Langsung ke konten utama

TEROR NINJA DI TAPAL KUDA-2


  TEROR NINJA DI TAPAL KUDA
                    (Part-2)

Sejak mendengar berita tentang keluargaku dari Fajar, aku semakin tidak tenang. "Aku harus pulang, harus. Aku harus menghadapi keadaan ini bersama keluargaku."

Bis Akas yang membawaku dari Malang ke Banyuwangi serasa berjalan lambat, aku mencoba memejamkan mata untuk membunuh rasa bosanku.

"Koran, koran...ditemukan mayat tanpa kepala korban ninja!" teriak penjual koran mengusir rasa kantukku.

Karena penasaran, aku membeli koran itu. "Berapa korannya mas?"

"Seperti biasanya, Mbak."

Aku mengeluarkan beberapa lembar uang seribuan dan menyerahkan pada penjual koran.

"Satu lagi korban ninja ditemukan tanpa kepala di Banyuwangi."

Headline berita itu membuat mataku nanar, segera kubaca dengan jantung berdebar-debar. Berharap korban itu bukan keluargaku.

Beberapa warga terlihat sedang mengerumuni korban di foto berita tersebut.

Sreeet!.....
Aku memalingkan muka dari gambar berita ninja.
"Biadab! Ini sudah tidak manusiawi lagi, sebenarnya apa yang menjadi tujuan ninja-ninja itu?" aku mengumpat dengan geram.
-----
"Ya Alloh, Nduuuk ... kenapa kamu pulang? Sudah ibu bilang, di sini tidak aman!" ibu menyambut kedatanganku dengan raut cemas.

"Sama juga, Bu. Di Malang juga mulai ada teror ninja, tapi memang belum segawat di sini, aku juga takut, Bu."

Kami saling berpelukan. Tidak lama kemudian bapak datang dan ikut memelukku.

"Pak, bapak tahu kenapa semua ini terjadi?" tanyaku.

Bapak menatap lurus mataku sejenak, lalu memberiku isyarat untuk mendekat.

"Begini, Nduk. Menurut yang bapak dengar dari beberapa orang kepercayaan bapak, suasana chaos ini sengaja diciptakan," suara bapak lirih.

"Diciptakan? oleh siapa dan untuk apa?!"

"Huuust, tahan suaramu!" jari telunjuk bapak ditempelkan ke mulutnya, memberi isyarat diam kepadaku.

Entah ini berita benar atau salah, yang bapak dengar peristiwa ini ada kaitannya dengan maraknya demo mahasiswa di berbagai kota beberapa waktu yang lalu."

"Apa kaitannya, Pak?"

Krosak! krosak!
Belum sempat bapak menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ada suara kemeresak dari atap rumah.

Aku dan bapak saling bertatap mata, bapak kembali memberi isyarat diam, waktu itu baru saja menjelang Isya'. Ibu yang semula menderas Al Qur'an di ruang tengah, datang mendekat ke arah aku dan bapak.

Hening.
Tak satupun dari kami yang berbicara. Suasana menjadi sangat tegang. Bapak terlihat waspada sambil terus memutar tasbih yang dibawanya sejak tadi. Ibu juga terlihat komat-kamit berdo'a. Aku merapatkan tubuh pada bapak dan ibu, meringkuk mencari ketenangan di sana.

Tok, tok, tok!
Pintu depan diketuk seseorang dengan keras.

Kami saling berpandangan. Diam tidak ada yang bersuara, ibu mengangkat tangannya dan berdo'a. Aku gemetaran, tanpa sadar tanganku mencengkeram kuat sarung yang dikenakan bapak.

"Assalamu'alaikum, Haji Ridwan! Saya Pak Misbah."

"Uuft..."
Serempak kami menghembuskan nafas lega.

Bapak bergegas menuju ke pintu.
"Wa alaikum salam, ada apa, Pak?"

"Panjenengan ditunggu Pak Lurah dan Kyai Mustofa di masjid Baitul Mutaqqin."

"Oh, iya. Saya hampir lupa, kalau malam ini akan ada musyawarah dengan warga, tunggu sebentar ya...."

Bapak membalikkan badan menghampiri aku dan ibu.
"Bu, Ana, kunci pintu rapat-rapat. Jangan sesekali keluar rumah dan membukakan pintu jika ada yang datang, kecuali bapak sendiri. Jangan lupa terus baca dzikir hasbunalloh wani'mal wakil, ni'mal maula wa ni'mannashiir."

"Inggih, Pak."
Setelah bapak pergi, pintu segera kami tutup dan dikunci rapat-rapat. Aku ikut berbaring di kamar ibu, karena lebih aman jika kami bersama-sama.
------
"Hati-hati kawan! Kita jangan sampai terprovokasi. Kita tetap lakukan aksi ini dengan long march secara damai. Perjuangan kita tetap satu tujuan, tegakkan reformasi!" suara Bang Andi lantang dengan mikrophone di tangan.

"Awas, Kawan. Jangan sampai keluar dari barisan. Kita akan segera menyatukan suara kita bersama mahasiswa se Malang Raya di depan gedung DPRD. Sekali lagi, jangan ada yang keluar barisan selama long march ini, demi keselamatan kita!" teriak mahasiswa yang lain.

Beberapa mahasiswa juga sibuk membuat pembatas menggunakan tali rafia pada barisan mahasiswa yang long march dari arah Dinoyo menuju gedung DPRD kota Malang. Aku dan tiga temanku ada di barisan depan membawa spanduk yang bertuliskan Tegakkan reformasi, gantikan penguasa yang lama.

Hampir setiap hari jum'at, kami mahasiswa se Malang Raya melakukan aksi ini, begitu juga hampir seluruh mahasiswa di Indonesia. Meskipun pada jum'at sebelumnya beberapa kawanku sempat kena pukul para aparat, tapi kami tetap melanjutkan perjuangan.

Bahkan kabar terakhir yang kami terima, tentang beberapa kawan kami dari Universitas Trisakti yang telah menjadi korban penembakan, tidak menyurutkan perjuangan kami saat itu.

"Ah ... kejam sekali politik itu," dengusku.

"An! Kamu memikirkan apa?" pertanyaan ibu membunyarkan lamunanku tentang kejadian beberapa waktu yang lalu tepat sebelum peristiwa teror ninja.

"Ngga ada Bu, aku cuma memikirkan cerita bapak yang belum tuntas tadi," elakku.

"Sudahlah, kita berdoa saja, semoga semua segera membaik dan tidak ada korban lagi."

Aku mengangguk. Tetapi jauh dalam pikiranku masih berputar-putar cerita bapak tentang kemungkinan ada hubungannya antara aksi mahasiswa beberapa waktu yang lalu dengan teror ninja belakangan ini.

"Ah... entahlah."

Bersambung.....

Komentar

Posting Komentar