Usai maghrib suasana Panti Asuhan Kasih Bunda masih ramai, anak-anak penghuni panti sedang menikmati waktu santai sambil menunggu isya' dan tarawih. Ada yang membaca Al qur'an, ada yang membaca komik, dan ada yang sedang berkejar-kejaran dengan temannya.
Panti Asuhan Kasih Bunda adalah Panti Asuhan yang dikelola secara mandiri oleh salah satu dosen Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya, ada sekitar 15 anak yang diasuh di sana, sebagian besar anak itu menjadi penghuni panti sejak bayi karena diterlantarkan oleh orang tuanya dan dibuang begitu saja tanpa belas kasihan dan ada juga yang dipungut dari jalanan.
Sampai di depan panti, Bu Fatimah menekan bel yang terdapat di samping kiri pagar besi berwarna coklat tua yang tidak terlalu tinggi. Beberapa saat kemudian tampak seorang ibu-ibu yang umurnya sekitar limapuluhan tahun tergopoh-gopoh menuju gerbang.
"Assalamu'alaikum." Sapa Bu Fatimah begitu melihat Ibu tersebut membukakan pintu gerbang.
"Wa alaikum salam wa rohmatulloh". Jawab Ibu itu ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
"Eeeh, begini ... beberapa hari di bulan puasa ini saya jualan kolak di sebelah utara panti kalau sore, kebetulan hari ini masih banyak, dari pada mubadzir, jika diperbolehkan kolak-kolak ini akan saya berikan kepada anak-anak panti, boleh ya, Bu?"
"Oh, boleh-boleh, dengan senang hati. Kebetulan juga anak-anak tadi tidak kami buatkan camilan, hanya ada irisan semangka saja. Kalau boleh tahu, siapa nama Ibu?"
"Saya Fatimah, dan ini anak saya Alya dan Adinda."
Alya dan Adinda segera mencium tangan Ibu itu dengan takdzim.
"Wah, anak-anak yang manis dan baik, perkenalkan juga, saya Bu Zainab."
"Baiklah Bu, kami harus segera pulang sebelum terlalu malam. Terimakasih telah berkenan menerima pemberian kami yang tidak seberapa."
"Sama-sama Ibu, itu sudah cukup menyenangkan anak-anak itu. Semoga Alloh membalas kebaikan Ibu dengan sebaik-baik balasan dan memberi ganti yang lebih banyak."
"Aamiin, jawab Bu Fatimah, Alya, dan Adinda bersamaan.
"Mari Bu Zainab, Assalaa'mualaikum".
"Wa alaikum salam wa rohmatulloh."
Dengan berjalan kaki, Bu Fatimah dan anak-anaknya bergegas pulang, tidak banyak percakapan di antara mereka. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya, terutama Alya. Dia tidak habis pikir mengapa Bapak melupakannya, mengapa juga Emak begitu sabar menghadapi semua ini.
Sekitar pukul tujuh malam, meraka sampai di rumah. Kemudian mereka bergegas ke kamar mandi umum yang terdapat di sekitar Tempat Pembuangan Sampah, setelah membersihkan diri dan berwudlu, mereka menjalankan sholat Isya' diimami Bu Fatimah.
Seperti biasanya, selepas isya' mereka ngobrol-ngobrol sambil rebahan di kamar satu-satunya, sebab tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. Selain tidak ada televisi, lampu listrik juga terbatas.
"Al, Dind... kalian lihat ga anak- anak yang di panti tadi?" Tanya Emak.
"Iya, Mak, mereka masih kecil-kecil semua sebaya dengan Dik Dinda."
"Bukan itu saja Al, mereka itu sebagian besar tidak pernah tahu siapa orang tuanya."
"Karena mereka ditinggal mati orang tuanya Mak?"
"Tidak, Al ... anak-anak itu adalah anak-anak yang dibuang orangtuanya, ada yang ditemukan di depan masjid, ada yang ditemukan di depan rumah warga, dan lain-lain."
"Kasihan sekali ya, Mak...."
"Iya,Nduk. Makanya kamu harus bersyukur, meski Bapakmu mungkin sudah melupakan kita, tapi kamu masih mempunyai Emak yang akan selalu menyayangi kamu dan Adinda."
"Iya, Mak, terimakasih. Aku dan Dik Dinda juga sangat menyayangi Emak. Dan kami bangga punya Emak yang luar biasa."
"Ya sudah, sekarang sudah semakin larut malam, ayo kita segera tidur."
-------
Pagi ini, cuaca mendung. Emak sibuk memarut kelapa, Aku mengupas singkong, dan Adinda mengupas pisang. Kami saling membantu untuk mempersiapkan kolak yang dijual nanti sore.
"Assalamu'alaikum"
Tiba-tiba terdengar suara salam dari depan rumah.
"Wa alaikum salam, coba Al kamu lihat siapa yang datang."
"Baik, Bu."
"Oh, Bu Zaenab, waduh... sebuah kehormatan sekali bagi kami dikunjungi Ibu, tapi kami bingung mau mempersilahkan Ibu duduk, kami tidak punya kursi, Alya tersipu."
"Ah, ga apa-apa Nak."
"Mak! ada Bu Zaenab..."
Tergopoh-gopoh Bu Fatimah ke ruang depan.
"MasyaAlloh Bu Zaenab, ada apa nggih kok sampai repot-repot ke sini?"
"Tadi saya habis dari rumah teman dan kebetulan lewat sini, sekalian saja saya mampir."
"Oh, begitu..."
"Sekalian saya mau menyerahkan ini, Bu. Kemarin Abahnya anak-anak beli tiga mukena ini untuk Bu Fatimah, Alya, dan Adinda. Sedangkan hasil jualan kolaknya Ibu simpan saja untuk keperluan yang lain."
"MasyaAlloh, terimaksih banyak Bu Zaenab, keluarga Ibu sangat baik kepada kami, semoga Alloh senantiasa melindungi dan memberi kebaikan untuk keluarga panjenengan." Dengan berkaca-kaca Bu Fatimah mengucapkan terimakasih.
" Ya sudah Bu Fatimah, saya mohon pamit."
"Monggo-monggo, sekali lagi terimakasih nggih."
------
"Alya, Adinda, cepat ke sini!" panggil Emak.
"Iya, Mak..." jawab Alya dan Adinda nyaris bersamaan.
"Nduk, tadi Bu Zaenab ke sini memberikan mukena untuk kita bertiga, dan hasil jualan kolak disuruh ditabung saja."
"Ya Alloh...kita dapat mukena gratis. Aku tidak lagi harus susah-susah mengumpulkan uang untuk membeli mukena."
" Nanti sehabis jualan, kita sebaiknya ikut tarawih di masjid kampus saja ya, Nduk...."
"Iya, Mak, aku jadi tidak malu lagi untuk ikut sholat tarawih berjamaah di masjid lagi, karena aku sudah punya rukuh baru." Teriak Alya girang.
"Eiiiit, tidak boleh seperti itu niatnya, kita tidak boleh mau jamaah tarawih karena mukena yang baru, Alloh tidak melihat mukena kita, tapi Alloh hanya melihat kesungguhan dan keikhlasan kita beribadah." Jelas Emak.
"Iya iya... maafkan Alya."
" Yee... minta maafnya tidak pada Emak, tapi dengan istihgfar, minta ampun pada Alloh, agar ibadah, puasa, dan tarawih kita diterima Alloh SWT."
Pagi yang mendung, ternyata tidak menghadirkan kegelapan pada keluarga Bu Fatimah, karena keluarga itu sedang diliputi kebahagiaan, mukena baru, dan rencana tarawih di masjid kampus. Surprise mukena yang tidak disangka-sangka.
"Baru tadi malam Emak memberikan 20 bungkus kolak yang tidak laku pada anak panti, dan pagi ini Alloh membalasnya dengan berlipat ganda. Sungguh rencana Alloh itu Maha unik. Berkah ramadhan tahun ini." Alya berbicara pada dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar