Sabtu sore ini di Jalan Ahmad Yani tepatnya di sekitar Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya sangat ramai, demikian pula jalanan di gang-gang kecil sekitar kampus penuh dengan lalu lalang kendaraan bermotor maupun pejalan kaki.
Di antara para pengguna jalan itu sebagian besar adalah orang-orang yang ngabuburit, sebuah istilah yang sekarang menjadi trend dan berarti menunggu saat berbuka puasa sambil berjalan-jalan atau nongkrong menonton sesuatu. Aku sangat berharap kolak buatan emak sore ini juga cepat habis seperti hari-hari kemarin.
Aku menjajakan bungkusan-bungkusan kolak itu pada meja kecil di pinggir jalan sebelah barat kampus. Kami sengaja agak menjauh dari jalan raya supaya lebih leluasa berjualan.
Sudah sekitar satu jam kami menjajakan kolak buatan Emak, tetapi masih laku 10 bungkus saja.
" Mak, kenapa ya hari ini kolak kita tidak selaris kemarin, padahal hari ini kita membuat lebih banyak dari yang kemarin." Kata Alya sedih.
"Sabar Nduk, rezeki itu sudah di atur sama Alloh, tidak bakal tertukar."
"Terus nanti gimana Mak kalau tidak habis, kan mubadzir, bisa rugi kita."
"Tidak ada yang rugi bagi yang mau berusaha. Rizki itu bisa Alloh berikan dari jalan mana saja, bahkan tanpa disangka-sangka juga. Kewajiban kita hanya berusaha, usaha itu ibaratnya kita menyiapkan wadah. Perkara masuknya rizki ke wadah kita itu dari mana datangnya, itu hak Alloh yang mengatur, jadi kita tidak perlu khawatir. kita tunggu saja sampai maghrib ya Al, Din....
Siapa tahu nanti masih ada yang mau beli."
Lalu lalang orang-orang yang ngabuburit mulai berkurang, beberapa dari mereka masih ada yang berkenan membeli kolak.
Tiba-tiba mataku menatap seseorang yang mengendarai sepeda motor matic dari arah selatan. Di jok belakangnya nampak membonceng perempuan paruh baya dengan dandanan agak menor dan mengenakan baju ketat yang semakin memperjelas lekukan lemak di balik kulitnya.
"Bap ... Bappak," panggilku lirih.
"Apa aku tidak salah melihat ya," netra matakuku membuka sempurna, memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Kusenggol Adinda yang berdiri di sampingku dengan bahuku.
"Din, coba kamu lihat pengendara motor matic yang menggunakan jaket kulit hitam dan membonceng perempuan dengan kaos ketat hitam dari arah selatan itu."
Ujung jariku menunjuk ke arah orang tersebut diikuti pandangan Adinda.
"Mbak Alya, bukannya itu bapak ya?"
Belum sempat aku menjawab, Dinda sudah berteriak.
"Bapaaak, Bapaaak!"
Seseorang yang dipanggil Bapak itu menoleh ke arah kami. Ia, dia benar Bapakku.
Melihat orang yang dipanggil itu menoleh, Adinda semakin mengencangkan panggilannya sambil melambaikan tangannya.
"Bapaaak, sini Pak, ini Dinda dan Mbak Alya!"
Orang yang dipanggil Bapak itu benar Pak Adnan, Bapaknya Alya dan Adinda. Tetapi Pak Adnan hanya melambatkan motornya dan menoleh sebentar, lalu ia memacu motornya lagi lebih cepat. Meninggalkan anak-anaknya begitu saja. Adinda menangis sesenggukan.
Emak yang baru saja datang dari membeli nasi bungkus untuk persiapan berbuka mereka, kaget melihat Adinda yang menangis.
"Kenapa ini kok anak Emak yang cantik menangis, digangguin Mbak Alya ya?"
"Tidak Mak, tadi kami melihat Bapak lewat di depan kita, tapi Bapak hanya menoleh sebentar ke arah kami dan tidak mau berhenti, padahal Dik Dinda berteriak-teriak memanggil. Mengapa Bapak sudah melupakan kita Mak, padahal Alya kangen sekali dengan Bapak." Alya menjelaskan dengan menahan agar butiran air tidak jatuh dari matanya.
"Haaahhh," entahlah Nduk," jawab Emak sambil menghembuskan beban berat di dadanya.
"Alya benci Bapak!"
"Dinda juga!"
"Ehmmmm, anak-anak Emak yang cantik, tidak boleh begitu, kalian harus tetap menghormatinya, bagaimanapun juga dia itu Bapakmu.
"Tidak, pokoknya Dinda benci Bapak!"
"Coba kalian dengar Emak ya, biarkan Bapakmu seperti itu, sebab semua orang di akhirat nanti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Alloh, tidak terkecuali Bapakmu. Ketika kalian rindu pada Bapakmu sedangkan Bapak mengabaikanmu, maka selama itu pula ia di akhirat nanti akan di siksa, bahkan tiap tetes dari air mata kerinduan kalian nanti juga akan diperhitungkan dengan beratnya siksa yang setimpal untuk Bapak yang melupakan anaknya. Dan apakah kalian tau berapa lama waktu di akhirat?
Satu hari di akhirat itu sama dengan seribu hari di dunia. Jadi jika lamanya kalian rindu pada Bapak itu dua hari, maka siksa itu juga dua hari di akhirat yang berarti menjadi duaribu hari. Allohu a'lam, itu yang Emak tahu dari guru ngaji Emak dulu.
Yang penting, kalian tidak boleh membenci Bapakmu, sebaliknya kalian do'akan saja Bapak supaya segera sadar dan dosa-dosanya di ampuni Alloh, selebihnya biar Alloh sendiri yang akan menilai dan mengadili Bapakmu. Percayalah, Alloh itu maha adil."
"Terimakasih ya Mak, atas nasehat-nasehat yang membuat Alya tenang."
Tidak terasa, jalanan mulai sepi. Orang-orang yang ngabuburit sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Ayo kita berbuka puasa, itu sudah terdengar adzan maghrib, tadi Emak sudah beli nasi bungkus, setelah itu kita sholat maghrib di sini kemudian pulang."
Setelah selesai sholat maghrib, mereka memasukkan dua puluh bungkus kolak yang tersisa hari ini.
"Mak, kolaknya ini terus mau kita apakan?" tanya Alya.
"Kita kasihkan saja ke panti asuhan ya, setahu Emak di sebelah selatan setelah empat rumah dari sini ada panti asuhan kecil,"
"Iya Mak,"
Sebelum jalan menjadi lebih gelap, Bu Fatimah, Alya, dan Adinda segera menuju ke panti asuhan untuk memberikan kolak yang hari ini tidak habis dijual, kemudian mereka segera pulang ke rumah kardus, istana mereka satu-satunya.
Bersambung ....
Komentar
Posting Komentar