---------
Tepat pukul 16:00 WIB semua kolak pisang dan singkong sudah selesai dibungkus dan siap dijual. Dengan penuh semangat Alya, Adinda, dan Bu Fatimah bergegas menuju jalan raya dekat salah satu kampus ternama di Surabaya.
Satu persatu pembeli mulai berdatangan, sekitar satu jam kemudian 30 bungkus kolak tersebut sudah habis.
"Alhamdulillah ya Nduk, kolak kita hari ini sudah habis, mudah-mudahan besok juga akan laris."
"Aamiin". Jawab Alya dan Adinda bersamaan.
Sambil berjalan pulang, Alya sudah membayangkan memakai mukena yang baru untuk Sholat Taroweh nanti.
Next...
Komentar
Posting Komentar