Langsung ke konten utama

AIMO &BUNNYHEAD

       AIMO, BUNNYHEAD,&SQUISHI

"Bu! Teman-teman Bela semua sudah punya jam tangan aimo, bunnyhad, dan squishi yang lucu. Bela juga ingin punya seperti teman-teman itu."

"Iya, Nak. InsyaAlloh Ibu belikan ya, tapi Bela harus sabar dulu, sebab Ibu masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan." Aku tersenyum sambil mengacak lembut rambut poni Bela.

Anakku mengangguk mencoba memahami, lalu ia pamit bermain lagi dengan teman-temannya.

Sepeninggal Bela, aku duduk termangu di kursi jahit. Ada rasa pedih yang menyayat hati. Sebenarnya aku bukan sedang banyak pekerjaan sehingga menunda membelikan jam tangan aimo, bunnyhad dan squishi, tetapi itu hanya alasanku semata. Tidak punya uang, itulah sebab yang sebenarnya.

Dengan langkah gontai, aku mengintip Bela yang sedang bermain dengan teman-temannya. Anakku hanya duduk-duduk saja, jelas sekali ia sangat ingin ikut memainkan benda-benda mainan itu.

Sementara teman-temannya menari dan bergaya dengan bunnyhad masing-masing. Sesekali mereka juga saling memperlihatkan jam tangan aimo dan squishi.

Dadaku serasa sesak, sungguh ada pedih yang menyeruak. Sebagai seorang ibu, tentu aku juga ingin menyenangkan anak dengan sesekali memenuhi keinginannya.

Tapi selama ini, aku belum mampu membelikan mainan atau sesuatu yang membuat senang anakku, seperti beberapa tahun yang lalu, anakku hanya mampu melihat temannya bermain sepatu roda, sedang aku tak mampu membelikannya.

Ongkos jahit yang aku terima, hanya cukup untuk makan sehari-hari dan membayar listrik. Bela sangat memahami itu, sehingga ia tidak pernah memaksa minta dibelikan jika ia menginginkan sesuatu.

Air mata ini luruh tanpa permisi, menganak sungai di pipi yang sudah mulai muncul banyak keriput. Aku membiarkan pipi ini basah, setidaknya air mata itu dapat membantu membasuh segenap kepedihanku.

Anakku, tahukah kamu, kalau sesungguhnya ibumu ini sangat ingin membelikanmu jam aimo, squishi, dan bunnyhead? Tetapi, kau juga tahu uang ibumu tak akan cukup untuk membelinya, dan kamu dapat memahami keadaan ibu dengan sikapmu yang penurut tanpa banyak menuntut.

Karena hal ini pula, ibumu untuk kesekian kalinya menangis, menangis karena tak mampu menyenangkanmu, walau hanya dengan bunnyhead imitasi sekalipun. Maafkan ibu, Nak, yang hanya mampu memberikan hatiku untukmu, bersama do'a-do'a yang senantiasa terucap kulangitkan.

Komentar

  1. Doa ibu sangat mujarab, mungkin saat ini belum dimampukan tapi berkat doanya InshaAllah menemukan kebahagiaan kelak

    BalasHapus
  2. Insha allah dimampukan. Kelak Allah bukakan pintu rejeki. Aamiin.

    BalasHapus

Posting Komentar