Pagi itu, riuh sekali suasana di rumahku. Alfata anak keduaku masih bingung mencari kaos kakinya yang ketlisut, sambil berteriak-teriak dia bingung mencari dari laci satu ke laci yang lain.
Elvita si adik tidak kalah heboh, ia menangis, mainan pembatasnya ada yang hilang satu. Sementara aku sendiri masih sibuk menyiapkan makan pagi sebelum aku harus bersiap menuju tempat tugasku.
“ Ma! Cepetan bantu aku mencari kaos kaki!” teriak Alfa.
“ Mama masih menggoreng telur, nanti gosong kalau ditinggal, coba kamu cari di laci tempat kaos kaki adik!” teriakku dari dapur.
“ Ma! Mama lihat tidak mainan pembatasku yang bergambar Putri Ana?” teriak Elvita dari ruang tengah.
“ Mama tidak melihatnya sayang, semalam habis main kamu taruh mana?.
Kehebohan itu masih terus berlangsung sampai jam sudah menunjukkan pukul 06:15 WIB.
“ Sudah-sudah, sekarang Alfata dan Elvita segera sarapan. Sebentar lagi Mbak Gik datang siap mengantarkan, nanti pulang dari kantor Mama belikan lagi kaos kaki dan pembatas!” aku membuat keputusan cepat dan segera memberi intruksi kepada anak-anakku supaya segera sarapan dan bersiap pergi ke sekolah, karena aku sendiri harus segera mandi dan bersiap-siap juga pergi ke tempatku mengajar.
Anak-anakku bergegas mengambil sarapannya. Aku sendiri menuju kamar mandi. Setelah duapuluh menit menyiapkan ini dan itu sambil setengah berlari-lari, akhirnya aku sudah selesai mempersiapkan diri, begitupun dengan anak-anakku.
Kulirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06:45 WIB, segera kuciumi anak-anakku sekalian kami saling berpamitan menuju sekolah masing-masing.
Beruntung sekali tempatku mengajar tidak jauh dari rumah, cukup sekitar 7 menit sudah bisa sampai di sekolah.
“Huufftt, Alhamdulillah,” aku menghela nafas dengan lega begitu selesai absen finger print tepat di jam 06:55 WIB. Begitulah stresing hampir di setiap pagi, seru dan sedikit melelahkan, tetapi sebagai seorang Ibu yang juga mempunyai tugas mulia sebagai Pendidik aku menikmatinya.
Dulu, aku sangat memimpikan menjadi seorang Dokter. Tetapi mimpi itu harus aku kubur dalam-dalam karena takdir Alloh berbicara lain. Selepas dari MAN 1 Jember aku mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang melalui jalur PMDK, karena aku termasuk lulusan terbaik saat itu. Tetapi ternyata aku tidak diterima di fakultas tersebut.
Kemudian Ibu mengambil kemudi atas diriku dan didaftarkannya pada fakultas Pertanian, dengan dalih kelak setelah lulus aku bisa menyusul ke tempat tugas Ayahku di Palu Sulawesi Tengah untuk mengelola kebun sawit serta kebun cokelat di sana.
Aku yang saat itu sudah hampir putus asa menurut saja apa saran Ibu, walau hati menjerit tidak menerima.
Tahun pertama aku menjadi Mahasiswa Pertanian, hatiku masih limbung. Beruntung saat itu aku didekati seorang kakak tingkat yang sangat baik dan pintar, ia seolah melihat potensi yang ada padaku. Ia terus memberi semangat dan menuntunku melewati masa-masa sulit itu. Satu pesannya yang sampai saat ini aku ingat adalah “di manapun kamu di tanam, di situ kamu harus tumbuh dan berkembang, Alloh pasti punya rencana sendiri yang lebih baik sehingga kamu tidak di terima di Fakultas Kedokteran dan akhirnya masuk di Fakultas Pertanian, jadi ikuti saja dan yang terpenting lagi ada ridlo Ibumu di sana.”
Saran-sarannya yang menyentuh hati, mampu membuatku bangkit, hingga pada puncaknya aku mampu meraih IPK 4,00 meski juga aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa saat itu.
Tiga setengah tahun aku menyelesaikan S-1 di Fakultas Pertanian, sekali lagi takdir Alloh yang unik membawaku keluar dari Banyuwangi kota kelahiranku menuju ke kota angin Nganjuk.
Di kota inilah Alloh mempertemukan jodohku. Di kota ini pula aku mendapat kesempatan mengajar Biologi di sebuah Madrasah Aliyah Negeri. Untuk menyesuaikannya, aku menyempatkan untuk kuliah lagi.
Ternyata karirku sebagai Guru dapat berkembang dengan baik, predikat ASN dan Guru bersertifikasi dengan mudah bisa diperoleh dengan izin Alloh, dan yang lebih penting lagi akhirnya dengan sedikit ilmu yang kumiliki, aku mampu mengantarkan siswa-siswi menjadi Dokter, walau aku sendiri gagal menjadi Dokter.
Bisa jadi semua ini terjadi tidak lepas karena ada ridlo Ibuku yang sangat senang pilihannya aku ikuti meski dalam hati juga sempat menolaknya.
Aku dikarunia tiga orang anak yang semua ku rawat sendiri, karena ayahnya terlebih dahulu telah meninggalkan kami. Maka puncak dari mimpiku sebagai single parent saat ini adalah mampu membesarkan, mendidik, dan mengantarkan anak-anak dengan tanganku, menjadi anak-anak hebat yang mampu meraih mimpi-mimpinya.
Aku akan bersujud syukur dan bertepuk tangan paling keras ketika anak-anakku nanti meraih Toga Wisudanya, dan hati ini akan senantiasa menangis syukur ketika melihat anak-anak mampu memberikan manfaat yang baik untuk Agama dan Bangsanya.
Itulah mimpi terhebatku sebagai ibu, menjadi Kartini bagi anak-anakku. Sesederhana itu!.
Selamat memperingati hari Kartini.
Sungguh wanita yang tangguh. Kartini sejati 😊👍
BalasHapusSungguh wanita yang tangguh. Kartini sejati 😊👍
BalasHapusHebat, sbg ibu, guru dan bangsa indonesia.... Be an eagle mom...
BalasHapusIiiiihhh, semua komennya bikin meleleh, tq for all. Mmmmmmuuuaaacch
BalasHapusWuih, keren abis. Semangat Kartini tenan iki.
BalasHapusPanjengn tentu jg sbg kartini bagi klg njengn,sip
HapusKalo boleh tau ngajar nya di Man Nganjuk mana Bu ? Ngelawak atau Jatirejo ?
BalasHapusMAN 1 Nganjuk, dulu MAN Nglawak.
HapusKeren ini, poin penting yang bisa diambil 'dimana pun kamu ditanam, harus tetap tumbuh subur' serta 'ridho ibu'
BalasHapusSemakin sukses ibu, keridhoanmu kebahagiaan putra-putri
Terimakasih, semoga bunda jg demikan
BalasHapusAh, meleleh
BalasHapusBarakallah bundaa