"Ayya, Alfa, Elvi! Ayo bantu Ibu beres beres. Ayya mengepel seluruh ruangan, Alfa merapikan tempat tidur, dan Elvi bantu Ibu di dapur." Aku membagi tugas pada anak-anak.
"Tumben Ibu ga sibuk dengan HP dan laptopnya, biasanya kan mantengin dua benda ajaib itu mulu tiap hari," ejek sulungku sambil nyengir.
"Sini-sini Ibu kasi tahu, kemarin-kemarin itu Ibumu ini sedang ikut tantangan menulis lo, coba bayangkan, tiap hari selama tiga puluh hari non stop sejak awal ramadhan sampai akhir ramadhan Ibu harus setor tulisan dengan tema yang berbeda dan sudah ditentukan oleh Penanggungjawab kegiatan." Jawabku dengan nada mendekati do tinggi dengan irama penuh semangat.
"Yaelaaahh, apa asiknya juga ikut tantangan nulis? Lebih asik main game kalllee," Alfa ikut menimpali.
"Yeee, ni anak. Main game itu kalau sudah kecanduan malah ga bagus, lebih bagus kalau kecanduan membaca dan menulis. Coba kamu bayangkan, dengan menulis kamu bisa menjadi apa saja dan di mana saja, kerennya lagi dengan menulis sedikit atau banyak bisa menginspirasi dan memberi warna kebaikan pada orang lain."
"Emangnya tulisan kita mesti ada yang membaca?"
"Pastilah ... kata senior ibu, Kang Winarto Sabdo setiap tulisan itu akan menemukan pembacanya sendiri. Jadi bagi penulis yang penting menulis, menulis, setelah itu lupakan."
"Ooo, gitu ya, Bu." Jawab Ayya dan Alfa kompak.
" Sudah-sudah, kok malah jadi ngobrol, sana lakukan tugas yang tadi sudah Ibu berikan."
"Siap, Ibuku yang mimpi jadi penulis...."
"Eee, ini anak malah ngeledek." Mataku melotot ke arah Ayya dan Alfa. Kedua anak itu segera berlari sambil tertawa-tawa.
Aku mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat opor dan berbagai menu masakan yang lain. Sore ini adalah sudah akhir ramadhan, berarti esok sudah lebaran.
Sebelum diriku berjibaku di dapur, aku menyempatkan membuka blog yang aku buat untuk menyimpan dan mempublikasikan tulisan-tulisan recehku.
Aku tersenyum sendiri. Baru sekitar tiga bulan yang lalu aku bergabung dengan KOPLING (Komunitas Pecinta Literasi Nganjuk) untuk "menfasilitasi" kegemaranku menulis, kemudian atas bimbingan senior-seniornya aku mulai menuangkan ide-ideku menjadi tulisan.
Awal ramadhan ini, seniorku di KOPLING memberitahukan ada event Ramadhan Writing Challenge RWC), one day one post. Di mana setiap peserta harus membuat tulisan sesuai dengan tema yang ditentukan penyelenggara selama tiga puluh hari penuh dan tulisan tersebut harus dipublikasikan. Bagiku ini merupakan ajang uji nyali dan mengasah kemampuan menulisku sebelum aku layak dinisbatkan sebagai penulis.
Aku yang benar-benar masih merangkak memasuki dunia literasi dengan modal nekat menerima tantangan itu.
Pusing? Bingung?...
Pasti.
Secara setiap hari harus membuat karya tulis dengan berbagai genre. Neg, kalau hanya membayangkan saja. Selain ibu rumah tangga aku juga seorang guru di sebuah Madrasah Aliyah Negeri, belum lagi aktifitas-aktifitas yang lain. Rasanya sudah mau menyerah saja saat itu. Satu yang membuat aku harus tetap semangat untuk menaklukkan tantangan itu adalah impianku untuk tetap bisa menghasilkan karya tulis yang bermutu sampai saat pensiun nanti, betapa kerennya aku (bayanganku sendiri, hehe) masih bisa pamer tulisan yang ciamik di depan cucu-cucuku nanti. Wow sekali bukan?
Selama perjalanan tiga puluh hari menyelesaikan RWC tentunya tidak mulus begitu saja, sering juga otak ini tiba-tiba blank, tidak ada ide sama sekali. Kalau sudah begitu aku menonton tv, membaca koleksi buku-bukuku dan mengamati polah tingkah orang-orang yang ada di sekitarku, kalau sudah begitu biasanya i have a idea.
Lucunya lagi, jika otak ini lagi encer, mendengar orang kentut saja atau melihat sesuatu yang menurutku keluar dari zona kelaziman langsung otakku merespon dalam bentuk untaian kata menjadi kalimat dan mengalir begitu saja menjadi tulisan.
Sekali lagi aku tersenyum sendiri, melihat puluhan judul sudah tersimpan rapi di file blog pribadiku. Dalam hati ada rasa tidak percaya, ternyata aku bisa menciptakan sebuah karya tulis.
Ada rasa haru dan senang, ketika tulisan yang aku publikasikan diapresiasi dengan baik oleh pembaca. Segala bentuk apresiasi itu semakin memompa semangatku untuk terus belajar dan mendalami dunia literasi.
Dengan Pencapaian saat ini apakah aku puas?
Tidak. I have a dream. Saat ini aku masih jauh dari mimpi yang hendak kuraih, jadi selesai wisuda RWC nanti masih banyak PR belajar yang harus aku kerjakan. Tantangan di RWC ini masih permulaan.
Di penghujung ramadhan ini, puji syukur tak terkira memenuhi ruang hatiku. Aku akan memperoleh dua kemenangan. Kemenangan mengendalikan hawa nafsu selama berpuasa, meski tentunya masih jauh dari sempurna. Dan kemenangan menakklukkan kemalasan dan ketidakpercayaan diriku selama ini untuk menuangkan ide-ideku melalui sebuah tulisan.
Ya... Esok akan kusambut lebaran dengan penuh syukur dan suka cita. Lebaran yang menjadi titik balikku di dunia literasi. Lebaran yang akan selalu ku kenang sampai raga ini saatnya diminta kembali oleh pemilikNya.
Komentar
Posting Komentar