Langsung ke konten utama

TEROR NINJA DI TAPAL KUDA -3


    TEROR NINJA DI TAPAL KUDA
                    (Part -3)

Semakin hari, kabar adanya teror ninja makin meluas di beberapa daerah tapal kuda. Daerah tersebut adalah daerah pinggiran pada batas-batas wilayah timur Jawa Timur, yaitu Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Malang.

Aku mencoba mencari tahu, apa yang menjadi pemicu munculnya para ninja, serta keterkaitannya dengan aksi mahasiswa berdemonstrasi menuntut reformasi.

Sebagai salah satu wartawan di majalah kampusku, naluri untuk mencari berita begitu kuat, mendorong segenap keberanianku untuk mencari titik terang atas semua yang terjadi, walau dalam hati kecilku, itu hal yang tidak mudah bahkan nyaris tidak mungkin aku ungkap, karena ini bukan peristiwa biasa, melainkan peristiwa besar yang melibatkan banyak elemen, sarat muatan politik, dan luasnya kejadian.

Akan tetapi, aku terus mencoba menggali, setidaknya aku bisa menemukan benang merah atas semua yang terjadi, untuk diriku sendiri.

Berdasarkan sendikit informasi yang aku peroleh di lapangan, asal mula teror ninja ini adalah adanya kebocoran perintah dari penguasa daerah setempat melalui sebuah radio gram, untuk melakukan pendataan tentang orang-orang yang di duga mempunyai keahlian sebagai dukun santet.

Entah untuk tujuan apa perintah tersebut. Akan tetapi, karena kurangnya kehati-hatian, perintah melalui radio gram tersebut bisa bocor kepada masyrakat.

Dari situlah, massa bergerak sendiri dengan melakukan penangkapan pada orang yang diduga sebagai dukun santet.

Yang aku tidak habis pikir, mengapa kemudian muncul ninja-ninja itu, dan korbannya justru orang-orang yang menjadi tokoh masyarakat setempat, atau guru ngaji. Ah ... terlalu rumit menemukan keterkaitan antara keduanya.

Aku menggigit ujung pulpenku, mataku menerawang jauh ke depan. Mencari jawab pada sesuatu yang gelap.

Klothak!
Pulpenku terjatuh di atas meja. "Ah, bapak mengagetkanku saja!"

"Kamu serius banget, Nduk ... mikir opo?" tanya bapak.

"Masih tentang ninja itu, Pak."

"Wes ora usah melu mikir, yang penting kita semua harus hati-hati. Kamu juga jangan ikut mencari tahu, ini terlalu berbahaya.

Oh, iyo Nduk. Semalam ketika bapak lagi berkumpul bersama warga di masjid, beberapa orang melihat ada sosok berkelebat mengintai kami."

"Hah! Yang bener, Pak? bagaimana ceritanya?"

"Bapak mau cerita, tapi kamu harus janji nggak usah cerita ke siapa pun, termasuk ibumu, nanti ibumu malah ketakutan."

"Inggih, Pak."

"Sosok itu terlihat memakai baju serba hitam dan bercadar, sudah banyak warga yang pernah melihatnya dengan pakaian seperti itu, makanya di sebut ninja."

"Kenapa mereka satupun belum ada yang tertangkap?"

"Huust, jangan keras-keras. Kamu itu kebiasaan kalau lagi penasaran, ora iso kalem."

"He he, inggih Bapak, terus bagaimana selanjutnya?"

"Orang-orang yang berpakaian seperti ninja itu, bukan orang sembarangan. Mereka bisa bergerak sangat cepat, melompat dari atap rumah satu ke rumah yang lain. Mereka bergerak cepat untuk mengintai dan membunuh targetnya."

"Masa sih, Pak. Hari gini ada orang seperti pendekar zaman dahulu?"

"Begitulah yang dilihat warga. Kamu tahu Ustadz Zulkifli, dari desa tetangga kita?"

"Eemm ... bapaknya Laila temanku?"

"Betul."
"Kenapa, Pak?"

"Beliau subuh tadi ditemukan warga digantung di pinggir kali Stail dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Kepalanya hampir putus." Pada kalimat terakhir bapak memelankan suaranya setengah berbisik.

"Astaghfirulloh, apa benar itu, Pak?"

"Begitulah, Nduk."

Mendadak perutku mual, membayangkan kondisi Ustadz Zulklifli yang kepalanya nyaris putus, aku ingin menangis, tetapi air mata ini tidak dapat keluar. Rasa marah bercampur kesedihan atas kematian bapaknya temanku, membuat dadaku sesak. Aku ingin berteriak! Tapi mulutku seperti terkunci. Akhirnya aku sadar, bahwa kemarahanku tidak akan menyelesaikan apa pun.
----
Sore ini, bapak mengumpulkan aku dan ibu di musholla rumah kami.

"Bu, tolong bambu kuning ini selalu ibu bawa, dan selepas isya' nanti Ibu dan Ana perbanyak membaca dzikir yang kemarin bapak sampaikan, hasbunalloh wa ni"mal wakil ni'mal maula wa ni'mannashiir sebanyak-banyaknya.

Dzikir dan bambu kuning ini, ijazah dari Kyai Harun kepada seluruh warga desa kita. Melalui wasilah dzikir dan melalui bambu kuning ini, menurut Kyai Harun, kesaktian ninja itu bisa luntur. Jadi jika siapapun melihat ninja itu, langsung pukul dengan bambu kuning tersebut.

Hal ini bukan syirik, tapi ini sebentuk ikhtiar kita menjaga keselamatan, dan tetap kepada Alloh kita memohon pertolongan. Setelah isya' nanti, seperti biasa bapak akan berjaga-jaga di pos depan dengan tetangga kita. Laki-laki akan lebih aman kalau di luar rumah dan bersama-sama, tetapi kalian jangan keluar rumah sampai bapak datang."

Setelah mengatakan itu, bapak pamitan menuju pos ronda.
----
"Lho, Bu. Jaket bapak ketinggalan, padahal bapak tidak bisa terkena angin malam, bisa kambuh asmanya, bagaimana ini Bu?" tanyaku panik pada ibu.

"Terus piye, Nduk?" ibu menggaruk-garuk kepalanya.

"Ana nyusul bapak saja, mumpung belum jauh."

Tanpa menunggu persetujuan ibu, aku segera menyambar jaket bapak yang ditaruh di kursi dan berlari keluar rumah.

Beruntung dari jarak sekitar 3 meter, aku masih melihat punggung bapak yang berjalan ke arah pos ronda.

"Pak! Jaket bapak ketinggalan!"
Bapak menoleh ke arahku.

Sreet!!
Tiba-tiba tangan bapak menarik tubuhku lalu menyeret dengan cepat ke pos ronda yang memang tinggal beberapa langkah lagi.

"Kamu jangan bersuara, coba kamu lihat di atas atap masjid itu." Bisik bapak di telingaku.

Aku nyaris berteriak ketika melihat atap masjid.

Sosok berpakaian hitam seperti ninja sedang berdiri di sana, menatap ke arah selatan, berlawanan dengan posisiku dan bapak.

Ternyata warga  lain yang sudah ada di pos ronda juga melihatnya.

"Tangkap! Itu dia biang onarnya, ayo cepat! Jangan sampai lepas!" teriak salah satu warga.

Dalam hitungan detik, tiga orang sudah menghambur lari mendekati masjid.

Sosok seperti ninja itu menoleh sesaat ke arah warga yang berteriak tadi.

Wuuusssh....
Dengan entengnya sosok tersebut melompat seperti terbang ke arah selatan, menuju persawahan.

Kepergian sosok tersebut meninggalkan bekas seperti asap putih. Ketiga orang yang mengejar tadi langsung berhenti dan menatap dengan heran.

Begitupun aku, hanya melongo saja melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri.

"Kamu duduk dulu, An. Minum air putih ini supaya tenang, nanti kamu bapak antar pulang."

Aku tidak menyahut kata-kata bapak karena sangat ketakutan, tubuhku seperti tidak bertenaga, dan menurut saja ketika digandeng bapak untuk duduk di pos ronda.

Bersambung ....

Komentar

Posting Komentar